Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
BERTEMU BOS BARU


__ADS_3

Pada beberapa orang koma, terkadang dapat menggerakkan sedikit anggota tubuhnya sebagai refleks, dapat mendengar apa yang dibicarakan orang sekitarnya, merasakan sentuhan seperti ketika saat disuntik, hingga menangis, namun tetap tidak dapat berkomunikasi.


Kondisi koma pada setiap orang berbeda-beda, tidak semua mengalami hal-hal tersebut. Pada seseorang yang koma, gerakan refleks, respon verbal, hingga reaksi menangis dapat menjadi faktor penting dalam menentukan kesembuhan total. Fungsi otak orang koma akan berangsur pulih dari waktu ke waktu dengan perawatan intensif, dimana peluang kesembuhan penderita koma tetap tergantung dari keparahan penyebab dan respon pasien terhadap pengobatan.


Alea merasa perkataan dokter sama saja, ia mengira kecelakaan sang mama mertua masih belum terungkap.


"Alea berharap mama bisa kembali sadar, berangsur membaik dan mengingat kejadian tragedi puncak. Sudah hampir setahun, kenapa disebut kecelakaan tunggal. Jelas jelas tanda tanda itu ada yang aneh."


Kamu anak baik Alea. Bagaimana bisa Haris putra mama menyianyiakan kamu. Wanita macam apa yang membuatnya jatuh cinta. Hingga mata dan hatinya bodoh. Alea adalah briliant yang telah di siapkan untuk masa depan, istri yang penuh kesabaran! andai mama bisa memelukmu, mama akan menjagamu dan memberitahu semuanya nak! alam bawa sadar mama Riris, masih menggerakan jari tanpa Alea sadar.


Alea masih menangis menatap mama mertuanya. Ia mencium jari jemari mama mertuanya kala itu. Hingga di mana, ia mengambil ponsel ketika pesan tiba.


"Jam satu siang. Orangku akan datang menjemput. Bersiaplah!" isi pesan, kala pagi Alea membuka mata, ia tertidur di rumah sakit.


Alea terdiam, seakan ia ingin menganga. Akan perkataan seseorang yang memerintahkannya melalui pesan.


"Pak Theo Marchiyo. Ada apa, kenapa dia hanya singkat?"


Alea berusaha menghubungi. Tapi nomor itu sibuk, hingga di mana ia mengetuk berkali kali ponselnya ke keningnya kala itu.


Alea bersiap diri, ia segera merapihkan baju dalam paperbag yang dikirim sahabatnya itu. Lalu menatap sang mertua dan mengelus punggung tangan mama Riris.


"Mama, Alea pamit dulu ya! doakan, urusan Alea selesai. Alea juga harus bekerja, meski mas Haris lupa dengan Alea. Alea yakin, sisa hati mas Haris akan terbuka siapa wanita disampingnya itu. Alea juga ingin tahu, seperti apa cucu mama yang dilahirkan wanita itu. Maaf, kalau Alea sampai saat ini belum bisa hamil, dan pernikahan kami terlanjut retak .."

__ADS_1


Alea telah masuk ke dalam mobil jemputan. Setelah memakan waktu satu jam, ia hampir terlelap dan terbangun saat ada lonjakan.


"Apa, ada apa ini pak?"


"Hanya bebatuan. Kita sudah sampai juga Nona. Silahkan ke lantai delapan puluh satu!"


Alea menelan saliva. Ia cukup terkejut akan bangunan gedung yang menjulang tinggi. Ia begitu frustasi akan supir kemarin yang menolongnya. Dan baru tau, jika ia adalah pengawal pak Theo Marchiyo.


Awalnya mereka memanggil atasan baru mereka pak Chiyo, tapi pak Venzo manajer lama meminta seluruh karyawannya memanggil pak Theo saat ia masih menjabat.


'Rileks Alea. Bagaimanapun dia adalah atasan mu saat ini, mungkin saja aku akan kembali di mutasi.' batin Alea.


Alea manaiki lift, masih mode tatapan dua pengawal yang berada di belakangnya mengantar.


Tatapan alu lalang memperhatikannya, meski ia memakai penutup wajah. Sekedar masker berwarna jingga. Ia terlalu malu dan menutup sedikit keningnya karena seperti wanita yang bermasalah dengan rentenir.


"Nona. Ke arah kanan, Bos kami di lantai delapan puluh satu!"


Alea berhenti, melirik jika ruangan itu adalah lantai di atas seratus ke atas. Hingga ia berbalik arah karena semakin malu dan meminta sang pengawal lebih dulu.


"Silahkan!"


"Baik terimakasih!"

__ADS_1


Alea menderu nafas dengan panjang. Sebelum ia masuk dengan tatapan khawatir. Bagaimana tidak gelisah, ketika pengawal membuka kunci card. Alea masuk dan pintu tertutup lagi.


Menatap beberapa ruangan luas, nuansa silver dan hitam. Lampu yang sedikit terang, membuat Alea terdiam bingung karena ia seorang wanita, yang menemui seseorang di dalam sebuah hotel berbintang.


"Pak. Bos. Maaf Pak Bos, apa anda di dalam?" teriak Alea.


Alea melangkah dengan maju mundur. Ia gugup akan ruangan yang benar - benar membuatnya takut. Ia mencoba kembali ke arah pintu. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang berbicara.


"Tunggulah di ruang tv!"


Alea terdiam, membalikan arah. Namun suara khas dengan serak pria yang membuatnya takut. Ia langsung menatap sempurna, lalu menutup matanya seakan matanya ternodai.


"Uuupss. Saya tidak melihatnya pak!"


Alea berbalik Arah. Theo hanya menaikan alis dan gaya berjalan mirip orang yang tak berdosa.


"Dasar bos gila. Bagaimana bisa, dia berjalan begitu hanya mengenakan handuk. Pantas saja suasana lampu di sini remang." lirihnya.


TREEEENG!!


TAK MENUNGGU LAMA, LAMPU MENYALA DENGAN TERANG.


Seolah perkataan Alea, lampu itu membuat ia terkejut karena bicaranya yang bilang terlalu gelap.

__ADS_1


"Apa lampu ini otomatis ya. Ketika kita bicara terlalu gelap, dia akan berubah terang?" bingung Alea, karena struktur interior yang mewah dan terlihat mahal baru kali ini ia melihatnya.


Tbc.


__ADS_2