Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
ERIK VS RENO


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian.


Di pagi hari, sinta kembali tersiap untuk segera rapat pertemuan. Hingga di mana, ia mengingat pesan semalam. Jika Alea menerima nama seleksi sementara, seorang wanita karyawan baru.


[ Sin, sorry. Tolong handle dan pantau karyawan baru. Cecilia dia baru magang dan masa percobaan, aku baru liat data cv nya dari seleksi Erik. Tolong bantu ya! Aku akan menyusul dengan mas Theo.] pesan Alea.


Sinta saat mendengar itu, ia cukup terkejut karena suami dari sahabatnya itu telah kembali dan baik baik saja, setelah melewati banyak hal kritis.


Hingga di mana, Sinta harus menahan untuk menemui Alea di kediamannya, terkait masalahnya yang runyam.


DI KANTOR


"Sinta."


Terdengar panggilan seseorang dari arah depan. Sinta berdiri. Terlihat wanita cantik itu segera menoleh ke arah depan dan melihat ke arahnya. Dewi pun memberikan data berkas map hitam, memperkenalkan pada Sinta.


"Bu Sinta, ini karyawan magang baru." ungkap Dewi.


"Pagi bu, saya Cecilia." senyum hormat.


Dengan menatap erat, Sinta terlihat risih karena ia terlihat sangat feminin. Rok nya sangat tipis dan ketat. Hingga di mana, Sinta mengangguk dan meminta Dewi untuk mengantar karyawan baru ke ruang satu, ia harus kembali di seleksi dengan beberapa kandidat lain.


Hingga saat itu, sebuah mobil terlihat berhenti mendadak di ruang pertama. Seorang supir membuka pintu mobil, Dewi dan Sinta menelan saliva ketika Erik dan Reno datang dengan setelan jas rapih berwarna navy dan rompi yang elegan terlihat mewah.


"Eh, apa itu bos kita. Wah, ga sangka pak Erik bisa setampan pemilik perusahaan ini. Mirip komisaris atau ceo tuan Brian muda ya?" sapa Dewi pada Sinta. Namun Sinta segera masuk dan meminta karyawan magang dengan menegur untuk sadar.


"Hei, anak magang. Ngelamun aja, liat siapa? Jaga mata, niat mau kerja kan?" cetus Sinta.


"Ikh, bu Sinta galak amat." lirih Dewi dan mengekor, disampingnya.


Begitupun Cecilia ia mengekor, namun matanya masih melirik dua pria yang melewatinya saat mereka menyapa.


"Cewek kalo liat yang muda trus, ganteng pasti meleng ya. Kita lewat sana ya, siapa tau bisa liat wajah Bos yang baru!" ketus Sinta, ia sengaja karena tak ingin satu lift dengan Erik.

__ADS_1


Sinta merasa pusing dan mual, jika selalu melihat Erik bahkan jangkauan beberapa meter berdiri. Ia terasa mual luar biasa. Sebenarnya ia punya hati pada Erik, akan tetapi kesalahan satu malamnya dengan Reno, keponakan pak Venzo, membuat ia kesal bukan main.


Meski Cecilia menurut, tetap saja ia menoleh ke arah lobi yang berarah depan pintu lift. Ia masih sangat penasaran pada sosok pemuda yang sudah dibicarakan oleh teman temannya selama beberapa hari ini. Dia sangat ingin tahu karena hari ini dia tidak mengikuti acara penyambutan secara resmi, namun ia sungguh beruntung bisa di terima meski magang kelak, masih tahap seleksi.


Terlihat ada banyak punggung yang dilihat oleh Cecilia dan juga beberapa wajah petinggi perusahaan yang sudah dia kenal di layar berita. Tapi entah mengapa, mata Cecilia tertuju pada punggung dengan jas navy yang tampak sangat kokoh dan begitu menarik dibandingkan yang lain.


Sementara Sinta merasa aneh, kala anak baru itu melihat tatapan dan melirik Erik. Sinta pun membuang wajah, tak ingin banyak asumsi dan pikiran yang membuatnya ingin muntah.


"Punggungnya bagus amat ya. Pasti cakep juga hatinya, mirip orangnya." gumam Cecelia pelan. Hingga Sinta dan Dewi mendengar menohok kaget.


"Masa punggung bisa gambarin wajah. Anak baru ini aneh banget sih. Gue rasa dia cari jodoh, bukan niat gawe." ucap Sinta.


