Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 90


__ADS_3

Marni bertaruh nyawa saat melahirkan Galang ke dunia. Semua tenaga dia kerahkan demi anak yang mungkin tidak akan pernah memanggilnya ibu.


Galang lahir ke dunia dengan keadaan sempurna, tidak kekurangan apa pun. Bayi mungil itu sangat tampan, matanya mirip dengannya. Belum sempat Marni menyusui Galang, Mey dan Bagas sudah mengambilnya. Kebahagiaan Bagas sangat tergambar jelas. Anak yang selama ini nantikan telah hadir dikeluarganya.


Dua bulan setelah Galang lahir, mereka kembali ke indonesia. Kehilangan mereka disambut suka cita oleh keluarga besar. Syukuran diadakan sampai tiga hati tiga malam.


Miris yang saat ini Marni rasakan, dia tidak diizinkan menyentuh Galang. Asi yang ia beri hanya di pompa kemudian dimasukan ke dalam botol. Segitu saja Marni sudah bersyukur karena Bagas mengizinkannya untuk memberi ASI eksklusif pada Galang.


Setiap malam Marni menangis, merindukan buah hatinya. Hanya selembar foto bayi mungil yang selalu menemaninya.


Setelah Galang berhenti minum ASI atau sekitar 1 tahun lebih, Marni pamit pergi dari rumah Bagas. Itu merupakan salah satu perjanjian mereka.


Bisa dibayangkan seorang ibu harus rela berpisah dengan anaknya demi memenuhi keinginan orang kaya. Rasanya semua bisa dibeli oleh mereka termasuk kebahagiaan.


Selama Marni jadi istri Bagas, keluarga Marni di kampung sejahtera. Bapaknya sudah tidak kesakitan lagi, hanya sesekali kontrol. Tanpa mereka tahu Marni harus membayar mahal, berpisah dengan anaknya.


Marni tidak langsung pulang, melainkan mencari pekerjaan lain sebagai ART.


Jika ada waktu luang, Marni akan datang mengintip ke rumah Bagas. Jelas tidak masuk hanya berdiri di luar gerbang. Kadang kebetulan melihat Galang sedang bermain dihalaman. Anaknya tumbuh dengan baik. Marni selalu tersenyum melihatnya.


Beberapa tahun kemudian setelah Mey meninggal, Bagas mencari Marni. Dia ditawari untuk bekerja di rumahnya lagi, bisa mengurus Galang juga tetapi tetap Galang tidak boleh tahu Marni adalah ibunya. Marni tentu saja setuju.


Selama bertahun-tahun, Marni hidup mengurus Galang. Melihat Galang tumbuh, memberi kasih sayang yang tulus padanya. Kendati Galang tidak bisa memanggilnya mama. Tak apa, Marni sudah bahagia.


Sampai saat sekarang Galang mengetahui semua fakta itu. Marni tidak bisa berucap apa pun. Mulutnya seperti terkunci.

__ADS_1


"Maafin papa, Galang. Ini semua salah papa." ucap Bagas sendu. Air matanya juga sudah luruh. Mereka menangis bersama.


Bagas menceritakan semua kisahnya dengan Marni kepada Galang.


Galang menatap Marni yang sedari tadi menunduk. Sungguh Galang masih belum percaya. Hatinya bimbang, apa harus menerima atau membenci orang tuanya yang telah berbuat egois.


"Mama!" ucapan itu lolos dari mulut Galang. Marni mendongak menatap Galang. Bibirnya bergetar dengan tubuh yang terasa kaku. Hanya air mata yang keluar.


"Mama!" panggil Galang lagi. Marni tidak bisa menahan rasa bahagianya dipanggil seperti itu oleh Galang. Detik kemudian Galang menghambur memeluk Marni. Tangis mereka pecah.


Anak yang selama ini Marni rindukan dalam pelukannya kini sudah nyata. Galang sudah memanggil mama padanya.


"Maafkan mama, nak!" ucap Marni disela tangisannya. Mereka saling memeluk erat, menumpahkan segala rasa.


Shabita dirangkul oleh Bagas. Shabita juga sangat merindukan orang tuanya juga Shabita ikut terharu dengan kisah keluarga Galang.


"Maafin, Galang baru bisa memeluk mama seperti ini!" Galang enggan melepas pelukannya.


Marni menggeleng. "Tidak, nak. Kami yang salah, tidak jujur pada mu." Marni memberanikan diri mengecup pipi Galang.


Ini semua seperti mimpi untuk Marni. Bisa memeluk dan mencium Galang, serta dipanggil mama oleh Galang.


Galang mengusap air mata Marni. Kenapa selama ini ia tidak menyadari ikatan batin diantara keduanya? Apakah ini jawaban kenapa Galang merasa nyaman jika bersama Marni?


"Sayang, aku masih punya mama." Galang menghampiri Shabita.

__ADS_1


"Iya sayang, aku ikut bahagia." Shabita menyeka sisa air mata Galang.


Mereka tersenyum bahagia. Bagas merasa beban dipundaknya rontok seketika setelah mengungkapkan kebenarannya. Selam ini Bagas selalu merasa bersalah pada Marni.


"Galang, apa kamu setuju kalo papa menikah lagi dengan mama mu?" tanya Bagas tiba-tiba. Marni melotot. Mengibas-ngibas tangannya, meminta Galang untuk menolak.


"Hem," Galang mengetuk-ngetuk dagunya sebelum menjawab.


"Bukan kah waktu itu kamu ingin adik?" tanya Bagas lagi. Marni sudah menutup wajahnya dengan telapak tangan. Malu rasanya. Semoga saja Galang tidak setuju.


"Setuju ya, sayang. Kita kan biar bisa punya orang tua utuh lagi." bujuk Shabita.


"Kita juga gak usah capek-capek cari jodoh buat papa," imbuh Shabita lagi.


"Jadi kalian mau jodohin papa nih?" selidik Bagas.


"Iya, Pa. Tapi sekarang aku setuju kalo papa menikah dengan mama Marni." ucap Shabita mantap sambil mengerlingkan matanya.


"Tuh, Lang. Istri kamu aja setuju," Shabita dan Bahas melakukan tos.


"Baiklah. Tapi itu tergantung mama juga, apa dia mau terima papa yang udah jahat pisahin aku dan mama. Kalo setuju, papa harus lamar mama secara benar." tutur Galang. Keutuhan keluarga sangat diinginkan oleh Galang. Mungkin dengan cara mereka menikah lagi, Bagas bisa menebus semua kesalahannya pada Marni.


"Yes!" sorak Bagas.


Marni sendiri masih menunduk, tak tahu harus setuju atau tidak. Nanti akan dia pertimbangkan.

__ADS_1


__ADS_2