
Shabita yang melihat suaminya tanpa bersuara itu semakin merasa canggung.
"Ya udah kalo gitu. aku tidur duluan, Lang. Aku udah menyampaikan ini, semoga kamu setuju ya, Lang. Biar kamu juga tidak terbebani oleh ku mungkin aku juga akan kembali ke Bandung." untuk pertama kalinya, Shabita tersenyum pada Galang. Setelahnya Shabita memilih tidur lagi di sofa.
Shabita pikir mungkin jalan terbaik untuk mereka, Galang juga sudah sudah menganggapnya tidak baik, kan, jadi untuk apa Shabita bertahan.
Galang lama sekali tidak berekspresi. Hatinya serasa diremas, Ada yang lebih sakit daripada rasa tidak suka melihat Shabita bersama cowok lain. Kali ini sangat sakit. Hubungan mereka padahal belum dimulai sama sekali masa harus segera berakhir.
Semalaman Galang tidak bisa tidur. Gelisah memikirkan ucapannya yang bisa saja menyakiti Shabita lalu meminta berpisah. Mata Galang terlihat suntuk di pagi harinya.
Di meja makan, Galang tidak melihat Shabita maupun Bagas.
"Mbak, yang lain kemana?" tanya Galang pada Marni. Galang duduk di meja makan sendirian.
"Oh itu pak Bagas berangkat subuh tadi karena harus ke Singapura, kalo non Shabita udah berangkat tadi pagi." jelas Marni seraya menyiapkan sarapan Galang di piring. Aroma nasi goreng yang lezat menusuk hidung Galang.
"Oh!" balasan Galang untuk penjelasan Marni.
Galang melanjutkan sarapannya seorang diri. Perlahan Galang mengunyah nasi goreng tersebut, mencecap rasanya. Mata Galang membeliak mana kala merasakan kelezatan rasa nasi goreng. Galang sarapan dengan lahap tanpa menyisakan sebutir nasi pun di piringnya.
"Enak ya, den?" tanya Marni sambil membereskan piring.
"Iya enak banget, mbak. Resep baru bukan sih, ini?" kepo Galang.
"Resep baru, Chef baru!" timpal Marni.
"Chef baru?" tanya Galang heran.
__ADS_1
"Iya, Chef barunya ya non Shabita. ini dia yang masak loh!" jelas Marni.
Galang ternganga mendengarnya tidak percaya istrinya bisa masak seenak ini. Galang gegas menyampirkan tasnya kemudian berangkat sekolah.
...****************...
"Abit, yang sabar ya!" Hanin memeluk Shabita.
Istrinya Galang itu baru saja menceritakan perihal orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan pada Hanin. Kedua gadis cantik itu saling berpelukan dibawah pohon yang ada di taman belakang.
"Aku udah berusaha untuk ikhlasin mereka, kok!" Shabita terisak.
Hanin mengusap-usap punggung sahabatnya supaya tenang.
"Mereka pasti tenang dialam sana. Lo cukup doain mereka aja!" tutur Hanin. Shabita mengangguk.
"Jangan nangis lagi ya, kan disini masih ada gue!" Hanin mengurai pelukannya.
"Pokoknya kalo ada apa-apa lo harus cerita sama gue!" pinta Hanin.
"Iya bawel!" ledek Shabita.
"Dih. Tapi aku kepo soal hubungan lo sama Galang."
Perlahan senyum Shabita memudar.
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama Galang!" ucap Shabita.
__ADS_1
"Masa? Gue gak percaya, sumpah gak percaya banget!"
"Ish dibilangin gak percaya!" rajuk Shabita, pura-pura cemberut.
"Mata elang gue yang sipit ini menangkap hal lain dari kalian berdua jadi jangan coba-coba bohongin gue." sahut Hanin yakin dengan hubungan keduanya.
Shabita menghembuskan napas kasar.
"Tuh kan, kentara banget lo." timpal Hanin lagi.
"Iya iya, ini aku cerita. Dengerin baik-baik, pasang telinga yang bener!" Shabita menyerah. Mungkin dengan bercerita sama Hanin akan membuatnya punya teman curhat masalah rumah tangganya nanti.
"Buruan jujur, kalo enggak gue lempar lo ke pluto." seru Hanin tidak sabar.
"Aku sama Galang sebenarnya udah nikah!" bisik Shabita.
Mata Hanin melotot walaupun hanya sedikit karena dia sipit.
"What?" teriak Hanin kaget.
"Ih gak usah teriak gitu, lebay deh." Shabita memukul bibir Hanin.
"Gue masih belum percaya, lo bohong kan?" sangkal Hanin.
"Tadi nyuruh jujur, udah jujur disangka bohong. Ya udah sih kalo gak percaya."
"Bukan gitu, gue masih belum percaya bukan berarti gak percaya." sahut Hanin.
__ADS_1
Shabita mengeluarkan HP nya lalu memperlihatkan foto pernikahannya pada Hanin. Barulah Hanin benar-benar percaya. Shabita menceritakan semuanya pada Hanin termasuk keinginannya untuk berpisah kembali dengan Galang.
"Gue kira hal seperti ini cuma ada dalam novel tapi ternyata di dunia nyata juga ada. Mama Hanin mau nikah juga!" seru Hanin seperti memanggil mama nya. Shabita membekap mulut Hanin supaya tidak ada yang mendengar