
"Heiiy. Lo apain Alea?" teriaknya.
"Gue gak apa apain. Cuma liat real kenyataan wanita ini aja, kasian yah." senyum Irene berlalu pergi meninggalkan tatapan orang yang melihat aksi mereka.
"Sialan lo. Gue sumpahin kena karma."
Toloooong!! Suster tolong saya, ada pasien darurat!! Teriak Sinta ikut menenangkan dan membangunkan kala tiba dua perawat dengan sebuah kursi roda.
"Dasar ibu bapak gak ada pikirannya, kalian cuma bisa fotoin aja. Gue harap kejadian kaya gini menimpa kalian semua!" kesal Sinta berteriak dengan nada ketus pada orang keramaian itu.
IKH, APAAAN SIH GAJELAS NIH TEMEN KOMPLOTANNYA PASTI!!
Sinta menggeleng kepala, ia tak menyangka jika kemanusian semakin rendah. Melihat orang kesakitan, apalagi di rumah sakit bisa bisanya orang mengabaikan seperti tadi. Apalagi hal itu, menimpa Alea.
"Dasar rumah sakit gede, apa gak ada suster yang berjaga ya. Masa ia semua suster di dalam ruangan pasien." benak Sinta kesal.
Sementara Alea masuk kedalam ruang ugd. Rumah sakit yang membuat dirinya harus di periksa langsung, tak lama dokter Hera datang dan bertatap dengan Sinta.
__ADS_1
"Dokter Hera. Tolong Alea, saya mohon!"
"Tenang bu Sinta, saya akan berusaha sebaik mungkin." lalu berlalu pamit masuk keruang unit gawat darurat.
Aaakh, tidak!! Toloong .. sakit !! teriakan Alea hingga mengigit sebuah kain. Alea merasakan rasa sakit yang teramat dahsyat. Hingga di mana, ia mencoba mendengarkan intruksi dokter Hera. Agar Alea mengambil nafas dengan perlahan, hingga di mana jarum suntik tiba saja masuk kedalam nadi tangan Alea.
Beberapa menit, dokter Hera mengecek keseluruhan posisi janin dan detak jantung yang ia sambungkan dengan alat menembus kedalam layar monitor. Alea telah cukup tenang, namun mata seperti mayat hidup diam tanpa berkedip membuat dokter Hera menatap kepada beberapa suster.
"Pindahkan pasien ke ruang vip. Cek secara berkala satu jam sekali. Saya harap semua akan berjalan dengan baik, tanpa ada gangguan ataupun suatu kelainan!"
"Baik sus, saya segera menyiapkannya." balas suster.
"Dok, bagaimana dengan Alea?" cemas Sinta.
Terdapat Venzo yang baru saja datang bersama Erik yang tiba dari jerman. Ia tak sengaja langsung ke rumah sakit menemui keadaan Alea.
"Ya, bagaimana dengan nyonya Theo?" tanya Erik membuat tatapan tak percaya.
__ADS_1
Begini. Kami akan mengecek secara berkala satu jam sekali, saya berharap kalian bisa menenangkan pasien dan memberi asupan gizi yang cukup. Kondisi ibu Alea sangat syok dan kesedihan mendalam membuat ia sedikit terganggu akan kesadaran, jika ia terlalu stress. Bisa mengakibatkan bu Alea mengalami sindrom otak dan amnesia sementara. Di mana pasien tak bisa menerima kenyataan, tetapi ia masih jelas apa yang masih terjadi seolah fresh baru terjadi.
Penjelasan dokter Hera membuat mereka lemas, pasalnya Alea tak bisa terus stres dan syok berat. Karena berpengaruh pada janinnya, belum lagi ketika Alea sulit masuk makanan, hingga di mana ia harus mengalami perawatan di rumah sakit.
"Bagaimana ini, bu Alea tak boleh seperti ini. Jika seperti ini, keadaan yang sebenarnya tak akan bisa mengungkap bagaimana pak Theo tiada. Saya di minta tuan Brian, untuk menjaga bu Alea dan janinnya sebagai penerus. Melatih bu Alea untuk menggantikan pak Theo." jelas Erik.
"Tapi Alea bilang, pak Theo belum meninggal. Dia ga terima pak Theo meninggal." jelas Sinta, yang terus percaya pada batin sahabatnya itu.
Venzo masih menatap jelas, ia juga memikirkan cara untuk membantu keberadaan Theo dan yakin sahabatnya masih ada.
"Tunggu, apa tes dna dari Frans sudah keluar. Apa benar itu raga Theo, soal abu gosong?" Erik mengangguk setelah mendapat pertanyaan dari Venzo.
"Kemungkinan seperti itu." lemas Erik.
Hingga di mana, seorang ibu paruh baya tiba saja datang menghampiri.
"Kalian, kenapa mengumpul di sini. Siapa yang sakit?"
__ADS_1
Sinta terkejut, tapi tatapan Erik dan Venzo jelas tersirat tak menyukai wanita yang baru saja tiba di depannya saat ini.
Tbc.