
'Bagaimana bisa, adakah seorang pria yang bisa mengarungi mahligai komitmen untuk seumur hidupnya, menyatukan kasih namun tidak sesuai yang di harapkan?'
Sinta masih terdiam, ia masih tak bisa menjawab. Bibirnya tipis terkatup bergetar, namun tatapan Erik membuat wajahnya mendongak, dan menatap lebih dalam.
Pertengkaran Vero dan Erik membuat Sinta depresi karena cintanya yang rumit, apalagi ia baru tahu mereka kakak beradik yang pernah bersama dan tidur dengannya.
"Aku tidak perlu masa lalumu untuk berkomitmen, tapi maukah kamu untuk bisa menerima dan memberi kesempatan, aku ingin kamu bisa menganggumi dan mengetahui tulusnya aku padamu Sinta?!" ucap Erik.
Vero dari jauh, ia amat menyesal. Jika tau dari awal, perasaan Sinta sangat dalam. Mungkin ia tak akan memutuskan, di tambah dengan sosok pria jangkung yang terpesona akan Sinta. Ia kembali melangkah dan pergi setelah melihat kebersamaan dua pasangan yang membuatnya iri.
"Aku tidak tau, tapi apa aku bisa Erik?" lirih Sinta menatap dalam pada pria yang ia benci.
"Beri aku waktu, dan beri tau aku. Apa yang kamu benci dariku, sehingga kamu terlihat jijik jika bersamaku?"
Pertanyaan Erik, membuat Sinta terdiam. Ia hanya bisa lemas dan duduk lalu merenung flashback ingatan masa lalunya. Entah dari mana, Sinta tiba saja mengingat masa lalu itu.
'Dari mana aku bisa membuat dirimu beruntung, entah aku yang beruntung atau aku merasa malu.'
Sinta menangis sesenggukan seraya menangkupkan wajahnya di atas kedua lutut yang tertekuk. Ia seolah ingin menyerah sebelum permainan usai. Dia lelah. Bukan karena dia tidak dicintai oleh Erik. Dia pun sadar akan hal itu. Dia sepenuhnya tahu bahwa cinta Erik hanya untuknya. Ada yang lebih menyakitkan dari pada hal itu, yaitu sikapnya terkadang berubah. Sinta bisa dengan jelas melihat kebencian di mata Erik suatu saat nanti kala ia menatapnya.
Perempuan itu begitu menyesalkan tindakan dirinya itu. Kepedihan itu sangat dia rasakan saat menyadari bahwa hubungan Erik dan persaudaraan yang mereka jalin bertahun tahun lamanya bersama Vero harus kandas dengan cara yang tidak baik karenanya.
Tidak akan ada lagi agenda nongkrong berdua, saling curcol satu sama lain. Tidak ada lagi Vero yang selalu mengajaknya berdiskusi tentang bengkel dan kehidupan pribadinya.
Tidak ada lagi Sinta yang minta dilayani untuk membeli ini itu pada Vero ataupun menjadi sekertaris Erik di kantor. Hal itulah yang menjadi sumber kesedihan terbesar yang dirasakan oleh Sinta.
Persahabatan dan kakak adik mereka hancur sejak Sinta mencintai Vero namun Erik mengejarnya. Bodohnya mereka satu darah, yang mungkin membuatnya akan semakin canggung.
Sinta menarik napas berat. Beberapa kalimat dzikir ia lafalkan untuk menenangkan hati. Dia bangkit dari posisinya, lalu berjalan menuju ke toilet yang ada di sisi kanan kamarnya. Sinta membasuh mukanya beberapa kali hingga kesejukan merambat pelan ke hatinya.
Sinta melepas mukena, sekalian mengambil wudhu karena sebentar lagi azan asar berkumandang. Sejak saat inilah, Sinta selalu berserah diri akan kesalahan dan khilafnya.
***
KEDIAMAN ALEA.
Sementara itu Theo kini sudah berada di kamarnya bersama Alea. Mereka duduk bersama di atas ranjang sembari mengobrol bersama.
“Kapan kamu pulang, Mas?” tanya Alea seraya menyandarkan kepalanya di bidang milik Theo.
__ADS_1
Saat ini, kedua bayinya sedang tidur dan di awasi oleh mereka. Tak jauh dari ranjang kasur king size.
"Tiga hari lagi," sahut mas Theo seraya malingkarkan tangan di pinggang istrinya.
"Terus selama itu kita ngapain?" tanya Alea dengan tatapan menggoda.
“Enaknya ngapain?” tanya mas Theo balik. Matanya nakal menatap wajah istrinya.
Wanita cantik itu tersenyum sambil mendekatkan bibirnya ke Theo. Pria itu menangkap lembut bibir ranum milik Alea dengan bibirnya. Sejenak bibir mereka saling menaut untuk beberapa menit lamanya.
