
Galang mencari-cari handuk atau kain bisa digunakan untuk mengmpres Shabita. Lemari-lemari di walk in closet dibukanya, namun Galang belum menemukan yang dicari. Galang terjingkat kaget kala membuka laci yang berisi pakaian dalam Shabita.
Tangan Galang terulur jahil mengangkat salah satu Bra Shabita yang berwarna fanta.
"Wow besar juga!" gumam mesum dengan bibir menyeringai tanpa sadar.
"Astagfirullah!" Galang segera melempar dan menutup kembali laci tersebut.
"Bisa-bisanya gue berpikir kesana!" Galang mengusap wajahnya kasar.
Di lemari berikutnya, Galang menemukan handuk kecil tapi ada insialnya yaitu huruf S&G. Galang tidak peduli lalu membawa handuk itu.
Dengan telaten Galang mengompres Shabita. Setelah beberapa saat, mata Shabita terbuka.
"Galang!" lirih Shabita.
"Hem!" Galang menatap Shabita dengan tatapan berbeda.
Shabita hendak bangun tapi dicegah oleh Galang.
"Jangan dulu bangun, badan lu masih panas!" Galang merebahkan kembali tubuh istrinya.
Kruyuk kruyuk kruyuk!
Suara perut Shabita berbunyi. Si empunya langsung memegang perutnya. Galang mengerti kemudian mengambil makanan yang masih utuh di atas nakas.
"Makan dulu!" titah Galang. Shabita berusaha untuk duduk.
"Ck!" Galang meletakkan kembali makanan itu dan membantu Shabita duduk.
Ketika Galang membantu Shabita duduk, wajah mereka berhadapan begitu jelas. Mata mereka bersitatap sejenak. Jantung Shabita berdebar kencang, ada gelenyar aneh yang Shabita rasakan. Sementara Galang pun tidak jauh berbeda. Jantungnya seakan-akan bertalu bak gendang dangdut. Mereka berdua sama-sama salah tingkah ketika sadar.
__ADS_1
Shabita memalingkan wajahnya, Galang mengambil makanan tadi.
"Ma-makan dulu!" Galang menyerahkan makanan dipangkuan Shabita.
"Makasih!" sahut Shabita.
Galang mengangguk kecil. "Tapi makanannya udah dingin!" ucap Galang.
"Gak apa-apa, pasti masih enak, kok!" jawab Shabita.
Shabita yang masih merasa lemas, cukup kesulitan menyuapkan nasi ke mulutnya. Tangannya terlihat gemetar.
"Sini, gue bantu!" Galang merebut sendok Shabita.
"Eh!" Shabita kaget.
"Kaya yang gak makan setahun aja!" cibir Galang sembari menyendokkan makanan.
Shabita mengunyah pelan makanannya. Sesekali melihat Galang yang tanpa ekspresi.
'Ketus banget sih jadi cowok!' gerutu Shabita dalam hati.
"Kenapa?" tanya Galang yang melihat Shabita seperti menatapnya.
"Enggak!"
Galang kembali menyuapi makanan. Tidak ada perbincangan lagi antara keduanya hingga makanannya habis. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Rakus juga ya lu!" cibir Galang yang melihat piringnya kosong tanpa sisa.
"Ish," Shabita cemberut kesal.
__ADS_1
"Disini ada obat gak? sekalian mau gue ambil." tanya Galang.
"Cari aja di kotak p3k yang ada di dapur!" jawab Shabita masih cemberut.
Galang membawa piring kosong bekas makan istrinya ke dapur sekalian ngambil obat.
Tak selang berapa lama, Galang kembali lagi dengan obat juga gelas berisi air hangat.
"Nih minum dulu obatnya!" Galang memberikan obatnya pada sang istri.
Shabita yang tadi sudah tiduran kembali duduk. Diminumnya obat tersebut.
"Makasih!" ucap Shabita.
"Hem!" gumam Galang sebagai jawaban.
Galang tanpa disangka membantu Shabita tidur serta menyelimutinya sampai dada. Mendapat perhatian seperti itu dari suaminya hati kecil Shabita senang. Ternyata dibalik sikap Galang yang ketus, Galang juga bisa perhatian.
Setelah melihat istrinya nyaman, Galang kembali ke sofa untuk melanjutkan tidur.
"Lang!" panggil Shabita dengan suara pelan.
"Hem!" Galang yang sudah merem namun masih mendengar panggilan istrinya itu menjawab dengan gumaman.
"Kamu tidur di ranjang aja. Disofa terlalu kecil buat tubuh kamu yang jangkung." tutur Shabita.
Galang membuka matanya lantas melihat ke arah Shabita.
"Em-em kamu jangan salah paham. Ini sebagai bentuk terimakasih aku karena kamu udah merawat ku!" ralat Shabita tampak salah tingkah, takut Galang salah paham.
'Aduh jangan sampe Galang nyangka yang enggak-enggak!' batin Shabita.
__ADS_1