
Galang teringat akan sosok almarhumah mamanya. Kala itu Galang nangis kejer saat sang mama dinyatakan meninggal dunia. Galang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengikhlaskan kepergian sang mama. Salah satu alasan Bagas tidak menikah lagi karena Bagas takut tidak bertemu dengan wanita yang tulus menyanyangi keluarganya.
Setelah cukup lama menyaksikan kedua wanita berpelukan, Galang lantas memberanikan diri mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Shabita dan Sandra saling mengurai pelukannya. Shabita menghapus jejak air matanya.
"Permisi tante!" Galang membuka pintu sedikit hingga menampakkan dirinya.
"Eh, Galang. Sini masuk!" Sandra menyambutnya dengan senyum ramah.
Galang melangkah masuk ke kamar tersebut.
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Shabita ketus.
Galang bisa melihat mata dan hidung gadis tersebut merah sehabis menangis.
"Aku mau jemput kamu pulang!" Galang menjawab dengan raut penuh senyum yang menurut Shabita palsu. Shabita memutar bola matanya.
"Hm, nak Galang tunggu di ruang tamu sebentar ya kalo gitu. Mama mau beresin ini dulu sama Shabita."
__ADS_1
"Baik, tan.."
"Mama!" Sandra memotong ucapan Galang.
"I-iya, ma." Galang mengusap tengkuknya canggung.
Galang menunggu Shabita di ruang tamu, ditemani oleh Yudha.
"Lang, gimana Shabita?" Yudha bertanya setelah meminum kopinya.
"Hem, gimana apanya om?" Galang bingung dengan pertanyaan mertuanya.
Baik Galang maupun Shabita belum terbiasa memanggil mertuanya dengan sebutan mama atau papa jadi sering keceplosan.
"Iya Pa." Galang mengangguk samar.
Yudha menatap menantunya, tangannya menepuk paha Galang.
"Gimana hubungan kalian setelah menikah?" tanya Yudha terlihat serius.
Galang menelan salivanya, sedikit gugup.
__ADS_1
"Ba-baik, Pa." jawab Galang.
"Shabita, itu putri kami satu-satunya. Dia manja pada orang yang menurut dia menyayanginya, tapi dia juga bebal, keras kepala. Papa cuma minta sama kamu supaya sabar." tutur Yudha.
"Selama dia hidup, belum pernah sekali pun kami membentaknya. Jika dia berbuat salah yang kami lakukan adalah mendiamkannya supaya dia sadar akan kesalahannya, baru setelah dia menyesal kami menasehatinya. Anak papa itu bukan wanita pendiam, dia juga jahil. Tidak sering teman sekolah dasarnya dulu menangis karena kejahilannya." Yudha tersenyum mengingat tingkah laku Shabita.
"Papa dan mama berharap kamu bisa menyayangi Shabita serius hati, kalo pun kamu tidak sayang padanya, papa mohon jangan sakiti hatinya. Kalian bisa membicarakan semua itu dengan kepala dingin tanpa melibatkan emosi." tambah Yudha lagi.
Galang masih diam mendengarkan ucapan mertuanya. Dalam hatinya bertanya, apakah bisa dia sayang dengan istrinya sesuai permintaan Yudha?
"Jadilah suami yang baik juga bertanggungjawab untuk Shabita. Maaf, kita selaku orang tua terlalu egois hingga memaksa kalian untuk menikah sampai-sampai kalian mengorbankan masa remaja kalian tapi papa percaya sama kamu bahwa kamu bisa menjaga Shabita dan menjalankan amanat kita. Papa titip Shabita pada mu, Lang!" Yudha menepuk-nepuk bahu Galang.
Perasaan Galang serasa diberi tumpukan PR yang lebih sulit dari Matematika. Galang tidak punya rumus atau pun menyuruh orang untuk mengerjakannya, semua itu harus ditanggungnya sendiri sebagai sosok suami.
"Baik, Pa. Sebisa mungkin, aku akan mengingat amanat papa. Terimakasih sudah mempercayakan Shabita pada ku." pada akhirnya kalimat tersebut keluar dari mulut Galang secara spontan.
Entahlah, ke depannya akan seperti apa yang jelas untuk saat ini Galang ingin keluar dari ketegangan berbincang serius dengan sang Mertua. Baru kali ini Galang merasakan tegang dan canggung hebat secara bersamaan, padahal biasanya dia berbicara didepan siapa pun selalu lugas. Untuk lutut Galang tidak sampai tremor.
Dilihatnya dari Sandra dan Shabita sedang berjalan ke arah mereka.
"Lagi ngomongin apa sih? kok pada tegang gitu?" celetuk Sandra.
__ADS_1