Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 104


__ADS_3

Sampai tengah malam, Galang tidak kembali ke kamarnya bahkan nomornya saja tidak aktif. Shabita duduk sambil memeluk lututnya, menyesali ucapan bodohnya. Air matanya seolah tidak ada habisnya.


Apa yang telah diucapkan pada Galang itu benar-benar kebodohan. Mental belum siap untuk menjadi seorang ibu tapi ini takdir yang sudah dia pilih sejak awal. Shabita tidak akan pernah membuang sumber kebahagian pernikahannya.


"Lang, kamu dimana?" lirih Shabita. Saking lelahnya menangis, Shabita tertidur di sofa tanpa bantal apalagi selimut.


Galang tidaklah pergi, dia ada di rumah namun meminta pada semua orang untuk tidak memberi tahu istrinya. Galang hanya ingin memberi ruang untuk keduanya. Dia juga paham perasaan istrinya tapi Galang tidak menyangka jika Shabita sampai kepikiran untuk menghilangkan anaknya. Kecewa sudah pasti, namun Galang tidak akan bersikap bodoh dengan melepas Shabita begitu saja. Semua ucapannya tadi hanya gertakan agar Shabita sadar.


Mereka menikah karena paksaan dari orang tua tetapi mereka juga memilih untuk meneruskannya. Hingga mereka tidak berhak untuk menyalahkan siapa pun, ini takdir yang telah mereka pilih dan mereka harus bertanggungjawab dengan pilihan itu.


Di pagi hari, Galang kembali merasakan perutnya seperti diaduk-aduk. Kepalanya pusing tak terkira, semua makanan yang ada diperutnya dikeluarkan kembali. Marni dengan telaten menemani Galang di kamar mandi.


"Mama buat kan teh manis, mau?" tawar Marni seraya memijit tengkuk Galang. Laki-laki itu terus muntah hingga tak tersisa.


"Lemes banget, ma!" keluh Galang. Marni kembali memapah tubuh Galang ke kasur. Galang benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami couvade syndrom saat istrinya hamil. Jika boleh jujur, Galang merasa tersiksa tapi dia tidak bisa membayangkan istrinya yang mengalami hal ini, sudah mah kemana-mana perut nanti buncit lalu harus mengalami ngidam pula. Mungkin ini cara dia berbagi rasa dengan istrinya.

__ADS_1


"Ma, apa Shabita baik-baik aja?" tanya Galang.


"Dia masih tidur, mama liat tidurnya di sofa, mama gak bisa angkat buat pindahin." Marni menyelimuti Galang kembali.


"Kenapa mama gak bilang sama aku?" ucap Galang khawatir, istrinya pasti tidak akan tidur nyenyak.


"Iya mama minta maaf, soalnya mama juga baru tau tadi pagi. Ya udah sekarang mama ke kamar kamu dulu, biar nanti mama minta tolong bu Ani buat bikinin teh manis!" tutur Marni. Galang tidak menjawab. Hatinya cemas dengan kondisi Shabita namun Galang harus sabar sampai Shabita sadar.


Sesuai apa yang Marni ucapkan tadi, dia masuk ke kamar Shabita. Dilihatnya Shabita sedang duduk melamun menyender di headboard. Tatapan matanya kosong dengan bibir yang sangat pucat.


"Kamu harus makan biar kuat, apa mama bawain aja kesini?" tawar Marni. Shabita lagi menggeleng.


"Ma," panggil Shabita pelan. Marni lebih mendekatkan padannya pada Shabita.


"Ma, Galang mau menceraikan ku," lirih Shabita dengan lelehan air matany.

__ADS_1


"Enggak, sayang. Galang gak mungkin melakukan itu," sangkal Marni.


"Tapi kemaren Galang bilang gitu, ma."


"Udah ya, kalian gak akan pisah. Harusnya kabar kehamilan kamu ini jadi moment membahagiakan buat pernikahan kalian. Mama paham kamu belum siap tapi mama mohon jangan berpikiran yang aneh-aneh. Cukup mama aja yang merasakan kehamilan tanpa suami, cukup Galang saja yang pas diperut tidak menerima kasih sayang dari papa nya, anak kalian jangan seperti itu. Kamu gak usah khawatir dengan cita-cita kamu, setelah anak kalian lahir biar mama yang urus. Kalian bebas kemana saja, mencapai semua tujuan hidup kalian. Bersabarlah sedikit, sayang. Percayalah kamu tidak akan kehilang apa pun dengan hadirnya anak ini justru mama yakin dia akan memberikan kebahagiaan untuk kalian." nasehat Marni sambil menatap Shabita yang terus menangis.


"Kamu bisa sekolah sampe usia kandungan mu 4 bulan mungkin, setelah itu bisa home schooling. Mama jamin tidak akan ada seorang pun yang tau masalah ini selain kita. Kamu percaya sama papa, kan?" lanjut Marni. Shabita mengangguk.


"Udah ya, jangan nangis terus. Galang gak kemana-mana kok, dia ada di rumah ini!" jelas Marni, tangannya mengusap pipi Shabita.


"Tuh dia," tunjuk Marni pada Galang yang baru masuk ke dalam kamarnya. Sedari tadi dia mengintip di balik pintu. Marni tahu akan hal itu.


Menjalani biduk rumah tangga bukanlah hal mudah juga bukan hal yang perlu ditakuti karena setiap pernikahan tidak mungkin tanpa masalah terlebih pada mereka yang masih berada diusia labil.


Mereka pada akhirnya saling memeluk bahagia, saling berjanji untuk tidak mengucapkan kata pisah lagi.

__ADS_1


__ADS_2