
"Uncle," desir nadi Alea ikut berdiri karena tegang akan suasana yang mencekam.
Kedatangan Brian seperti murka padanya, ia melaju melangkah hingga menepi di hadapan Alea. Alea memandang wajah yang sangat lemah, setelah melepas eratan pelukan tangan Sinta. Ia bergeser dan berdiri memberi hormat pada uncle Brian.
"Apa yang terjadi Alea. Kenapa harus Theo satu satunya penerus yang paman punya?"
"Uncle, Alea. Alea minta maaf atas semua ini. Tapi Alea juga terpukul dan lemah ketika tau kecelakaan malam itu, benar benar mas Theo. Alea harap ini hanya mimpi saja Uncle... Ini ga benar." elak Alea.
"Buka mata kamu Alea. Lihatlah dengan jeli! Andai Theo ku tidak menikahi dan mengurus masalah runyam masa lalu kamu, mungkin Uncle harusnya melarang Theo saat itu." murka Brian.
Membuat Alea terdiam pasi. Brian sendiri adalah, seorang kakak dari mendiang ibu Theo yang saat itu jatuh sakit, karena tuan Anggara menikahi Riris dan mempunyai anak diam diam bernama Haris.
"Haaah, Alea. Sejak kamu hadir dalam hidup Theo semata wayang keluargaku. Uncle sudah melarang untuk Theo mempertahankan wibawanya terhadap wanita. Apalagi kamu, kamu telah merubah semuanya. Tapi kenapa harus Theo yang baik, lebih dulu di ambil." ketusnya.
Alea terdiam, wajahnya tersirat jelas kala paman Brian benar benar menyalahkannya. Hingga ia membuka mulut tak bisa berkata kata, seandainya saja ia tidak pingsan. Mungkin ia ingin mencegahnya. Seandainya saja ia bisa mengubah waktu dan bertukar tempat. Mungkin Alea memilih dirinya saja saat kejadian itu, bukan mas Theo.
"Kami ingat, selama proses benar kamu tidak bersalah. Paman akan maafkan, tapi jika semua karena ulah kamu dan karena alasan kamu. Paman akan membuat perhitungan padamu Alea!"
Kekesalan membuat Alea kehilangan kepercayaan oleh Uncle Brian. Alea tak menyangka akan bernasib tragis. Di tinggalkan suami yang membuat hidupnya merubah.
Namun ia harus di tinggalkan dengan banyak segala hal tuduhan. Alea juga mengusap perutnya saat itu. Berharap kejadian saat ini datang sebuah miracle, jika Theo masih hidup dimanapun berada.
__ADS_1
Tak begitu lama, Brian pergi meninggalkan Alea, ia juga memerintahkan ahli forensik dan kepolisiaan jujur dan mengatasinya dengan cepat, apalagi mangkrak.
"Sin, gue penyebab kecelakaan mas Theo kan?" bisiknya.
"Al, enggak Al. Itu murni kecelakaan, jika sengaja itu bukan kesalahan lo. Kita tunggu hasil dari pemeriksaan. Lo ga boleh stres kaya gini, kasian baby di dalam sini!" pinta Sinta masih mode memeluk.
Alea begitu pilu, ia masih mengingat banyak hal perkataan mas Theo yang membuat impiannya terwujud. Hingga di mana ia berusaha untuk tegar, tapi tetap saja kesedihan dan segala hal masih banyak yang harus membuat air matanya semakin terkuras mengalir begitu saja.
Alea kini menjadi semakin lemah, ia sulit untuk mengatur nafas berbagai banyak derita yang ia lihat dan problem bertubi tubi tanpa selesai.
"Permisi bu Alea. Saya izin, ini ada satu kotak kepemilikan barang di dalam mobil. Tolong cek, apakah benar ini milik suami ibu?!" ucap kepolisian.
Alea sedikit bergetar, ia bingung menatap satu kotak berwarna oren. Hingga ia mencoba menatap sekeliling yang terdiri dari Venzo dan Erik yang ikut mendampingi. Sinta mengangguk untuk menyabarkan jika Alea pasti kuat membukanya.
"Buka saja bu. Periksalah!"
Alea membuka dengan bergetar, ia teriak dan terkejut lemas. Kala sebuah tangan dan cincin di sematkan di salah satu jari benar adanya.
"Aaaakh. Tidak, itu pasti bukan tangan mas Theo. Itu bukan mas Theo. Huhuuu." tangis Alea pecah.
Sinta ikut kembali menangis, ia juga merasakan di tinggal kekasih. Tapi kondisi Alea sangat histeris, kala ia adalah seorang istri dan sedang hamil anak dari mantan bos nya itu.
__ADS_1
"Al, lo yang tenang ya. Gue yakin lo bisa dan kuat buat hadepin semuanya. Kita sama sama berjuang ya, ada gue yang selalu ada buat lo dan bayi lo. Gue akan jadi tante terhebat dan orangtua terhebat bagi anak lo kelak!"
"Huhuu, gue yakin itu bukan tangan mas Theo." masih mode menangis histeris Alea saat itu.
"Al. Gue paham apa yang lo rasain, tapi kita ikutin prosedur pihak yang berwajib ya. Ahli forensik bakal tes dna jika itu benar bukan tangan pak Theo!"
Alea meredam, ia mencoba menghela nafas. Hingga di mana ia mencoba berdiri untuk tetap kuat, kembali berdiri dengan penutup masker. Karena sebuah tangan gosong itu, terdapat sebuah cincin putih yang tak ikut meleleh. Hanya sebuah goresan hitam seperti embun yang mudah di hapus bersihkan.
"Mas, jika itu kamu. Apa mungkin lima puluh persen kamu tetap masih di sini. Tidak meninggalkan aku selamanya. Aku mohon mas, apapun keadaanmu. Aku akan ikhlas dan akan menerimamu. Aku ga sanggup kehilanganmu mas." batin Alea yang mencintai suaminya itu.
Alea segera melihat cincin, dengan sapu tangan tanpa jijik. Ia mengambil cincin itu hingga membulat ia melihat bulatan sebuah goresan cincin terdapat ukiran namanya dan Theo.
Huhuhu ... "Ini ga benar, ini benar cincin pernikahan kami. Tapi aku ga membenarkan itu tanganmu. Maksudku aku ga membenarkan jika itu kamu benar telah tiada mas." teriak Alea masih menangis.
Alea jatuh tersungkur duduk, hingga di mana Sinta menolongnya dan membuat Alea duduk dengan tenang.
Namun salah satunya, Erik kembali keluar menemui Tuan Brian, Sementara Venzo menunduk menangis tak menyangka jika sahabatnya benar benar pergi.
Venzo terkejut kala di sampingnya Frans yang sebagai dokter ikut datang.
"Frans, lo datang juga?" lirih dengan terbata bata kesedihan.
__ADS_1
"Saya akan bantu proses tes dna. Gue harap itu bukan tangan Theo. Teman kita yang best, meski dia paling jahat dan keras terhadap kita. Tapi dia berarti bagi kita, dia orang baik. Kenapa bisa takdirnya harus seperti itu." ungkapnya.
Tbc.