Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
JEBAKAN ISTRI KEDUA


__ADS_3

PROOOK .. PROOOK.


Tepukan tangan seorang wanita, yang berbalik badan. Dari arah sudut kanan dengan sebuah benda kecil.


"Al .. le..ya. Aleaaa .. kamu cukup pintar untuk bersembunyi. Apa kamu ingin membalas diam diam padaku? Setelah aku merebut Haris, dan bahagia, eeum .. apalagi punya anak yang handsome, ga kaya kamu mandul." mengeja Irene sinis.


"Irene. Kamu di sini?" tanya Alea dengan bingung.


"Hahahaha.. Kenapa, cukup terkejut. Atau kecewa karena yang datang bukan Haris. Uups.. Mas Haris. Benar kan?" singgung Irene menyindir.


Alea cukup tenang, namun tetap saja. Ia tau siapa Irene, ia takut jika dirinya akan di buat dalam jebakan suatu video viral seperti beberapa bulan yang lalu.


"Irene. Kamu jangan salah paham, aku memang menagih janji pada Mas Haris. Karena aku ingin tahu siapa keluargaku yang sesungguhnya, bukan maksud lain, yang saat ini kamu pikirkan."


"Haah. Menagih janji? kalian bertemu. Kalian benar bertemu dengannya ber-dua .. Bagus sekali, aku sudah menukar pertemuan kalian satu langkah lebih cepat." tajam Irene.


"Ya. Tapi kamu jangan salah paham dulu! Mas Haris menemuiku karena suatu hal. Tapi aku hanya ingin bertemu karena dia jelasin siapa aku. Ta- tapi kalau kamu tahu, beritau padaku ya Ren! Kamu juga bisa ikut lihat dari jarak jauh. Tanpa Haris tahu, kamu disini. Aku dan Haris bertemu bukan untuk kembali."


BRUUUGH.


Irene mendorong Alea. Hingga tubuhnya terbentur sebuah dinding beton. Alea sedikit sakit, ia mencoba untuk menahan. Hingga di mana, ia memegang bahu kanan dan mencoba bangun perlahan.


"Lo pikir gue bego, Haah! Alea, gue tau siapa Haris. Dia setia dan selalu terbenam nama gue, jadi jangan membual kalau Haris yang nemuin lo suatu hal. Apa yang dia sampaikan?"


"Irene. Tenanglah, aku ga bermaksud. Tapi .."


"Ga usah basa - basi. Dalam ruangan ini cuma kita berdua, bebas lo mau manggil apa. Tapi inget satu hal. Sekali lagi lo nemuin Haris. Gue buat perhitungan jelas buat lo. Alea!"

__ADS_1


"Gue cuma aaaaakh .." belum sempat Alea memberikan isi surat dari kotak semalam, Irene sudah membubuhkan sesuatu.


Irene menuangkan sebuah darah tikus dari plastik. Hingga di mana, ia jelas merasakan bau anyir yang tumpah dari atas rambut, wajahnya dan pipi serta tumpah ke sebuah dress putih yang menembus hingga kedalam celah bajunya.


Alea mencoba mengatur nafas, hingga ia muntah berkali kali. Ia mencari sebuah kain untuk menghapus noda merah berbau busuk itu. Hingga di mana, ia mencari toilet. Tapi kran air di toilet itu tidak menyala, membuat Alea semakin muntah kala di wastafel dan kloset, terdapat potongan bangkai tikus dan binatang kecil seperti belatung.


UUUUUEEEK .. UUUUEEEEK.


Alea muntah berkali kali, ia phobia akan sebuah darah. Hingga di mana, ia mencoba berdiri. Ingin keluar dari ruangan itu. Tapi pintu itu terkunci begitu saja, Alea cukup lemas.


"Ren, cukup! Bantu aku keluar, kamu salah paham!"


"Ini baru permulaan, sekarang atur hidupmu sendiri Alea, phobia darah itu busyeit harus lo ilangin. Phobia bertemu mantan, itu yang harus lo tanam ukur, sebelum melangkah. Dasar bo - doh." cela Irene pergi setelah melemparkan tisue dari alas sepatunya ke wajah Alea, yang kini terlihat sulit bernafas.


Hingga di mana, Alea pasrah dan tubuhnya terjatuh begitu saja ketika mengetuk sebuah pintu besar. Sesaat Irene keluar, entah mengapa pintu itu terkunci lagi.


Teriakan Alea melemas, kala menggedor pintu. Ia sudah tak sanggup hingga ia tersungkur dan menutup matanya.


***


Di berbeda tempat. Cafe brown tempat khusus para kantoran meeting secara private.


"Lo di mana si Al?" bubuh Sinta menatap ponsel.


Sinta berkali kali menghubungi Alea. Hingga di mana ia menscroll chat pesan tadi pagi, ketika ia bekerja sebelum meeting. Alea janji akan menemui dirinya dan pak Venzo. Hingga di mana Sinta ingat, chat itu menunjukan sebuah gedung. Jika ia ingin bertemu seseorang.


"Syiiet. Pak Venzo. Saya pamit izin ya, satu jam saja. Perasaan saya gak enak. Saya janji setelah jam makan siang habis. Saya akan kembali sebelum waktunya tiba!"

__ADS_1


"Baiklah. Jangan lupa presentasi nanti sore ya Sinta!"


Sinta mengucap tanda hormat. Lalu dengan terburu buru. Ia pergi dengan mengambil tas dan kunci mobil sangat kilat.


"Sinta. Tu- tunggu saya!" teriak bos Venzo.


Tanpa menghiraukan, Sinta yang telah berada di loby parkiran. Ia terkejut ketika kunci mobilnya tertukar.


"Arrrgh... Ada ada saja." gumam Sinta.


Sinta kembali naik tangga, ia menaiki lift. Dan tepat saja pintu lift terbuka. Sang atasan menatap tajam dengan memegang kacamata doraemon yang bulat dan besar.


"Heuuumph. Anak muda yang tidak tau sopan santun, menyusahkan saja. Terburu - buru boleh. Tapi jangan sampai mengerjai saya juga harus ke lantai bawah." gerutu sang bos.


"Heeehee. Maaf pak bos, kunci mobil kita tertukar. Kalau begitu saya pamit!" senyum Sinta dengan malu.


Tiba Di Grand Steel.


Beberapa puluh menit, Sinta di buat terkejut akan beberapa orang yang mencoba membantu seorang wanita. Beberapa denyutan tiba saja di atur nafas seolah tak bernyawa. Sehingga Sinta tertarik untuk melihat.


"Astaga. Itu.. Aleaaaa ... " teriak Sinta menghampiri tubuh Alea. Ia beberapa kali memencet tombol nomor seseorang berharap bantuan datang.


Tbc.


Kisah temen litersi Author, yuks mampir lagi sambil tunggu Up!


__ADS_1


__ADS_2