
"Sayang, sebentar lagi kita kan ujian kenaikan kelas, kita harus rajin belajar." ucap Shabita sambil memasukkan buku pelajar ke tasnya dan tas suami tercinta.
"Males, ah. Gak belajar juga yang penting naik kelas!" sahut Galang yang sedang menyisir rambut.
"Gak boleh ngomong gitu ih!" omel Shabita.
"Iya iya gampang itu mah, masih beberapa hari lagi ini." sahut Galang.
"Hem, tapi kalo nilai kamu bagus, aku akan kasih kamu hadiah." Shabita menghampiri Galang, memasangkan dasi suaminya.
"Hadiahnya apa?" selidik Galang, memandangi wajah istrinya yang sedang serius.
"Kejutanlah. Nanti kamu bakalan tau kalo udah dapet nilai bagus."
Shabita tahu, suaminya ini bukan termasuk dalam jajaran siswa berprestasi, tapi Galang tidak bisa serta merta disebut bodoh, hanya malas belajar atau kurang serius. Mungkin Galang merasa, tidak berprestasi pun dia sudah pasti bakalan jadi penerus Bagas. Beda lagi dengan mereka yang tidak punya privilege seperti itu, akan giat belajar demi beasiswa di sekolah elit sampai bisa masuk perguruan tinggi.
"Males ah, aku gak tertarik!" aku Galang.
"Kenapa?" tangan Shabita berhenti menyimpulkan dasi lalu mendongak.
"Ya gak papa tapi ada satu hadiah yang sangat aku inginkan, cuma kamu aja yang bisa ngasih!" Galang menatap serius istrinya.
Jantung Shabita berdebar ditatap seperti itu. Apa kiranya yang diinginkan Galang?
"Apa?" cicit Shabita.
"Kalo aku dapat nilai bagus, hadiahnya harus berada di dalam sini!" Galang mengusap perut rata istrinya. Shabita seketika terhipnotis dengan senyuman diwajah tampan suaminya. Saat sadar apa yang diinginkan Shabita menarik dasi Galang.
"Aku gak mau, aku masih mau sekolah!" protes Shabita.
"Ayolah sayang, kan bisa home schooling." rayu Galang.
Pasutri kencur itu saling berdebat sampai ke meja makan.
"Ada apa ini?" tegur Bagas.
__ADS_1
"Shabita nih, Pa, masa dia gak mau punya anak dari aku." adu Galang.
"Enggak, Pa, bukan gitu. Aku cuma belum siap aja sekarang." sangkal Shabita.
"Gak siap kenapa coba? Udah aku tawarin home schooling padahal." Galang cemberut.
"Ish kamu pikir home schooling doang cukup? Aku harus ngurus anak juga." timpal. Shabita.
"Kan nanti ada mbak yang bantuin." Galang mengunyah sarapannya dengan santai berbeda dengan Shabita yang kesal.
"Enggak pokoknya. Itu nanti kita pikirin setelah lulus sekolah, titik gak pake koma!" ucap Shabita tidak mau diprotes lagi.
"Ya sia-sia dong usaha kecebong ku selama ini." ucap Galang.
Shabita mendelik ke arah suaminya. "Kecebong apaan orang kamu pake pengaman terus!"
Shabita segera membekap mulutnya ketika menyadari disana juga ada mertuanya. Malu, malu sekali. Bisa-bisanya dia keceplosan begitu.
Wajah Shabita sudah meren seperti lobster rebus mahal. Tenggorokan terasa seret untuk menelan sarapannya. Apalagi melihat Bagas tersenyum ke arah keduanya. Sungguh Shabita ingin kabur saat ini juga.
"Iya, Pa!" sahut keduanya.
Dengan susah payah Shabita menghabiskan sarapannya. Rasanya kenapa begitu lama sekali padahal biasanya secepat kilat?
Shabita juga kesal dengan Galang yang nampak acuh. Melirik pun tidak padanya.
'Awas aja, kamu Galang.' batin Shabita.
Selama dalam mobil bibir Shabita manyun terus. Kalau Galang nanya jawabnya hanya 'iya' dan 'enggak'.
"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi monyong terus bibirnya? Aku nanya jawabnya ketus." Kepo Galang.
"Enggak!" ketus Shabita. Wajahnya dia palingkan keluar jendela, tidak minat manja-manjaan pada Galang yang menurutnya menyebalkan.
Galang memutar otak supaya istrinya tidak ketus lagi. Kesalahan apa yang membuat istrinya manyun sampe bibirnya dower.
__ADS_1
"Sayang, aku punya pertanyaan buat kamu." ucap Galang.
Shabita hanya mendelik sebentar lalu memandang jendela lagi.
"Kucing, kucing apa yang romantis?" cetus Galang.
"Gak minat kucing." balas Shabita cuek. Kini gadis yang sudah tidak perawan lagi itu memilih bermain HP daripada mendengarkan ocehan suaminya.
"Ya, gagal deh mau gombal." ucap Galang kecewa.
"Apa sih gak jelas?!" ketus Shabita lagi.
Galang menarik napas kasar. "Kamu kenapa sih ketus mulu sama aku?" tanya Galang sedikit kesal. Sedari tadi istrinya merajuk tanpa tahu sebabnya apa.
"Pikir aja sediri." balas Shabita, masih fokus sama HP.
"Aku bukan cenayang yang bisa nebak isi pikiran kamu! Dari tadi kamu ketus mulu sama aku," pada akhirnya kesabaran Galang yang tidak setebal make up badut pun pecah.
"Ya udah sih!" timpal Shabita acuh.
"Oh oke kalo gitu!" Galang menginjak pedal gas dengan kencang. Shabita kaget, Hp nya hampir jatuh.
Disini Galang meluapkan kekesalannya. Wajah dinginnya kembali nampak dengan sorot mata tajam, tangannya dengan lihai mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Aaaahhhhh Galang, kamu apa-apaan sih?" teriak Shabita. Jantungnya serasa mau copot. Galang seperti dalam mode cemburu.
"Galang, please! Pelanin mobilnya!" pinta Shabita. Tangannya mencengkeram erat pada hand grip.
"Galang, please aku takut!" mohon Shabita lagi. Galang masih tidak menggubris. Suara klakson mobil lain saling bersahutan karena Galang benar-benar diluar kendali.
"Galang, please, aku takut!" lirih Shabita, suaranya bergetar sembari menangis.
"Galang, please, aku takut. Aku minta maaf kalo salah sama kamu." Shabita sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia benar-benar ketakutan. Pikirannya tiba-tiba melayang pada kecelakaan kedua orang tuanya. Membayangkan jika dia berada diposisi itu. Pandangan Shabita semakin kabur dengan air mata.
"Mama, papa, aku takut!" Shabita menutup matanya, menggenggam kuat hand grip di sampingnya, tubuhnya ikut bergetar seiring rintihan tangis yang keluar. Saat ini dia merasa Galang sudah tidak lagi memperdulikannya. Dia merasa tidak punya siapa-siapa lagi, bahkan disaat merasa ketakutan melebihi rasa takut ketika akan dilecehkan Devan tidak ada yang bisa menolongnya keluar.
__ADS_1