Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 88


__ADS_3

"Maksdunya apa, pa?" Galang menghampiri Bagas dan Marni.


"Galang?!" ucap Bagas gugup.


Marni sendiri tidak berani menatap Galang yang penuh tanda tanya.


"Papa dan mbak pernah menikah?" pertanyaan itu yang pertama kali lolos.


"Eung, Enggak!" sangkal Bagas. Marni hanya diam.


"Aku dengar loh perbincangan kalian dari tadi sampai yang terakhir barusan. Papa kenapa ngajak mbak menikah?" pertanyaan kedua dilontarkan.


"Enggak, kamu salah dengar kali." Bagas masih menyangkal padahal jelas tadi dirinya memaksa Marni untuk menikah.


"Kenapa papa bohong? Apa yang papa sembunyikan? Jujur sama aku, Pa sebelum aku sendiri yang selidiki semuanya." pinta Galang. Bagas diam, dibuat mati kutu.


Apakah ini saatnya untuk jujur pada Galang? Bagas melirik Marni, wanita menggeleng pertanda jangan jujur.


Galang melihat keduanya secara bergantian. "Apa yang kalian sembunyikan? Apa selama ini kalian selingkuh?" tuduh Galang. Keduanya kompak menggeleng.


"Enggak. Bahkan papa sangat mencintai Mey," sahut Bagas.


"Terus kalo papa mencintai mama kenapa papa malah meminta mbak buat menikah dengan papa?" Galang masih menyimpan Segudang pertanyaan.


"Ini semua demi kamu!" celetuk Bagas.


Tubuh Marni sudah bergetar lemas, belum siap jika rahasia yang selama ini mereka sembunyikan terbongkar.

__ADS_1


"Demi aku?" Galang menunjuk dirinya sendiri.


"Marni izinkan saya untuk jujur sama Galang, ini juga demi kebahagiaan kamu." Bagas menatap Marni. Wanita itu menggeleng pelan. Sudut matanya sudah berair. Demi apapun Marni belum siap. Bagaimana setelah jujur, Galang malah membencinya? Sungguh Marni tidak ingin jauh dari Galang.


"Kita sebaiknya duduk di ruang tengah!" ajak Bagas. Dengan berat hati Marni mengikutinya.


Berkali-kali Marni memainkan jari-jarinya, cemas serta khawatir juga takut tergambar di wajah Marni yang manis.


"Silahkan papa jelaskan sama aku!" pinta Galang.


Bagas menghela napas, mengumpulkan oksigen ke paru-parunya. Ketakutan Bagas dengan Marni sama, takut Galang benci terhadapnya. Biar bagaimana pun Galang harus tahu kebenarannya.


"Sayang, kenapa belum ke kamar dan mandi sih?" sela Shabita yang baru turun dari kamarnya.


"Ada apa? Kok mukanya pada tegang?" tanya Shabita yang melihat mereka bertiga wajahnya menegang seperti baru ketemu hantu.


"Ada apa, sayang?" tanya Shabita lagi setelah duduk disamping suaminya. Gadis berponi itu terlihat segar karena sudah mandi. Wangi tubuhnya begitu memabukkan Galang sejenak.


"Kita diem aja biar papa dan mbak yang ngomong!" pinta Galang. Shabita menatap heran.


"Papa Silahkan dilanjut!" tambah Galang.


Bagas masih ragu-ragu sedangkan Marni sudah pasrah dengan apapun yang terjadi.


"Papa bingung harus mulai darimana dulu." aku Bagas yang serasa serba salah.


"Kenapa harus bingung? Papa tinggal ngomong aja." sahut Galang.

__ADS_1


"Sebelumnya papa minta maaf karena sudah merahasiakan ini dari kamu tapi papa gak bermaksud untuk menjauhkan kamu dari mama kamu. Ini salah papa, Galang. Saat itu papa sangat menginginkan seorang anak tapi mama divonis tidak akan mempunyai anak." jelas Bagas sendu.


"Maksudnya gimana, Pa? Tolong jangan berbelit-belit." pinta Galang tanpa sabar.


"Sebenarnya kamu bukan anak kandung mama Mey." ungkap Bagas.


"Apa?" Galang kaget bukan main.


"Maksud papa, aku hanya anak pungut?" tanya Galang menatap Bagas tidak percaya. Sebagai istrinya Shabita, berusaha menenangkan Galang. Ditautnya jari jemari Galang.


"Bukan. Kamu anak kandung papa dari wanita lain." Bagas melirik Marni sejenak. Wanita itu sudah tidak bisa membendung air matanya. Tubuhnya benar-benar lemas, perasaannya kian tak menentu.


"Jadi papa selingkuh?" ucap Galang dengan suara tercekat.


"Tidak, papa menikah dengan wanita itu. Kamu terlihat sah," imbuh Bagas.


Galang geleng-geleng tidak percaya. Selama ini dia menganggap Mey adalah mama kandungnya. Tak pernah sedikit pun terbayang dalam benaknya tentang fakta ini.


"Sayang, tenang!" Shabita mengusap lembut punggung suaminya. Dia tahu perasaan Galang saat ini.


"Lantas mama kandung ku, Pa?" Galang harus tahu siapa ibu kandungnya.


Bagas diam, matanya melirik Marni yang sudah menangis. Tentu saja membuat Galang curiga.


"Apa mama kandung ku itu mbak?" tebak Galang.


Bagas mengangguk pelan, sedangkan Marni sudah terisak-isak. Apakah nanti Galang akan menyayanginya sebagai ibu atau malah membencinya karena telah bohong? Marni belum siap dengan hal buruk yang akan terjadi.

__ADS_1


Ini semua gara-gara Bagas yang terus membujuknya menikah hingga Galang tahu perbincangan mereka.


__ADS_2