
"Makan seblaknya yang banyak, Abit, biar nanti mulut lo pedas buat interogasi si Hanin." saran Kevin.
"Mulut lo yang harusnya kaya gitu," bela Galang. Shabita tidak menghiraukan, masih menikmati seblaknya. Mereka benar-benar melahap semua seblak super pedas buatan Shabita. Amir sampai nangis guling-guling nahan pedas bahkan Kevin sampai mandi saking pedesnya.
Sekitar 1 jam kemudian, para bodyguard papi Kevin datang dengan membawa Hanin. Wanita itu pingsan.
Tangan Hanin diikat, jaga-jaga siapa Hanin tidak nekad. Para bodyguard cukup kewalahan karena Hanin begitu licin bagai belut dan licik. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi.
Hanin di tidurkan di karpet bulu. Mereka semua membentuk lingkaran. Para bodyguard juga masih ada disana, berjaga.
"Siram aja sih biar dia cepet sadar." usul Amir.
"Jangan!" cegah Kevin.
Amir memutar bola matanya menatap Kevin.
"Kelamaan bege kalo nunggu dia sadar, gue udah gak sabar ini." cerocos Amir.
"Tenang gue punya cara lain." Kevin menaik turunkan alisnya. Semua menatap Kevin curiga.
Kevin mendekat ke arah Hanin. ****** Kevin diarahkan ke muka Hanin, detik kemudian Kevin sekuat tenaga mengeluarkan kentutnya.
"Anjayy, si Kevin, bau banget!" pekik Galang. Mereka nutup hidung.
"Bilang-bilang dong lo, biar kita tutup hidung." omel Amir. Kevin hanya cekikikan.
Terlihat cuping hidung Hanin bergerak-gerak merasakan bau busuk menusuk penciumannya.
__ADS_1
Haciiiimm!
Hanin bersin, matanya sudah melotot lebar.
"Tuh kan, berhasil." seru Kevin, bangga.
"Woy, bantu dia duduk!" titah Amir pada Kevin.
"Males lah, biar si psikopet ini guling-guling aja." Kevin kembali ke tempatnya. Hanin berusaha untuk duduk, sedikit kesusahan karena tubuhnya diikat.
Wajah Hanin tidak menampilkan rasa takut atay penyesalan.
"Kenapa lo pada bawa gue kesini?" tanya Hanin dengan senyum smirk.
"Hanin, kenapa kamu tega lakuin itu?" Shabita buka suara. Hanin tertawa kencang.
"Hanin, apa salah aku sama kamu?" mata Shabita berkaca-kaca. Galang memeluk pinggang istrinya.
"Cih, gue muak liat muka sok suci lo!" decih Hanin.
"Selama ini kamu selalu baik sama," lirih Shabita.
"Dasar bodoh!" Hanin menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa lo mau jebak cewek gue. Hah?" kali ini Galang yang bertanya.
"Gue males drama-drama kayak gini, lebih baik kalian segera bawa gue ke polisi." pinta Hanin santai.
__ADS_1
"Kita gak akan bawa lo sebelum kita tau alasan lo rencanain itu semua." sergah Kevin.
"Hahaha, kalian gak akan pernah tau. Sampai mati pun gue gak akan memberitahunya biar kalian semua mati penasaran." timpal Hanin.
"Hanin, please jujur sama aku!" mohon Shabita.
Hanin malah mengedikkan bahunya, acuh dengan pertanyaan mereka.
"Heh Hanin, cepet lo ngaku sebelum kita pake cara kekerasan?" ancam Kevin.
"Gue gak takut!" tantang Hanin. Matanya menatap nyalang.
Sungguh tidak ada raut ketakutan apalagi penyesalan pada diri Hanin. Mereka lantas memutar otak supaya Hanin mengaku.
"Apa ini karena bokap lo yang mati tertabrak kereta?" celetuk Tiara.
Deg!
Raut wajah Hanin berubah emosi. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Seorang pengusaha yang bernama Wijaya Cahya tewas karena tertabrak kereta api. Artikelnya bagus juga." ucap Tiara santai sambil memandang laptop. Sedari tadi Tiara tidak tinggal diam. Dia mengorek semua informasi mengenai Hanin.
"Enggak, bokap gue gak mati kaya gitu tapi bokap gue dibunuh." sangkal Hanin. Rautnya benar-benar berubah.
Kevin yang penasaran mendekat ke arah Tiara. Membaca artikel yang ditemukan oleh Tiara.
"Dibunuh apaan? Orang jelas-jelas disini bokap lo tewas pas dikejar debt colector, kok." timpal Kevin.
__ADS_1
"Jadi apa hubungannya sama semua ini?" tanya Galang.