
Sesampainya di rumah, Marni meminta Galang untuk berbincang di ruang santai sedangkan Shabita langsung menuju ke kamar.
"Ma, ada apa sebenarnya?" tanya Galang sendu.
"Shabita hamil, Lang." sahut Marni.
"Apa?" ucap Galang dan Bagas bersamaan.
"Iya, Shabita hamil. Usia kandungannya masih 3 minggu." jelas Marni.
"Alhamdulillah," ucap Galang sumringah sekali.
"Alhamdulillah, papa punya cucu." Bagas tidak kalah senangnya. Marni ikut tersenyum.
"Tapi ma, kenapa Shabita diem aja?" tanya Galang lagi setelah larut dalam kegembiraan.
"Itu dia masalahnya, Lang. Shabita belum siap punya anak, dia sempat syok pas pertama tau. Sampai nangis di ruangan dokter." lirih Marni.
Galang menghela napas pelan. Sudah dia duga bahwa Shabita tidak siap akan hal ini.
"Kamu harus sabar dan jangan membuat Shabita stres ya," saran Marni.
"Mama khawatir, Lang." lanjut Marni sangat cemas.
"Iya, ma. Perlahan Galang akan mencoba ngasih pengertian ke dia." ucap Galang. Hatinya terasa nyeri. Dia kira kehadiran anak akan membuat keluarganya bahagia namun kenyataannya tidak. Mental istrinya yang belum siap membuat Galang merasa bersalah.
"Kalo gitu, aku ke kamar dulu ya, ma." pamit Galang.
"Iya sayang, vitamin istri mu biar mama dulu yang simpan." tukas Marni. Galang hanya mengangguk.
Kakinya terasa berat melangkah. Perlahan Galang memutar handle pintu, dilihatnya Shabita sedang berbaring memunggungi arah pintu.
"Sayang," Galang duduk di bawah kaki istrinya.
__ADS_1
Shabita diam tak merespon. Tubuhnya seperti bergetar dengan isak. Galang tahu bahwa Shabita sedang menangis.
"Sayang, maaf!" Galang menatap tubuh istrinya. Dia tidak berani untuk menyentuhnya.
"Maaf, aku udah ingkar janji." Galang menelan salivanya susah payah. Ulu hatinya seperti diremas-remas.
"Aku bakalan tanggungjawab." lanjut Galang.
Shabita masih belum merespon. Galang bingung harus bagaimana. Dia lalu bergerak berbaring memeluk istrinya dari belakang padahal sudah mepet ke tepi.
"Maafin aku sayang, aku udah hamilin kamu." ucap Galang sendu. Shabita makin terisak-isak.
"Kamu br*ngsek, kenapa kamu hamilin aku padahal kita masih sekolah?" tanya Shabita dengan suara bergetar.
"Maaf aku waktu itu lupa pake pengaman," jawab Galang yang membuat Shabita geram. Tangan Galang yang melingkar memeluknya segera dilepaskan sekali tarikan hingga Galang terjungkal ke lantai. Shabita duduk di atas ranjang sambil menatap Galang, marah, kesal, benci jadi satu.
"Kamu pikir maaf doang cukup, Lang?" bentak Shabita sambil menangis. Galang segera ikut duduk diranjang, dipegangnya kedua lengan Shabita namun ditepis.
"Maaf, sayang. Aku gak sengaja," ucap Galang.
"Maaf maaf, kamu cuma bisa bilang maaf tanpa mengerti kondisi aku."
"Aku ngerti, sayang!"
"Terus kalo ngerti kenapa kamu hamilin aku, hah?" Shabita masih menangis. Matanya memerah, menatap Galang.
"Aku gak sengaja," sendu Galang.
"Enggak, kamu pasti sengaja kan buat aku hamil?" tuduh Shabita.
"Enggak, sayang!" sangkal Galang.
"Aku belum siap punya anak. Aku ingin sekolah, aku ingin kuliah, aku belum siap." pekik Shabita sambil memukul-mukul perutnya lagi.
