
"Bagaimana, apa ini sudah cukup?"
"Entahlah, saya harus berterimakasih pada anda pak."
"lumayan bukan? Duduklah sarapan, setelah ini kita harus ke suatu tempat!"
Alea menuruti, meski dalam hatinya bergumam. Bagaimana tidak, pria di depannya tak sedikit pun memuji. Hingga di mana Alea sadar perjanjian dan barter bertukar bantuan adalah masalah yang kini harus ia hadapi. Terlebih hanya dirinya yang tau dan rahasia.
Alea menyepakati permintaan Pak Chiyo, ups pak Theo yang akan ia panggil saat ini. Ia akan menemui seseorang yang berharga untuknya. Meski ia sadar, dengan bantuan memulihkan nama dirinya dari tuduhan Irene saat ini, sangat penting untuk masa depannya.
Tapi dengan begitu Theo berjanji tidak keberatan. Jika ia membawa mama Riris kemanapun ia tinggal setelah sembuh kelak.
Hingga di mana Alea duduk, ia cukup lelah akan banyaknya masalah yang beruntun silih berganti. Ia mengambil nasi secukupnya dan menatap pria yang harusnya selalu di kantor.
Kini ia akan selalu bertemu dan akan sering menatapnya sampai batas waktu. Alea melirik seisi ruangan tertutup hanya dengan tirai sedikit terbuka, ia mengatakan jika dirinya kini bagai wanita simpanan.
"Ada apa. Kenapa dengan matamu Alea?" tatap Theo. Masih menyantap iga bakar dengan tangan.
"Haaah. Saya .. Ha-nya, euuuumh. Begini apa tidak terlihat baik. Dihadapan saya karyawan anda, anda makan dengan tangan?" alibi Alea.
"Bukankah sama saja dengan tangan. Lagi pula, kamu bukan karyawan sebentar lagi."
"Apaa .. tapi, bukankah aku masih di izinkan bekerja?"
"Lihat situasi. Banyak hal kelak yang kau urus. Kelak Erik akan memberikanmu surat perjanjian dengan cepat."
__ADS_1
Alea hanya terdiam, lalu menyendok sayur dan menyuapnya dengan pelan serta gugup.
Beberapa jam kemudian, Theo telah selesai makan. Ia mengelap tangan dengan kilat, lalu berdiri dan melempar sapu tangan makan itu kesembarang. Hal itu membuat Alea terkejut, pasalnya lap itu masuk kedalam mangkuk sup yang ia makan.
Deru nafas Alea. Ia menyingkirkannya karena tau diri. Ia tau di mana ia tinggal, dan meletakkan posisi lap itu ke tempatnya.
"Setelah makan. Bersiaplah, kita akan pergi!" titah Theo dan berlalu pergi.
"Astaga. Aku bisa gila jika terus begini." deru nafas Alea.
Alea pun terdiam, ia mengambil minum dan meneguknya. Lalu perlahan merapihkan segala piring dan membersihkannya.
Ia mulai menata setelah mencuci piring dan gelas ke tempatnya. Tanpa sadar Theo dari ruangan lain menatap Alea dengan senyuman.
"Wanita itu, mengapa aku jadi terbiasa menginginkan dia dekat. Mengapa Papa memintaku mencari wanita seperti dia. Tidak ada dalam kamusku. Mana bisa aku menikahi seorang wanita bekas pria lain, terlebih Haris Anggara musuh ku saat ini. Dia keluarga dari orang yang berkhianat yang harus aku hancurkan." lirih Theo.
Alea mendapat pesan dari Sinta. Ia pun mengabarkan jika ia telah menemukan solusi, dan akan datang ke rumah di saat waktu yang tepat.
Hingga beberapa pekan ia tak bisa mengunjungi Sinta saat ini. Hal itu karena Theo memintanya untuk tidak keluar setelah wawancara pembersihan namanya.
Tiba dalam gedung, sambutan wawancara kali ini benar megah. Potretan demi potretan lampu menyorot wajahnya. Alea duduk berdampingan dan menatap Irene yang di dampingi Haris. Namun saat acara berlangsung, Haris pergi menjauh dari sorot kamera.
Sementara Theo berada di atas balkon memperhatikan. Alea saat ini bingung, mengapa pria seperti Theo membantunya dari suaminya yang memilih istri keduanya. Dan meminta tolong untuk menjadi istri pura pura. Menikah pura - pura, adalah hal menyakitkan kembali baginya.
Dua jam berlalu. Tanya sesi wawancara, pemutara video live. Hingga di mana acara tersebut selesai. Irene dan Alea saling berdiri kala itu. Alea menatap jelas Irene berjabat tangan, jika suatu masalah ini adalah kesalahpahaman. Dengan meminta maaf pada media, namun dengan berat Alea ingin mengatakan kebusukan Irene.
__ADS_1
Tapi apa daya, ia malas berdebat. Ia telah tau wajah Irene di depan kemera sangat polos begitu baik. Realitanya ia sengaja membuat cerita ini agar pamor namanya kembali naik.
Hingga di mana selesai, Alea mengambil tas dan berlalu pergi. Saat melangkah wartawan mundur dan memberi jarak dan melangkah.
Hingga di mana ia menatap Haris yang ia cintai, menatapnya dengan tatapan berbeda.
'Mas, andai kamu jujur padaku, tak pernah ada wanita lain selain aku. Kenapa luka yang kau torehkan, amat sakit.' batin.
Satu langkah hingga delapan langkah wajah Alea semakin dekat, wajahnya menatap dan berdekatan pada wajah Haris. Ia begitu tak berkedip saling menatap, ada kisah dan arti yang tak bisa di ungkapkan.
"Mas. Aku bahagia jika semua ini yang kamu inginkan. Terimakasih atas luka yang kau tuangkan padaku." bisiknya.
Alea melewati Haris dan sedikit berbisik, tanpa sadar Irene yang menyadari. Jika Alea sebentar berhenti.
Lalu Alea kembali pergi menuju loby dan tiba saja sebuah mobil berhenti di depan menjemputnya.
Di dalam mobil Alea kembali menangis. Ia tak tahan akan lontaran saat itu pada Haris. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat mencintai Haris Anggara. Entah mengapa tatapan itu berbeda, sulit di artikan.
"Tatapan macam apa itu. Tatapan perpisahan atau peyesalan seorang pria?" tegasnya.
Alea terkejut, ketika Theo sudah ada di sampingnya. Ia tak mengeluarkan kata - kata lagi.
Sehingga ia hanya bisa menghapus air mata dan terdiam. Diam mendengarkan pria di sebelahnya yang sedang mengoceh mengatakan ia terlalu bodoh atau salah cinta.
"Kau menangisinya?" tanya Theo.
__ADS_1
Tbc.