
Theo menutup ponsel. Lalu Alea dengan sontag ingin tersenyum. Kala pria di sampingnya membuat lucu, mana bisa begitu saja mencopot jabatan dokter.
Dengan menggigit bibir, ia kembali pamit pada Theo. Saat Alea pamit, ia telah mendadah pada Sinta yang ikut menoleh dari dalam mobil yang akan memarkir.
"Alea .. " teriak Theo.
"Ya, ada apa Mas?" menoleh tersenyum sipit akan cahaya pantulan.
"Aku sedikit terlambat. Jika sudah akan pulang, tunggu dan kabari ya!" Alea pun senyum mengiyakan.
"Makasih mas, setelah akan pulang aku akan kabari dan menunggu mas." pamit Alea, mengecup punggung tangan suaminya itu.
***
MEJA NO 8.
"I See, jadi kemana aja sih. Sahabat gue ini bener bener deh."
"Baru juga sampai, udah to the point aja pertanyaan. Owh ya, gimana soal kerjaaan tender pak Venzo?" tanya Alea.
"Tender yang mana dulu nih. Lo mah, bikin gue pusing. Ga di kantor, ga di time yang nyaman. Masih aja beban ceceran pekerjaan. Always. Bisa ga sih, enggak bahas kerjaan yang mumet Al." lirih Sinta.
__ADS_1
"Gak gitu sayang. Ya udah kita pesen makan dulu ya. Sorry aku lupa moto kita ketemuan, ga ngomongin kerjaan menumpuk." senyum Alea.
Sinta merasa ada yang berbeda, kala itu melihat wajah Alea yang terlihat baik - baik saja. Ia cukup telah mendengar, jika Haris telah resmi menceraikannya beberapa bulan lalu. Hingga di mana, ia cukup terkejut saat pria yang lebih memilih istri siri sang seleb beken. Tapi terlambat, waktu yang membuat Alea cukup terlambat tau, jika saja Haris terus terang meminang Alea. Mungkin sahabatnya kini tak akan seretak itu di hatinya.
Tidak ada yang ingin sebuah perceraian terjadi pada setiap wanita, tapi pahamlah jika selama belasan tahun, dan kini disetiap rumah tangga mereka jalani sudah bertahun tahun, harus kandas hanya hal sahabatnya itu tak kunjung hamil. Di talak dengan alasan mandul, harkat, martabat wanita seolah sebagai pencetak anak saja.
Sinta yakin, sebuah penyakit atau peyumbatan yang membuat Alea tidak kunjung hamil, atau bisa saja Haris yang mandul sehingga beban ke Alea lah yang terkena imbasnya mempunyai penyakit. Buktinya Alea harus mempunyai sebuah kista, yang mungkin salah satu dari pasanganlah yang kotor, apesnya Alea yang menerima penyakit itu karena suatu kesalahan.
"Sin. Kok bengong jadi salting di liatin gitu deh."
"Gak. Gue seneng aja, wajah lo ceria. Happy kayaknya ya?" tanya Sinta.
Alea sedikit terdiam, ia memang senang saat ini. Sakit hatinya pada Mas Haris seketika sedikit terobati, karena kagum akan sikap Theo. Tapi bukan berarti, ia mencintai pria yang menikahinya saat ini, ah tapi Alea juga bingung dengan perasaan yang tak menentu. Moto hidupnya adalah setelah disakiti ia tidak stres agar sakitnya tak kunjung kembali.
Penjelasan Sinta cukup membuat Alea ingin tau. Pasalnya ia ingin menanyakan sesuatu tapi ia malu untuk mulai bertanya duluan. Karena saat ini, pernikahannya dengan pak Theo cukup sembunyi. 'Apa jadinya jika Alea bicara, pak Theo kini suaminya.'
"Owh ya. Terus gimana cukup lancar?"
"Akh. Jangan di tanya, gue malas karena sesuatu yang bikin sakit mata gue." jelas Sinta.
"Kenapa, klien rese ya. Ga tembus?" ucap Alea yang menyendok satu suapan makan.
__ADS_1
"Mmmmh. Enggak, lancar tapi sedikit kendala. Karena lo tau gak, waktu itu sekertaris yang namanya Claudia, dia sekertaris lama. Jadi apa boleh buat. Malas aja, terlalu caper pas meeting kerjasama selesai."
"Caper sama siapa?"
"Bos Theo lah." ungkap Sinta, membuat hati Alea kesal dan tidak mood.
Alea merasa tak nafsu makan. Entah mengapa ia merasa tak berselera. Ketika menyebut nama wanita bernama Claudia, ia sedikit terbebani. Padahal bertemu saja sekali, dan pikiran Alea saat ini terbang melanglang buana. Beberapa minggu ia ditinggal pak Theo, tapi pertemuan dengan Sinta membuat Alea jadi sebal jika bertemu atau bahkan dijemput suami pura puranya itu.
"Kok. Lo diem Al, cemburu ya?" goda Sinta.
"Enak aja. Gue cuma sedih, klo bukan karena irene. Gue pasti lancar, kita kerja bakal ketemu satu tim lagi dong." alibi Alea menjawab Sinta.
"Semoga lo cepet kerja lagi ya! Gue udah minta tolong sama bos Venzo tuh. Kenapa Alea belum juga masuk kerja, padahal kan udah beberapa pekan nama lo udah membaik dan terhapus dari berita palsu si Irene." Sebal Sinta.
Alea yang meminum jus, tak lama ia menatap seseorang yang ia harapkan untuk bertemu. Cukup lama baginya tak bertemu, namun ketika di saat seperti ini. Hatinya sangat sedih dan ingin rasanya mengubur tak pernah melihat lagi.
"Al. Lo kenapa sih?" tanya Sinta sedikit bingung, lalu menoleh kemana arah mata Alea saat ini.
"Lihat deh! mas Haris sama anak laki lakinya. Kenapa sakit ya? apa sakit karena ga bisa kasih anak. Lalu kalau saat ini gue nikah, dan ga bisa juga beri anak. Apa gue bakal dicerai, dan gue ga berhak bahagia?" lirih Alea, membuat Sinta mendekat memberi suport pelukan.
"No! Bukan salah lo Al. Ok! Kita pindah dari meja ini, sorry karena kita janjian disini. Ayo kita tinggalin meja ini, jangan sampe mantan lihat. Inget mantan suami kaya gitu, bakal nyesel di kemudian hari. Lo ga sakit, lo hanya apes aja." ujar Sinta, menarik Alea yang termangu melihat Haris dan anak laki lakinya sedang memesan, dengan tawa pecah, raut bahagia.
__ADS_1
'Aku turut bahagia, karena keinginan kamu mempunyai anak tercapai mas Haris.' batin Alea yang pindah ke ruangan private.
Tbc.