
Irene tau, ketika mama Riris telah siuman, semakin membaik. Bahkan hampir saja bisa lancar dengan bicara. Tapi ia kesal, kala ia menanyakan Alea, dan ingin bertemu dengan Alea.
Amarah irene semakin meledak, kala ibu mertuanya selalu bercerita dan terus menanyakan keadaan Alea sepanjang waktu.
"Dasar nenek tua. Udah males gue urusin. Lihat aja setelah urusan rencana gue berhasil. Gue harus singkirin mertua ga tau diri. Dia sengaja bikin hubungan gue sama Haris serba salah. Jelas gue bisa lahirin penerus Haris dan lebih cantik dari si Alea itu." gerutu Irene.
Irene melupakan tiga manusia misterius tadi yang mengancamnya, ia berusaha ke rumah sakit dan apalagi, selain menyuntikan serum ilang ingatan dibantu temannya yang bertugas sebagai suster, secara diam diam.
DI KANTOR.
Sementara Theo, menerima pesan suara, ia menatap meja kerjanya. Ia sengaja dari tadi melamun akan sebuah hal yang membuat dirinya kesal, tapi mengingat jam pasir yang di berikan Alea. Ia cukup tersenyum, menggenggam dan membuatnya rindu akan Alea.
[ Mas, malam ini pulang jam berapa. Aku menunggu! ] pesan suara.
Theo merasa bersalah, ia tak bisa pulang lebih awal. Hingga di mana ia membalas pesan dari Alea, istrinya.
"Mas. Akan pulang terlambat, apa yang kamu inginkan. Apa kamu sedang bersantai, atau telah kembali dari salon?"
[ Aku tadi menyempatkan diri ke rumah sakit, sedih mama belum ada perkembangan. Saat ini aku udah di salon empat jam lalu, ditempat biasa mas. ] membalas pesan suara.
__ADS_1
Alea pun di butik, ia cukup senyum sendiri. Kala Theo mengirim dirinya balasan. Meski raut wajah Alea tak baik, ia mencoba untuk legowo. Dengan aksi jahilnya, Alea mengirim video kamar yang indah.
TLIIING. NADA PESAN.
Theo melihat video yang di kirimkan oleh Alea. Hingga di mana, ia cukup meregangkan otot lehernya. Ia mencoba untuk menarik dasinya, membuat dirinya tidak tahan untuk sampai di rumah.
Hingga di mana, Ia menanyakan kepada Erik meeting jadwal ulang. Tapi nahas, ia tak bisa menundanya lagi. Sehingga Theo harus bersabar untuk sampai di rumah, agar ia bisa menyambut Alea istrinya kala itu.
Alea yang telah bersiap dengan sebuah tas kecilnya. Ia telah selesai dalam perawatan, tubuhnya terasa enteng dan kulitnya semakin cerah. Rambutnya yang tegerai curly. Membuat dirinya semakin cantik. Mungkin dengan happy, kembali merajut cintanya semakin tumbuh untuk suaminya. Ia akan hidup bahagia bersama Theo di pernikahan keduanya ini.
Tak lupa, setelah ia keluar. Ia kembali ke sebuah toko pakaian. Alea membelikan sebuah piyama transparan. Untuk ia kenakan nanti malam, hingga tiba di kasir. Ia tak sengaja bertemu Irene.
Irene menepuk tangan tepat, menatap wajah Alea yang cukup terkejut.
"Upps. Ada benalu, huuh. Kenapa harus selalu bertemu lagi ya. Mataku sakiiit .. sekali." lirih Irene bernada.
Alea yang mendapat perlakuan tak baik, ia mencoba untuk menahan emosinya. Lalu dengan sigap, ia kembali meminta pelayan kasir untuk mengemas barang yang ia beli saat itu.
"Bisa cepat mbak!" ucap Alea. Kasir pun memberikan beberapa paper bag.
__ADS_1
Sehingga Alea menoleh tubuhnya, ia tak menghiraukan bisikan aneh yang di layangkan Irene. Apalagi mencari masalah baru.
PRAAANG, UPPS SENGAJA!!
Hahahaha .. Irene tertawa puas. Setelah menyengkat kaki Alea. Paperbag itu terjatuh, hingga membuat kaki Alea sedikit terbentur memar dan luka. Alea cukup menahan emosi, lalu mengambil rapihkan barang - barangnya.
"Mau kemana. Apa kali ini kamu takut?"
Alea lagi - lagi tak menghiraukan. Ia kembali menoleh dan berbalik arah. Tapi Irene tak puas, ia menghadang cukup kilat. Dan membuat Alea sedikit terhenti dalam langkahnya.
"Irene. Aku malas, jika kamu bertemu denganku, biarkan kita tak saling mengenal. Aku cukup lelah, jika itu kamu."
"Heiiy. Benalu, aku masih bingung. Kenapa takdir kemana aku pergi. Kamu selalu ada. Kenapa .. Haaah?" ketus Irene.
Alea menarik nafas dan berkata, "Jika kamu mengatakan, aku telah membuat pertanyaan itu. Kamu salah jika aku mengikuti langkahmu Irene. Mungkin kamu bisa tinggal di planet lain! Dan minggir dari jalan hidupku, kau sekali lagi berbuat ulah. Maka aku tidak diam, aku akan membuat kariermu perlahan hancur, kehilangan suamimu, kehilangan anakmu. Dan terakhir, kamu akan di permalukan. Ingat itu kata kataku ini, Irene!" bisik Alea, membuat mata Irene membulat tak percaya.
Alea pergi begitu saja setelah mengancam Irene, sehingga Irene kesal akan sikap Alea yang berani. Ia segera menghubungi seseorang.
[ Jalan kenanga, cepatlah! Kalau perlu kau serempet dia sekarang juga! ] cercah Irene menutup telepon, sinis menatap Alea yang pergi menjauh.
__ADS_1
Tbc.