
"Lang, mau itu." tunjuk Shabita pada penjual cotton candy.
"Ayo!"
Shabita senang sekali bisa merasakan hal ini lagi. Sudah lama sejak terakhir dia main ke pasar malam.
Setelah membeli cotton candy dan memakannya tanpa sisa bahkan Galang hanya dikasih sesuapan, mereka melanjutkan membeli jajanan lain yang tersedia disana.
Shabita dibuat kalap mata sampai bingung harus pilih yang mana, Galang dibuat kewalahan.
"Jajanan segini banyak yakin bakalan abis?" Galang mengangkat beberapa kresek yang dipegangnya.
"Abis dong, kan tadi aku gak makan." jawab Shabita sambil mengunyah sosis bakar.
Dan benar saja, semua jajanan itu habis dilahapnya. Galang sampai geleng-geleng kepala tak menyangka istrinya seratus itu.
"Udah kenyang belum?" tanya Galang ketika melihat istrinya menyuap jajanan terakhir.
"Udah. Kenyang banget." Shabita mengusap perutnya.
Satu hal yang baru Galang ketahui lagi, istrinya ini pemakan segala, tidak memandang makanan itu beli dimana yang penting enak dan halal. Shabita juga makannya banyak tapi badannya tetap stabil.
"Nah sekarang mending kita coba beberapa permainan." usul Galang.
"Lets go!" seru Shabita.
Permainan pertama yang mereka coba adalah mesin capit boneka. Tapi tak ada satu pun yang berhasil.
Kemudian mereka juga bermain lempar gelang, lempar bola hingga pancing-pancingan. Shabita juga ikut mewarnai gambar bersama anak-anak.
__ADS_1
Galang sungguh merasa bahagia melihat istrinya tertawa. Menikmati setiap hal yang ada disana.
"Lang, gimana gambarnya bagus gak?" Shabita menunjukkan hasil mewarnainya berupa gambar doraemon.
"Bagus banget." Galang mengacungkan jempolnya.
"Nanti kita pasang di kamar ya." usul Galang. Shabita hanya mengangguk.
Puas mewarnai, Shabita mengajak Galang untuk naik bianglala.
"Takut gak?" tanya Galang setelah bianglala nya mulai berjalan.
"Enggak kok." Shabita memang tidak takut.
Mereka duduk bersebelahan. Dari atas bianglala, pemandangan kota terlihat sangat indah dihiasi cahaya lampu.
"Abit." panggil Galang pelan, tangannya diresmikan untuk menggenggam tangan istrinya.
"Eh!" Shabita menoleh kaget.
"Hem aku mau ngomong serius sama kamu." ucap Galang salah tingkah.
"Apa sih?" Shabita mengerutkan alisnya.
"Ini tentang kita." Galang sangat gugup saat ini. Jantungnya berdetak tidak seperti biasa seperti ada yang menabuhnya sangat kencang. Badannya berasa panas dingin, seperti pengen buang air tapi bukan.
"Lang, kenapa sih?" Shabita mengamati wajah suaminya yang terlihat tegang.
Galang menghirup napas dalam-dalam sebelum melanjutkan niatnya.
__ADS_1
"Aku gak tau harus mengatakannya dari mana tapi yang jelas aku sayang sama kamu." Galang menatap intens Shabita.
"Lang, kamu serius?" Shabita masih bingung.
"Aku serius. Bahkan aku udah jatuh cinta sama kamu. Maaf aku melanggar janji kita." Galang semakin erat menggenggam tangan istrinya.
Shabita ikut gugup sekaligus berdebar mendengar ungkapan cinta suaminya.
Belum sempat Shabita menjawab, bianglalanya sudah berhenti. Mereka akhirnya turun.
Karena dirasa sudah malam, Galang memutuskan mengajak istrinya pulang. Besok juga masih sekolah.
Tak butuh waktu lama untuk Galang mengemudikan mobilnya sampai di rumah. Kedua pasutri itu membersihkan diri dulu sebelum lanjut tidur.
Shabita dan Galang tidur berhadap-hadapan dengan mata yang masih belum terpejam. Keduanya saling menatap dalam diam.
Galang dibuat harap-harapa cemas karena Shabita belum membalas ungkapan hatinya.
"Lang, ucapan kamu tadi...."
"Stttt, kalo kamu belum siap gak papa kok," Galang meletakkan telunjuknya dibibir sang istri.
Hap!
Shabita menggigit jari suaminya.
"Aw, sakit, Abit." Galang menarik telunjuknya dengan paksa dari mulut Shabita.
"Ya ampun punya istri gini amat sih." gerutu Galang sambil meniup-niup telunjuknya yang terdapat bekas gigi Shabita, sedangkan pelakunya tertawa puas.
__ADS_1