
"Ish, kenapa sih om Bian gak berhenti buntuti aku terus?" Tiara bersembunyi dibalik tembok kontrakan lain. Di depan kontrakan sudah ada 3 orang laki-laki yang waktu itu mengejarnya.
"Gue harus kemana dulu coba?!" Tiara mencoba mencari akal.
"Dahlah, kemana dulu aja asal jangan dulu pulang!" putus Tiara. Gadis itu memutuskan untuk pergi lagi. Hari masih sore jadi tidak terlalu takut untuk Tiara keluyuran dulu.
Sementara pasutri kencur, sebelum pulang memilih kencan dulu. Nonton film romantis di bioskop.
Sambil menikmati popcorn nya Shabita nampak khusyuk menonton bahkan kadang heboh. Galang sih biasa saja, demi sang istri dia ikut menonton film romantis padahal tidak suka.
Setelah selesai menonton, Shabita mengajak Galang untuk makan ramen. Saat ini dia ingin sekali makan ramen.
Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Galang mengikuti langkah istrinya. Keduanya saling bergandengan tangan.
Perut sudah terisi, hari juga sudah malam. Saatnya mereka pulang.
"Ada yang mau dibeli dulu gak?" tawar Galang saat keluar dari resto ramen.
"Enggak ah. Kebutuhan ku masih cukup." balas Shabita.
__ADS_1
Walaupun kaya Shabita tidak termasuk orang yang suka berfoya-foya, dia hanya akan membeli jika itu dibutuhkan. Tetapi tidak berlaku untuk makanan, ketimbang Shopping, Shabita lebih suka makan.
Suatu anugerah bagi Shabita yang tubuhnya tetap ramping meskipun doyan makan.
Sampai di rumah, Galang dan Shabita masuk. Dilihatnya mobil Bagas sudah ada.
"Sayang, duluan aja ke kamar. Aku mau ke dapur dulu, ambil minum." ucap Galang, Shabita mengangguk.
Sayup-sayup Galang mendengar orang berbincang di dapur, siapa lagi kalau buka Bagas dan Marni. Bagas berusaha membujuk Marni supaya mau menikah dengannya. Bagas sudah memikirkan itu selama di kantor. Jika pun ia harus menikah lagi maka wanita itu harus Marni.
"Enggak, pak. Aku gak mau menikah dengan bapak?" tegas Marni.
Bagas mengekori setiap langkah Marni kemana pun Marni melangkah. Ke arah kulkas, meja makan, wastafel, kemana pun.
Marni memutar bola mata jengah. Galang tadinya akan menegur mereka namun ketika mendengar soal menikah, Galang sembunyi untuk mengintip apa yang akan mereka katakan selanjutnya.
"Udah pak jangan bahas ini terus. Kalo bapak gak mau menikah ya sudah." ucap Marni.
"Saya yakin kamu itu sebenarnya ada cinta kan sama saya?" selidik Bagas.
__ADS_1
Marni mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedang berdebar hebat. Bisa-bisanya Bagas berkata seperti itu.
"Ayolah Marni, ini semua demi Galang." bujuk Bagas lagi.
"Enggak, pak. Aku udah janji sama Mbak Mey untuk jaga Galang bukan untuk menikah lagi sama bapak." timpal Marni.
Galang melongo mendengarnya, ada hubungan apa antara Bagas dan Marni? Apa mereka pernah menikah sebelumnya?
"Marni, Dulu kita menikah terpaksa karena saya hanya ingin punya anak, tapi sekarang mari kita coba buat mengulangnya dari awal." tutur Bagas.
"Jangan ngomong kayak gitu lagi, pak. Nanti ada yang denger!" peringat Marni.
Galang yang sembunyi masih mencerna setiap perbincangan mereka, apa maksudnya semua ini?
"Gak akan ada yang denger, anak kita belum pulang!" sergah Bagas.
"Anak kita?" gumam Galang. Laki-laki itu Sejujurnya ingin bertanya langsung saat ini juga tetapi mencoba menahan diri supaya tahu lebih banyak apa yang mereka bahas tanpa dipaksa.
"Marni, apa kamu tidak ingin dipanggil mama sama Galang?" ceplos Bagas.
__ADS_1
Marni menunduk. Hatinya seperti diremas tangan tak kasat mata. Selama ini dia selalu mendambakan panggilan itu.