"Ya kan siapa tau Sin, punggung itu beda banget ama yang lain. Keliatan gagah dan sangat berwibawa. Gue yakin, dia kecantol antara pak Erik atau pak Reno." bisik ke telinga Sinta.


"Ya karena itu Bos barunya. Ntar juga lama lama tau wajah Bos baru. Tapi denger denger Bos baru kita tuh galak orangnya. Lebih cerewet dari bos kita dulu."


"Masa?" ledek Dewi.


Namun cekatan, Erik tiba saja datang dan menghadang untuk menahan Sinta. Erik sungguh menyukai sikap Sinta yang selalu menghindar dan terlihat tak seperti dulu.


"Sinta, kemarilah!" Erik segera duduk, dan melihat aksi sikap Sinta. Sinta pun segera membalikan badan.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Siapa dia?" menatap arah belakang Sinta.


"Dia, wanita pak." cetusnya, membuat Erik menaikan satu alis.


Eheeuuum!! Deheuman Reno membuat Sinta kembali lurus setelah menjawab dengan tidak fokus.


"Dia memang wanita, mungkin maksud pak Erik. Dia siapa, di sini apa baru?" Reno meluruskan membuat Sinta terdiam, sementara Dewi dan Cecilia menahan tawa.


"Eeheeumph, maksud saya dia karyawan rekrutan baru. Katanya akan di seleksi di ruang sebelah, untuk menyeleksi. Bu Alea sudah tau dan kabar ini dari bapak kan?" ungkap Sinta membuat Erik menatap Reno saling penuh tanya. Erik pun mengeles, dengan gaya cool layaknya sang bos.

__ADS_1


"Owh .. baru denger saya. Semoga ga nyusahin pegawai lain ya!"


Sinta merasa sebal, kala Erik penuh intrik. Hingga di mana semua selesai, Sinta pamit dan kembali mengajak karyawan baru ke ruang semestinya.


"Cecilia, kamu ikut Dewi untuk isi form ya! Dew, bantu ya!" pinta Sinta, Dewi pun mengacungkan jempol dan mereka pamit.


Langkah Cecilia kini berbalik arah, dia mengikuti langkah bu Dewi. Ia juga tau, beberapa perusahaan BE sangatlah besar, terlebih ia penasaran dengan pemilik perusahaan terkaya anak tunggal. Tapi entah mengapa Cecilia tertarik dengan pria yang mungkin namanya yang ia ingat sekilas adalah pak Erik.


BERBEDA HAL DENGAN PERBINCANGAN DUA PRIA.


"Erik, gue udah mendengar tentang kinerja lo belakangan ini yang meroket tajam. Itu luar biasa. Rik." ucap Reno dengan senyum bangga.


"Makasih, Ren. Tapi mungkin ini cuma keberuntungan aja."


"Ga ada yang kaya gitu, Rik. Keberuntungan itu hanya ada empat puluh persen, sisanya adalah kerja keras. Bahkan bukan hanya satu orang yang bilang lo luar biasa, bahkan Bu Alea yang terkenal sangat ketat saja sampai memuji loh, dia bangga saat Theo ga ada, lo bisa handle semuanya dengan baik. Gue yakin, posisi direktur lo yang pantas."


"Gue ga berani menyimpulkan, gimana kalau Tuan Brian tetap memilih lo? Secara lo keponakan bos Venzo, gue cuma asisten setia pak Theo."


Reno terdiam, ia tertawa seolah puas tak tau dan tak mendengar. "Ga mungkin lah, gue udah diskusi sama Alea. Gue ga sanggup buat memimpin perusahaan, lo yang pantas. Gue cuma bisa bantu hal kecil aja. Suer deh, gue ga mau posisi itu."


"Karena lo, mau jadi supir Alea aja?" ungkap Erik, seolah sedang memancing sikap Reno.


"Haaah. Hahaaa, ngaur loh. Kita berdua udah kaya keluarga dan anak bagi tuan Brian. Mana mungkin kita mencintai keluarga?"


"Tapi lo suka Alea dari sebelum dia nikah sama anak perusahaan ini kan. Ayolah Ren, lo dan tatapan lo ga bisa bohong? Sejak Alea nikah sama Haris, dan kenyataan dia dinikahi pak Theo kan?"


"Masalahnya ..." terdiam Reno tak melanjutkan.


Hingga di mana, tatapan mereka terdiam dan tak jadi bercerita. Karena seseorang datang dengan mendorong kursi roda.


Tatapan Erik dan Reno kembali berdiri dan hormat. Melupakan suasana akrab saat pria itu sedang ghibah berdua.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2