__ADS_1
"Sayang, tenang!" Galang akan memeluk Shabita tetapi di tolak lagi. Shabita benar-benar merasa kecewa pada Galang.
"Kenapa kamu mau berhubungan dengan ku kalo kamu sendiri tidak mau punya anak?" Akhirnya Galang ikutan kesal. Mohon maaf kesabaran Galang tidak setebal muka orang yang punya hutang yang tiap ditagih nanti-nanti tapi kerjaan shopping.
"Ya karena yang maksa aku," balas Shabita dengan tatapan nyalang.
"Kapan aku paksa kamu hah? Kapan? Seharusnya kalo kamu emang gak siap dengan pernikahan ini, bilang dari awal. Gak akan aku mati-matian pertahanin kamu," timpal Galang dengan nada naik.
"Seharusnya waktu itu kamu nolak untuk aku ajak memulai semuanya. Aku laki-laki normal Shabita yang punya hasrat, Untuk apa aku punya istri kalo hanya pajangan," lanjut Galang.
"Ya udah kalo gitu kamu ceraikan aku," celetuk Shabita menantang Galang. Wajah Galang berubah merah dengan rahang yang mengeras.
"Ternyata kamu lebih memilih jadi janda anak satu daripada mempertahankan pernikahan kita." sinis Galang.
"Aku akan gugurkan anak ini," timpal Shabita.
Hati Galang sakit mendengar itu. Shabita begitu tidak menginginkan anaknya hadir.
"Aku pikir hanya aku manusia paling bodoh tapi ternyata kamu lebih bodoh. Aku selalu berharap anak akan mempererat pernikahan kita tapi ternyata malah sebaliknya." Galang berucap dengan suara yang bergetar. Matanya memanas menahan lahar yang mendesak ingin keluar.
"Seharusnya, aku sadar kalo kamu tidak benar-benar ingin mempertahankan pernikahan ini. Kamu harusnya bilang kalo kamu tidak mencintai ku agar aku tidak berharap lebih sama kamu. Kamu lebih memilih untuk mengerjar cita-cita, sekolah sampai selesai seperti orang lain dibanding mempertahankan anak ku padahal aku mampu memberikan apa pun untuk mu." lanjut Galang dengan lelehan air matanya.
"Sekarang, silakan lakukan apa pun yang menurut mu baik. Aku hanya akan meminta maaf pada papa Yudha karena tidak bisa menjadi suami yang baik juga tidak bisa menjalankan amanatnya. Silakan lakukan semua hal yang menurutmu bahagia Shabita. Tapi ingat satu hal, kamu akan jadi seorang pembunuh jika hal itu terjadi, dan jangan harap akan bertemu dengan ku lagi setelahnya." tegas Galang. Shabita hanya menangis tergugu.
"Mungkin dengan cara menggugurkannya juga baik untukku, dengan begitu aku tidak akan merasakan mual si*lan itu setiap pagi." Galang tersenyum miris. Harusnya kabar kehamilan menjadikan moment paling bahagia dalam hidupnya namun ternyata tidak. Shabita benar-benar telah menghancurkan semua harapan Galang.
"Silakan lakukan semuanya yang menurut mu baik!" Galang melempar sebuah foto USG ke pangkuan Shabita. Istrinya juga masih menangis menunduk. Galang meninggalkan Shabita sendirian.
Shabita melihat foto USG tetsebut dengan tangan gemetar, tangisnya semakin menjadi-jadi kala melihat setitik objek yang merupakan anaknya. Apa dia tega menghancurkan buah hati bersama laki-laki yang sangat disayanginya?
Shabita terus menangis sambil memeluk foto tersebut. Begitpun yang nulis ikutan menangis bersama pasutri kencur. Jika Shabita menangis karena belum siap punya anak, berbeda dengan yang nulis, sudah siap namun belum dikasih kepercayaan.
(Eps ini lebih panjang dari biasanya, dan sedikit mengandung bombay walau tidak yakin yang baca ikutan membombay xixi)
__ADS_1