Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
KISAH KU & SAHABATKU


__ADS_3

Alea merasa kesal, ia mengemas barang dengan sebuah koper. Berniat untuk tinggal beberapa malam di rumah Sinta. Tak jauh dari kompleknya. Hanya beda blok, dan Sinta cukup gugup membantu.


"Al, lo yakin ga mau bilang sama pak Theo?"


"Ga perlu, dia aja bisa senaknya main pergi ke club. Dalam keadaan gue hamil besar, dia bisa seenaknya pergi gitu aja?" kesal Alea.


Asisten meminta nyonya untuk sabar dan menjaga emosi. Tapi tetap saja, Alea keras kepala. Hingga Alea melihat lima puluh sembilan detik lagi, waktu hampir habis telah dua puluh menit belum juga pria itu sampai.


"Tidak ada waktu, bibi titip rumah ya. Lagi pula paman Brian, tidak akan pulang. Ia langsung ke jerman sejak pagi!"


Hingga lama, Alea segera mendorong koper dengan rasa tak percaya. Ia merasakan sesuatu yang melilit.


"Al, lo kenapa. Please jangan bikin gue takut!"


"Perut gue sakit Sin, aduuh!"


Bibi dan Sinta yang melihat. Ia membawa Alea duduk di sofa. Hingga memberikan air hangat untuk minum. Dengan bantal berukuran kotak, untuk menyangga punggung. Hingga beberapa menit, rasa sakit itu hilang.


Tarik nafas Nyah! inget nyonya jangan emosi berlebihan. Bisa aja tuan sedang tidak pergi kesana, bisa saja bibi salah dengar. Bibi minta maaf ya nyah.


"Gak, bibi ga salah. Tetap awasi tuan kalau bibi dengar yang aneh aneh, kabari pada saya!" hela nafas Alea memerintah.


Sementara Sinta, ia cukup terkejut. Melihat dan mengingat jika pernikahan itu tidaklah mudah. Bagi dirinya yang berpasangan saja. Membuat ia semakin runyam untuk berkomitmen ke jenjang serius. Tapi melihat Alea, semarah tadi ia jadi memikirkan jika Theo sama saja dengan pria seperti Erik.


Tak lama, dari ujung sudut. Erik membawa Theo dengan senyum sumringah. Terlihat biasa saja, tapi jelas Alea tak mudah di bohongi. Kala pria itu masuk dengan mata yang berputar seperti ban oleng.


"Sayang. Mas pulang, jangan marah ya. Mas tadi antar Erik ke wanitanya. Benarkan Rik?" tawa kedip mata.


"Huaaah. Bbbp-bukan begitu, kami ga benar benar kesana kok bu bos. Benar, tadi itu ..Awwwhk." Erik menahan sakit, kala kakinya di injak.


Mendengar hal itu membuat Alea marah, ia melupakan keberadaan Sinta dan Erik. Sedang asisten juga yang melihat ikut nimbrung.


"Kalian pria penuh berkelit, pulang kalian. Atau aku saja yang pergi dari sini. Nikmati dengan suasana gilamu mas!" kesal Alea pergi.

__ADS_1


"Sayang, jangan tinggalkan mas. Mas janji, mas tidak akan membuat masalah lagi. Mas janji tidak akan kepo dengan urusan Erik dan menjodohkannya dengan Sinta lagi. Mas janji akan .." mulut Theo di tutup. Lalu tersenyum kala melihat Erik dan Sinta menaikan alis.


Dengan tampak jelas, Alea menarik suaminya ke kamar. Meminta bantuan pada Erik agar membawa Theo duluan keruang kamarnya.


"Erik, bawa ke kamar dua. Jangan ke kamar utama!" Alea menutup bibir, dan hidung karena bau alkohol yang menyedak di indra penciumannya.


Dengan berat hati, Erik membantu. Meski ucapan mas Theo masih saja blur dan ngaur. Hal itu membuat Sinta pamit, karena dirinya mendapat pesan dari ibunya Vero.


"Al, lihat lo kaya gini. Kayaknya pak Theo takut sama istri ya. Ga jauh beda kaya sinetron di dunia perfilman."


"Haah, alibi. Gue gak yakin, nasib gue kalau ga lagi hamil. Gue udah tinggal pergi liburan."


"Al, mama Reta minta ketemuan. Gue pamit ya, lo selesain dengan kepala dingin ya. Ga baik, kabur kaburan udah nikah!"


Alea mengerenyitkan alis, bisa bisanya tadi ia menceramahi Sinta. Kini berbalik Sinta kembali menceramahinya. Hingga ia juga senyum dan berkata agar Sinta baik baik saja.


