
Beberapa kali ucapan belasungkawa di kediaman Alea. Alea hanya menatap gugup ketika salah seorang pria menghampirinya yang seharian berada di taman belakang rumah.
"Hapus air matamu, aku turut berbelasungkawa. Aku harap, tangisan itu tidak perlu lagi jatuh. Hanya menangisi yang jelas sudah tidak ada, resiko kemungkinan 99% dia sudah tenang bukan?"
Alea mendongak wajahnya, terus terang jika Haris bisa mudah datang, memberi muka dengan jelas Alea menyibakan tangan Haris yang menempel ke bahunya.
"Berhenti peduli Haris, kalau kamu datang hanya untuk menyakiti!"
"Alea. Mas tau, kamu bersikap seperti acuh, untuk menutupi dirimu yang kuat. Setelah mas bicarakan kebenaran kamu masih mau menghindar? Hey! Theo Anggara sudah mati terbakar hangus." dengan gelak tawa.
Haris menatap Alea. Wajah Alea kembali memerah dan mengeluarkan air mata. Alea mencoba menahan agar tetap tak terpancing emosi. Alea berusaha tak menerima, jika kejadian itu adalah Haris yang melakukannya.
"Haris. Kita tak pernah lagi mengenal. Setelah kita sudah hidup di jalan masing - masing. Pergilah, aku sibuk!"
"Alea jangan bersikap sibuk. Aku tau hatimu akan patah dan kecewa. Kembalilah mas janji akan memperbaikinya! Lupakan Theo!"
"Cukup Haris. Jangan katakan lagi, aku tak menyukai semua yang kamu katakan. Anggap kita pernah menikah tak pernah terjadi!"
Alea pergi meninggalkan Haris. Namun langkahnya di hentikan kala Haris berteriak dengan jelas.
__ADS_1
"Setidaknya jika kamu hamil. Dia memerlukan ayah Alea Trihapsari." teriak Haris.
Alea masih berjalan dalam mode menutup mata. Tubuhnya gemetar kala Haris bisa tepat ada di tempat yang ingin ia menyendiri. Belum lagi, Alea tak pernah membayangkan jika Haris memintanya kembali dengan cara yang mustahil.
"Jika aku hamil, aku tidak akan memilih pria iblis sepertimu Haris." balas Alea dan berlalu pergi.
Setelah beberapa waktu kembali, Alea merasakan hal yang amat perih. Kala suaminya Theo belum juga di temukan. Meski ahli forensik menyatakan tangan itu adalah dna asli Theo. Tapi Alea yang merasa jasadnya tidak utuh belum ditemukan, ia selalu merasa mas Theo akan baik baik saja dan masih hidup.
Alea menjambak rambutnya. Sedikit memukul mukul. Ia kesal, mengapa setelah jatuh hati dan berusaha membuka hati. Semua kembali terulang sakit, apa salahnya ia ingin bahagia. Apakah ini takdirnya menjadi istri yang selalu disakiti, baik itu ditinggalkan atau dikhianati. Tapi yang Alea alami, ia selalu merenung menatap langit.
'Kapan kebahagian itu ada, padaku?' ujar Alea memohon.
Alea cukup memutar mata. Di mana, ia sedikit pusing dan lelah. Lelah dan seperti ingin pingsan. Hal itu membuat dirinya tiba saja tergontai di atas teras.
Tak menunggu lama, terlihat beberapa orang datang, hal itu membuat Alea terdiam dengan wajah sembab, dengan tudung hitamnya.
"Mohon maaf, kedatangan kami adalah untuk memberikan hasil rekaman cctv dari lalu lintas. Sesaat sebelum kecelakaan terjadi."
"Baik, pak! Saya siap, saya akan ikut melihatnya." gemetar Alea, rasa hati dan wajahnya sudah amat lelah, berharap mas Theo selamat bisa keluar dari kecelakaan itu.
__ADS_1
"Mari ikut kami Bu!" ujar pengawas forensik.
Empat pengawas berdampingan, dan salah satunya membawa segala bukti yang kongkrit diberikan pada Erik. Erik menyambungkan langsung di laptop di samping meja, yang memang ia sedang memberi laporan pada Tuan Brian. Sementara Alea berada di sampingnya, yang tak lama Sinta ikut mendampingi.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN.
Alea menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia amat terkejut kala mobil mas Theo lost menerobos lampu merah. Dan di saat yang tepat, arah berlawanan truck tangki minyak milik negara melewati dengan begitu kilat.
"Enggak. Ini pasti kesengajaan, terjadi sesuatu pada mobil mas Theo. Uncle, aku yakin mas Theo tidak mungkin menyalahi aturan rambu lalu lintas. Itu pasti ada yang sengaja mencelakai. Erik, bantu kami untuk mencari banyak bukti!" pinta Alea saat itu.
"Nyonya. Tenanglah, Sinta bawa Alea pulang. Tim kami masih belum menemukan kamera Dashcam. Jika itu benar, kami tidak akan diam." ujar Tuan Brian.
Hinggga dimana Alea tidak bisa berfikir jernih. Ia membayangkan itu bukanlah mas Theo.
Sembab, sendu Alea membuat matanya menoleh ke arah jendela pintu. Alea berlari mengejar seseorang.
"Al, lo mau kemana? Jangan lari!" teriak Sinta.
"Mas Theo tadi di depan, Sin. Percaya deh sama gue. Mas theo tadi ada, iya. Gue ga salah liat itu beneran mas Theo." senyum Alea, membuat Sinta memegang erat tangan sahabatnya itu dan memeluk.
__ADS_1
"Lo yang sabar, Al!" lirih Sinta ikut menetes air mata, Alea yang akan berlari di hentikannya.
Tbc.