
Hoek hoek hoek
"Sayang, kamu kenapa sih? Muntah terus tiap pagi," Shabita memijit tengkuk suaminya yang sedang muntah di toilet.
"Udah yuks, kamu istirahat lagi!" Shabita membantu membasuh mulut Galang. Tubuhnya dipapah oleh Shabita. Wajah Galang juga terlihat pucat.
"Aku kayaknya masih jet lag sama masuk angin deh, sayang." duga Galang. Shabita menidurkan Galang kembali.
"Lemes banget, sayang." keluh Galang.
"Iya, kamu istirahat dulu. Kita juga masih punya jatah libur 2 hari lagi." Shabita menutupi tubuh suaminya dengan selimut.
"Tunggu disini ya, aku bawain sarapannya ke kamar aja sama sekalian bikinin air jahe." ucap Shabita. Galang mengangguk pelan. Perutnya terus terasa seperti diaduk-aduk. Mual pusing jadi satu.
"Galang mana, sayang?" tanya Marni yang melihat menantunya saja menuju meja makan.
"Galang, lagi gak enak badan, ma. Mual terus dari tadi, Aku mau sarapan di kamar aja sama dia." Shabita mulai memasukkan makanannya ke piring.
"Galang masuk angin?" terka Bagas.
"Mungkin, pa. Mau aku bikinin air jahe juga sekalian." tutur Shabita.
"Itu biar bu Ani aja yang bikin, kamu lebih baik temani Galang." usul Bagas.
__ADS_1
Ani adalah ART baru disana. Dia merupakan kerabat Marni di kampung. Umurnya tidak jauh dengan Marni.
"Oh ya udah kalo gitu," Shabita kembali ke kamar dengan nampan berisi makanan.
Matanya tidak melihat Galang di kasur. Terdengar lagi suara orang muntah-muntah di kamar mandi. Shabita segera menaruh makanan di nakas dan menghampiri Galang yang sudah sangat lemas itu.
"Sayang, kita ke rumah sakit aja ya." Shabita benar-benar cemas dengan kondisi Galang. Wajahnya pucat sekali.
"Gak usah, sayang. Aku gak papa kok." Galang menolak untuk diperiksa.
"Ya udah, aku bantu lagi ke kasur." Shabita kembali memapah Galang.
Galang duduk bersandar di ranjang. Kepalanya masih terasa muter.
"Mama, papa tolong!" pekik Shabita dengan air mata yang sudah mengucur namun belum ada yang datang. Shabita meletakkan Galang dari pangkuannya lalu berlari keluar kamar. Dia berteriak meminta pertolongan lagi.
"Mama, papa tolong!" teriak Shabita dari lantai dua. Bagas dan Marni yang mendengarnya langsung berlari. Mereka ikutan panik melihat Shabita menangis.
"Ma, pa, Galang pingsan." ucap Shabita. Lalu mereka masuk ke kamar mandi. Galang masih tergeletak tak berdaya. Marni ikut menangis bersama Shabita.
"Mama, Abit, tenang. Galang baik-baik aja sekarang tolong panggil sopir untu bantu angkat Galang ke mobil. Kita ke rumah sakit," tutur Bagas. Marni segera mencari sopirnya. Mereka khawatir pada Galang. Tidak biasanya Galang begitu.
Dengan susah payah Bagas juga kedua pegawainya membawa tubuh Galang melewati anak tangga turun ke lantai satu.
__ADS_1
"Besok besok papa harus pasang lift di rumah," cetus Bagas setelah kelelahan menggotong Galang.
Dua mobil mewah melesat kencang membelah jalanan membawa Galang ke rumah sakit.
"Sayang, bangun!" Shabita mengguncang tubuh Galang yang tertidur dipangkuannya. Air matanya tidak berhenti keluar. Sungguh, dia belum siap ditinggal oleh suaminya.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat yang cukup terkenal di kota.
Perawat segera membawa Galang ke UGD. Dokter dengan sigap memeriksa Galang. Tak butuh waktu lama dokter keluar lagi.
"Dokter gimana anak saya?" tanya Bagas yang melihat dokter keluar.
"Anak bapak baik-baik saja." ucap dokter paruh baya itu.
"Kenapa anak saya bisa sampai pingsan dok?" tanya Bagas lagi. Marni dan Shabita berdiri di samping Bagas menanti jawaban dokter.
"Apa pasien sudah menikah?" dokter balik bertanya.
"Sudah, dok. Saya istrinya," sahut Shabita.
"Lebih baik ibu periksa dulu ke Obgyn," saran dokter.
"Hah? Kenapa harus ke obgyn, dok?" heran Shabita dan juga kedua orang tua Galang.
__ADS_1
"Untuk memastikan kalo analisa saya ini tidak salah, ayo ibu periksa dulu ke obgyn!" usul dokter lagi. Shabita masih bengong, belum paham maksud perkataan sang dokter.