
Di taman belakang, Alea di dekati Reno sepupu mas Theo. Yang saat itu, Reno pernah satu sekolah dengannya dulu, bersama Sinta juga, setelah keluar dari asrama. Sehingga jika mereka berdua akan terasa tidak canggung ketika mereka mengobrol.
"Potong bunga, ingat jangan capek capek!"
"Heuuumph. Tenang aja Ren."
"Mengurus menjaga orang bunting lebih berat, dibanding urusan kantor." sindir Reno, yang membuat tatapan Alea menggeleng.
"Hish! Baiknya itu mulut."
Alea kembali sibuk menghampiri, dan membantu bibi memotong daun bunga mawar yang kering, menyirami dengan semprotan tanaman. Lalu Reno tiba saja senyum menghampiri.
"Wah, bagus nih. Para wanita sedang bermain air dan mengurus bunga yang cantik."
"Haalah, Reno. Lo ga ada kerjaan lain ya, selain ngekor terus gue?" ketus Alea.
"Gak ada, kerjaan gue supaya lo tetap aman. Tanggung jawab gue sama papi Brian. Lo tau gak, ada dua iblis bermuka dua. Yang gue takutin bakal bikin lo celaka."
'Iblis .. Bermuka dua ..?' terdiam Alea.
Hingga di mana Alea duduk di taman, lalu Reno mengambil gunting dan mencoba membantu Alea menghias bunga pot semakin cantik.
__ADS_1
"Gue mau tanya sama lo Al. Jawab jujur ya!"
"Heuump, apa dulu. Tergantung pertanyaannya lah." senyum miring Alea, yang tak canggung pada Reno, keponakan mas Theo itu.
"Apa rencana lo selanjutnya Al?" tanya Reno.
"Soal apa, soal mas Theo lagi?" tatap Alea, Reno mengangguk alis.
"Entahlah, pusing memikirkan. Yang jelas Gue mencintai mas Theo, dan gue ga akan pernah percaya kalau mas Theo benar udah tiada." ungkapnya.
Reno terdiam, ada rasa tak percaya baginya. Ia segera mematung menatap bunga pot. Melihat Alea yang gundah kebingungan. Akan ada kesulitan setelah ini.
"Apaan sih, kaya ada ancaman aja ngomongnya Ren." mencoba alibi, karena Alea sebenarnya tau apa yang di maksud perkataan Reno padanya.
Alea tau, jika keberadaannya. Mengancam posisi bagi tante Mira dan anak semata wayangnya. Hingga di mana Alea bertanya sesuatu.
"Ren, gue boleh ngomong sesuatu gak?"
"Apa Al?" menoleh masih mode memotong daun kering.
"Miki, itu suka lo ya? soalnya pas makan malam. Raut wajah kalian berbeda."
__ADS_1
"Uhuuuuk .. Uhuuuuk, Al. Lo kaya ember kalau ngomong, masa ia si anak iblis suka sama gue. Gue sih ogah lah, males banget. Gila aja, bisa berakhir mati di gantung gue. Masa gue suka ama sepupu."
Alea tertawa kala Reno terbatuk gugup. Hingga ia semakin seru menggoda Reno dan terlihat bibi ikut senyum tertawa di sampingnya. Namun langkah pandangan Alea terhenti kala melihat di ujung pohon besar, seseorang menatapnya dengan wajah sinis.
'Kenapa pria roda berpakaian mumi itu melihat ke arahku?' batin Alea.
Reno saat itu mengambil ember, mengisi air dibak hitam dengan separuh tenaga ia mencoba membantu tanaman hias cepat selesai. Reno masih bicara banyak, lupa soal tatapan dan langkah Alea yang menghampiri tangga bergoyang di depan rumah paman Brian. Tangga itu menembus tegap yang disampingnya pohon besar ratusan tahun.
Alea melangkah dengan perlahan, hingga ditengah pohon. Ia di tepis tangan oleh Reno saat itu.
"Aunty Alea yang baik. Jangan ke rumah itu, tetangga itu julid tak suka paman Brian dan keluarga kita. Apapun yang kamu lihat, hindari dan masuk!" menarik tangan Alea dengan lembut.
"Tapi pakaian mumi itu, natap aku terus. Ren, siapa tahu dia butuh bantuan kan?"
Tanpa satu kata, tetangga ibu paruh baya berjalan, mendekat ke arah itu dan mendorong pria mumi itu masuk ke dalam rumah kecilnya rapat rapat.
Bruuuugh!! Pintu tertutup keras.
"Tuh, liat kan? Ibu itu introvert dan ga suka siapapun sok akrab." cetus Reno, membuat Alea gagal hampiri pria di kursi roda.
Tbc.
__ADS_1