Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 80


__ADS_3

"Makasih, ya!" ucap Tiara. Shabita hanya tersenyum melihat Tiara sudah berganti seragam. Untung dilokernya selalu sedia seragam lain.


"Gue pernah jahat sama lo, pernah benci sama lo juga tapi lo udah dua kali nolong gue!" Tiara menatap Shabita.


"Santai aja, sesama manusia kita memang harus tolong menolong, kan?" Shabita mengusap lengan Tiara.


"Rasanya gue malu dengan apa yang udah gue lakuin dulu, sekarang gue ngerasain apa yang mereka rasain. Di bully tuh gak enak!" lirih Tiara penuh sesal. Hatinya benar-benar menyesal.


"Kalo kamu nyesel, jangan ulangi lagi. Minta maaf sama mereka yang udah kamu jahatin." nasehat Shabita.


"Iya, gue akan minta maaf bila perlu menebus semuanya." ucap Tiara. Mulai sekarang dia akan merubah perangai buruknya.


"Cakep. Yuks kita keluar!" ajak Shabita. Keduanya lantas kembali ke kelas.


Tiara dibuat tercengang lagi, di mejanya banyak sekali tulisan berupa umpatan, makian, sampai bukunya ikut dicoret-coret. Semua murid yang ada disana memandang rendah Tiara.


Air mata Tiara lolos kembali. Rasanya sakit sekali.


"Siapa yang udah lakuin ini ke gue?" teriak Tiara.


Semua orang tidak ada yang menjawab. Pura-pura tidak mendengar Tiara termasuk gengnya.


Tiara berusaha menghapus tulisan itu tetapi tidak bisa.


"Bersihinnya pake duit hasil korupsi, baru bisa. Ups!" celetuk Vanya. Mereka tertawa.

__ADS_1


Tangan Tiara mengepal sempurna menahan amarah, namun tidak akan sanggup meluapkannya. Dia sadar siapa dia sekarang.


"Tenang, Ra!" Shabita mengusap lembut punggung Tiara. Napas gadis itu naik turun dengan air mata yang tidak berhenti.


"Pergi lo dari bangku gue, gak sudi sebangku sama anak koruptor!" Vanya melempar tas Tiara tepat ke mukanya.


"Yuks, duduk sama gue aja!" ajak Shabita. Tiara hanya menunduk, malu untuk menampilkan wajahnya yang selama ini dia gaungkan paling cantik.


"Emang cocok lo berdua temenan, anak koruptor sama anak kecentilan!" cibir Vanya. Bibirnya menyungging sinis pada keduanya.


"Maksud lo apa bilang cewek gue kecentilan?" suara Galang menghentikan tawa Geng Vanya.


"Cih, pangeran berkuda poninya datang!" decih Vanya.


Ketiga laki-laki mostwanted masuk ke kelas. Galang menghampiri meja Vanya.


"Malesin banget gak sih guys, cowok ikut campur urusan cewek!" delik Vanya menghindari tatapan Galang yang menusuk.


"urusan Shabita jadi urusan gue karena dia cewek gue!" timpal Galang dingin. Aura Galang yang dulu sudah keluar. Tatapannya begitu menusuk. Vanya sebenarnya tidak berani melihat Galang secara langsung makanya dia selalu memalingkan wajah.


"Udah, Lang!" Kevin dan Amir menyeret tubuh Galang menjauh dari meja Vanya.


Galang masih heran kenapa mereka tidak suka pada istrinya padahal Shabita tidak pernah mengusik mereka.


Orang-orang yang punya penyakit hati memang seperti itu, tidak melakukan kesalahan pun tetap dibencinya. Benar di benci, salah di caci maki. So, yang waras dan punya hati sehat lebih baik biarkan saja, balas ketika sudah melewati batas.

__ADS_1


"Sayang, kamu gak papa?" Galang menatap Sayang istrinya.


"Aku gak papa!" Shabita mendongak ke arah Galang.


"Kalo mereka jahat sama kamu, bilang aja sama aku!" pinta Galang.


"Iya bawel." cicit Shabita. Galang mengusak sayang poni istrinya.


Sungguh, Tiara ingin sekali jadi Shabita. Disayangi laki-lakinya, punya keluarga yang selalu ada untuknya, walaupun Shabita sudah tidak punya orang tua tapi dia tidak kehilangan kasih sayang keluarga.


Tiara berharap suatu saat nanti dia akan menemukan cinta seperti mereka.


"Hmmm, aku gak bisa duduk disini lagi dong?" Galang melirik Tiara. Gadis itu merasa tidak enak hati.


"Euh kamu disini aja, Lang. Biar aku yang pindah bangku lain." Tiara hendak pindah tapi dicegah Shabita.


"Udah kamu disini aja!" cegah Shabita.


"Sayang, tapi kan..."


Shabita memotong ucapan Galang dengan pelototan.


"Anjay, tadi aja garang kek singa eh sekarang berubah jadi kucing persia." ledek Amir yang sudah cekikikan dengan Kevin.


"Ayo Abit, hukum aja si Galang!" hasut Kevin.

__ADS_1


"Diem lo!" Galang menendang bangku Kevin. Hanya karena tidak bisa sebangku lagi dengan istrinya, Galang jadi misuh-misuh.


__ADS_2