
Berbeda dengan keberadaan Theo.
"Bos. Bos bangunlah!" teriak Erik. Dari mobil lain yang baru menepi.
Ia segera menghubungi ambulance, lalu tanpa sadar. Theo telah berada di rumah sakit terdekat. Dengan segenap imun tubuhnya yang sempurna. Ia segera bangun dan menatap samar ruangan putih.
"Di mana saya?" tanya Theo.
"Bos. Anda hampir kehilangan keseimbangan, tadi itu anda pingsan. Bagus saja tidak ada yang cedara. Tapi saya sudah merujuk yang sebentar lagi dokter Frans akan mengecek dalam tubuh anda Bos."
Theo melirik, ia mengingat jelas masih samar pandangannya teringat Alea. Lalu ia tersenyum miring, mencopot infus dan berusaha bangun.
"Bos, anda tidak bisa bangun begitu saja. Saya mohon. Kesehatan anda belum pulih, masih ada beberapa hal yang harus di periksa!"
"Satu jam lagi kita rapat penting. Tolong ambilkan plaster untuk keningku saat ini. Saya bukan pria lemah. Erik, tolong jangan bahas apapun tentang kecelakaan ini, dan berpura puralah tak tau atau melihat Alea dan si brengsek itu!"
"Ta-tapi bos." gugup Erik karena takut kesehatan bosnya terganggu jika memaksa.
Frans, yang tiba saja ingin masuk, ia membawa dokumen hasil pemeriksaan. Terkejut saat Theo telah berganti pakaian rapih ala kantor yang jelas ia berjalan masih terlihat lemas.
"Theo. Tolong perhatikan kesehatanmu, tadi kamu hampir saja berlawanan dengan malaikat nyawa!"
"Ciiieh. Malaikat nyawa sedang menunda diriku Frans. Dia tak berani mengambil nyawaku, karena diriku masih ada kegiatan yang amat penting saat ini!" senyum miring melirik dokter Frans.
Dokter Frans yang melirik Erik. Ia hanya mendengus nafas panjang, lalu menggeleng kepala akan aksi sahabat bodohnya itu.
"Erik. Tolong berikan obat yang teratur. Saya takut jika luka dalam akan terjadi di beberapa waktu yang akan datang. Theo akan menyesal jika ia menghiraukan kesehatannya saat ini!"
__ADS_1
"Baik Frans. Terimakasih." pamit Erik.
DI BERBEDA TEMPAT CAFE STAR.
Alea sengaja menemui Sinta, karena ia yakin temannya itu rapat dadakan dan hadir suaminya disana tanpa Alea tahu. Karena ia pulang, tak ada tanda tanda mas Theo pulang ke rumah dan kembali ke kantor.
"Malam begini, kok Sinta belum datang sih. Kalau bukan karena video Irene, udah pasti gue aktif lagi bekerja. Gue ga bisa diem gini aja, gue harus cari pekerjaan baru. Apalagi posisi gue sekretaris tapi ga dianggap sama mas Theo dan di libatkan pertemuan klien." gumam Alea.
Hingga setengah jam kemudian. Sinta duduk menatap Alea yang berkutat dengan ketikan di sebuah laptopnya. Sinta melirik dan bertanya satu hal yang serius.
"Lo lagi apa Al?"
"Ta, gue habis ngelamar kerja. Ga bisa gue diem aja kaya gini."
"Loh, emang pak Venzo dan Pak Theo udah ngeluarin loh. Belum fix kan?" ungkap Sinta.
"Ta, tadi beneran pak Theo hadir rapat? Dia ada di kantor G?"
"Ya. Beneran, biasa aja kaya yang udah udah. Cuma tadi sedikit aneh, gak biasanya kancing kemeja pak Theo putus. Udah gitu ada noda merah."
"Heuumph. Merah? Seriusan, apa nodanya?" tanya Alea panik.
"Gak pasti. Gue terlalu fokus sama materi, jadi kayaknya itu perasaan gue aja. Terus di keningnya tuh jelas ada plaster gitu. Hahaaa .. udah kaya bocah sd aja."
"Dih. Kok ketawa sih emang lucu?"
"Nah kan. Udah mulai nih, kayaknya elo ada perasaan deh sama pak Theo. Kenapa lo ga beri jawaban aja sih?"
__ADS_1
Alea terdiam, ia menepis perkataan Sinta. Ia bicara jika di hatinya masih ada Haris dan sedang berusaha melupakan. Hingga di mana, Alea berbicara serius akan kedatangan mas Haris yang tiba saja menceritakan dirinya ingin meminta kembali.
"Apa .. Gue gak percaya Al. Gue harap lo bijak, inget pengorbanan pak Theo. Inget juga klo Haris selalu buat elo sakit dan kecewa. Lo klo kembali sama Haris, keterlaluan namanya. Lo gak takut, klo Haris kelak bakal manfaatin lo lagi?"
"Gue gak yakin sih Sin. Tapi mata dia kayak tulus gitu. Trus pas gue ngobrol, gue ngerasa ada piring makanan jatuh. Sekilas gue liat ada punggung pak Erik. Apa kira kira mas Theo dia ada di sana ya?"
Sinta terdiam, kala mengaduk jus lemon. Ia menatap aksi Alea yang sedang berfikir.
"Lo liat makanan nya apa?"
"Enggak. Gue melewatinya, pas gue ke atas lagi mastiin. Makanan itu udah bersih, mungkin udah di sapu sama ob."
Sinta pun memejamkan mata, ia takut jika saat Alea berbicara serius. Ada seseorang yang berjuang ingin memberi kejutan. Hanya saja time ga tepat, saat Alea bersama Haris tadi ... ?
Fix! Lo bodoh, sekarang lo hubungi pak Theo suami lo. Gue yakin, ini time yang tepat buat kasih kejutan manis. Buka hati lo Al, ga baik menyianyiakan pria seperti pak Theo. Itu kalau lo mau nyesel nantinya!! Kecam Sinta akan kebodohan Alea masih saja plin plan.
"Ok gue cabut dulu, gue emang mau pulang dan buat kejutan sama mas Theo."
Sinta pun meraih tas, ia mengantar Alea pulang sampai gerbang perumahan kompleknya.
"Gue anter, tugas gue juga jagain lo dari mantan brengsek lo yang pengen banget gue bejek bejek, tepis tamparan. Inget ya Al. Jangan melunak untuk kebodohan kedua kalinya." nyerocos Sinta membuat Alea tertawa penuh.
"Siap ... Sintaku." puji Alea.
Tbc.
Sambil tunggu Up lagi, yuks mampir lagi nih ke judul bawah temen litersi Author.
__ADS_1