"Serius, lo udah ga sakit lagi?"


Beberapa puluh menit kemudian Alea masuk ke kamar utama. Ia mengunci pintu kamar, kala dirinya tak ingin satu kamar dengan mas Theo penuh dengan bau yang aneh. Hingga di mana ia meletakan ponsel dan melihat kembali.


[ Bu Alea, terdakwa Irene ingin bertemu. Apa ibu bersedia hadir, semua agar sidang banding sempurna dan artis Ines tidak akan mendapat potongan hukuman Ringan.] pesan dari Pengacara.


Menatap pesan itu, Alea terdiam dan menimang nimang untuk hadir. Ia tau, bagaimana Irene dengan dirinya yang sedang hamil besar, apa ia sanggup menerima kesedihan dan ketakutan lagi.


Jujur Alea ingin Irene dan Haris tetap dapat hukuman setimpal, tampak pengurangan sekalipun. Tapi tersangka juga hamil seperti dirinya, yang membuat Alea bingung.


***


Berbeda hal dengan Sinta.


Sinta kini telah sampai di kediaman Vero. Ia duduk dan menunggu di ruang tamu. Terlihat bibi di sana meminta untuk menunggu dan segera sampai, Sinta tak masalah. Dengan secangkir teh, dan sebuah biskuit. Ia tetap menunggu dan melihat beberapa foto dari yang terkecil hingga besar.


Sinta berjalan ke rak meja hias foto, terlihat jelas Vero kecil hingga besar, lalu ia bertanya pada bibi di sana. Namun yang menjawab bukan bibi dan membuat Sinta terkejut berbalik badan.

__ADS_1


"Bibi, apa ini foto Vero dari tk dan ini foto kelulusan zaman Sma. Apa ini teman wanita yang tiada?" tanya Sinta.


"Benar Sinta, apa kamu tau banyak tentang gadis itu?"


Sinta menoleh berbalik arah, hingga senyum hormat menyapa. "Tante, maaf Sinta lancang!"


Sinta melihat jelas, kala wanita paruh baya itu dengan setelan jas hitam mengikat. Tas hermes berwarna abu pekat di letakkan di meja. Hingga di mana, ia segera menurunkan kancing dan membuka jasnya itu.


"Sinta, apa hubungan kalian renggang atau kandas dengan Vero?"


"Apa, maksud tante apa ya. Apa Vero berbicara sesuatu tante?"


"Tidak, hanya saja. Tante tau, seperti apa anak tante menyembunyikan masalah. Haah, anak itu masih saja tidak dewasa. Tante tak ingin bisnisnya jadi berantakan. Tante minta bantuanmu dan menanyakan serius. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Hingga di mana, Sinta menjelaskan dirinya dengan Vero saat menjemput. Hal itu membuat Sinta takut, dan tak mengerti mengapa Vero tak berhenti dan mau mendengar penjelasannya.


Selama berpuluh menit, Tante Reta sadar. Jika anaknya selalu saja salah paham. Ia memberikan sebuah paspor dan tiket pada Sinta.


"Apa ini tante?" tanya Sinta bergeming.


"Tante ingin, kalian memutuskan masalah ini dengan bijak. Jika kalian bisa bersama, tante harap Vero bisa menikah secepatnya. Jika hubungan kalian tak bisa di selamatkan, bicara pada Vero untuk pulang. Tanggung jawabnya pada sebuah usaha, dan beri saran karena tante sudah tua, lelah akan tingkah Vero yang masih kekanak kanakan meninggalkan tanggung jawabnya terus menerus."


Mendengar penjelasan Tante Reta, Sinta terenyuh. Baru kali ini, ia bertemu seorang ibu yang baik dengan title tinggi. Tidak menganggap dirinya sebelah mata. Dengan menatap lembaran paspor dan tiket. Sinta terkejut tak menyangka.


"Tante Sinta akan coba, doakan Sinta agar bisa membujuk Vero. Meski kelak Vero mau mendengar atau tidak, yang jelas terimakasih atas kepercayaan Tante sama Sinta!"


"Ya, tante harap kamu bisa sabar dengan Vero. Tiga hari kamu harus terbang, apa perlu tante hubungi bos kamu bekerja untuk meminta cuti?"


"Tante, itu tidak perlu. Sinta tau dan akrab bicara dengan bos Sinta."


Tak begitu lama mereka saling bertukar cerita dan makan malam. Tapi ia terkejut kala sebuah pesan yang membuatnya jengkel.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2