Theo hendak membaringkan Alea, namun suara dering ponsel Theo membuat pria itu mengurungkan niatnya. Alea mendengkus kesal. Ada saja pengganggu di saat yang tidak tepat. Lagi lagi pekerjaan semakin berat, padahal sebentar saja, apalagi time yang pas di saat baby nya sedang terlelap manja di ranjang bayi mungil.
Theo beranjak dari ranjang untuk mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja kecil di depan sofa. Theo menoleh sebentar ke arah Alea. Mulutnya membentuk kata 'Papi' seraya menunjuk ponselnya. Alea mengangguk paham.
“Halo, Pap,” sapa Theo.
“Assalamualaikum, halo, Theo,” sapa Papa balik.
“Kalian sampai jam berapa tadi?” tanya pria tua itu lagi.
“Sekitar jam 11 an, Pap. Kenapa?”
“Lancar, Pap. Lancar banget,” sahut Theo seraya sesekali melirik ke arah istrinya.
“Alhamdulillah kalo lancar. Alea mana?” tanya Papi lagi. Seketika Theo gugup.
Sedang memberikan susu, itulah senyuman Theo menatap sang istri. Meski kala itu papi Brian yang notabane paman, seperti papa mertua bagi Alea. Ia meminta Theo untuk menjaga Alea dan hasratnya. Tetap saja, meski baru dua minggu Alea melahirkan. Tetap saja hasrat itu menggebu gebu bagi diri Theo. Tapi Alea tahu bagaimana caranya untuk melepaskan keinginan suaminya tanpa bulan madu.
"Alea sedang membuat susu, untuk Mahes dan Daren."
“Oh ya sudah. Jangan lupa senengin Alea ajak jalan jalan ke pantai. Pasti dia seneng. Nanti kirimin foto kalian ke papi ya!" pinta Kakek itu.
“Eh… iya… iya, nanti Theo kirim,” katanya dengan terbata.
Ucapan salam diucapkan Tuan Brian untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Theo meletakkan ponselnya dengan lemas. Lalu melangkah menghampiri Alea yang masih ada di ranjang.
“Kenapa aneh gitu mukanya?” selidik Alea.
“Paman Brian memintaku untuk mengajakmu jalan jalan, tidak boleh di kamar karena kamu baru dua minggu sayang,” sahutnya.
__ADS_1
“Mas, jangan buat aku traveling. Lagi pula kita tidak melakukan itu sampai empat puluh hari." senyum Alea.
“Masalahnya mas tidak bisa, apalagi kedua bayi kita sedang tenang." goda Theo
"Mas, jahitan aku masih basah. Tapi aku akan membuatmu lepas. Tanpa kamu merusak dan membuat aku sakit. Kamu rebahan saja, biar aku lakukan untukmu mas." senyum Alea tersenyum pada suaminya.
Theo mendekatkan wajah ke telinga Alea.
“Kita lanjut lagi,” bisiknya Theo halus.
Alea mengangguk melihat tatapan nakal suaminya. Keduanya naik ke atas ranjang. Tangan Theo mulai bergerilya di setiap inchi tubuh Alea tanpa merusaknya. Tak lama, mereka tenggelam dalam sebuah kenikmatan dunia berbingkai kehalalan.
Meski jahitan itu terlihat baik, tetap saja Alea tau batas setelah melahirkan. Adalah memberikan ketika telah usai masa nifas. Untuknya meski begitu, mas Theo sangat bisa mengerti sehingga mereka berdua menikmati dengan cara lain tanpa menyakiti.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Setelah pergulatan usai, Theo telah tidur terlelap dengan mata yang terkatup. Betapa beratnya ia menahan tiga minggu lebih, sebuah senyuman membuat Theo kembali mengucap terimakasih dan mengecup kening Alea.
Hingga kedua bayi mereka menangis bersamaan, membuat mereka menoleh dan mengkrenyitkan alis dengan senyuman.
Eeeeaaayaak ..Eeeyaak.
"Owh tidak, baby. Kita harus mendiamkannya, bersiaplah!" menatap Alea.
"Terimakasih mas. Kita bersih bergantian, lalu kamu pegang gendong Daren ya?!"
Dengan kecupan kilat, ke bibir. Theo beranjak dari ranjang tidur. Membuat Alea merasa sempurna di cintai meski kini dirinya telah menjadi seorang ibu.
Tbc.
MAAF YA ALL!
Kisah Alea delay! Author minta maaf karena draft di laptop rusak sedang perbaikan bingung semua alur dan kerangkanya buat Halu. Author sedang crazy Up judul.
# Pengantar Box Jutawan.
# Istri Genit Mas Faaz.
YUKS MAMPIR SAMBIL TUNGGU.
__ADS_1
Happy Reading!!