
"Enggak, bokap gue dibunuh." Hanin berteriak menyangkal.
"Udah lo ngaku aja sih, ribet amat hidup lo." sewot Kevin. Hanin terlihat gelisah.
"Ini semua gara-gara si Yudha br*ngsek!" umpat Hanin. Matanya yang sempat menjatuhkan air mata menatap tajam pada Shabita.
"Papa?" tanya Shabita heran. Semua disana masih menantikan sebuah fakta. Tiara masih belum berhenti menggali informasi soal keluarga Hanin.
"Si Yudha b*ngsat itu yang udah bunuh papa. Bokap lo Shabita!" emosi Hanin terlihat memuncak. Tatapannya berubah penuh kebencian.
"Apa yang papa aku lakukan, Nin?" lirih Shabita. Galang sigap memeluk istrinya. Mengusap lembut punggung Shabita.
"Cih, jangan pertontonkan kemesraan kalian yang menjijikkan itu!" rahang Hanin mengerat melihat Galang memeluk istrinya.
Shabita mengurai pelukannya. Wanita itu berjalan mendekati Hanin yang duduk di karpet bulu.
__ADS_1
Cuih!
Hanin meludah tepat diwajah Shabita. Kebencian apa yang selama ini Hanin pendam sampai-sampai nekat?
"Heh kurang ajar, lo!" Galang mengusap wajah Shabita. Hati Shabita dibuat miris juga sakit melihat Hanin begitu membencinya.
Galang kembali membawa Shabita duduk disofa.
"Itu belum apa-apa dibanding rasa sakit yang selama ini gue derita." tutur Hanin dengan senyum penuh kebencian.
"Gue males drama kaya gini tapi gue mau lo tau Shabita, kalo bokap lo bukan orang baik. Dia penjahat yang udah bunuh bokap gue. Dia penjahat yang udah rebut kebahagiaan keluarga gue." pekik Hanin.
"Karena bokap lo, perusahaan bokap gue bangkrut. karena bokap lo, papa gue meninggal. Karena bokap lo, keluarga gue miskin. Karena bokap lo, mama gue terpaksa jual diri. Dan karena bokap lo juga gue terjebak dengan si Devan si*lan itu." ungkap Hanin.
Shabita membekap mulutnya tidak percaya. Selama ini Hanin melakukan pekerjaan itu.
__ADS_1
"Karena bokap lo juga gue dibunuh di sekolah lama sampai akhirnya mama bawa gue pindah kesini. Sekarang lo tau kan seberapa jahat bokap lo, Shabita." air mata Hanin berderai namun matanya masih tajam. Kebencian masih kuat disana.
"Bohong, itu semua bohong!" suara Bagas terdengar.
Bagas datang menghampiri mereka. Bagas menatap lekat Hanin yang menatap benci pada menantunya.
"Semua yang dikatakan dia tidak benar. Yudha bukan orang seperti itu!" Bagas duduk bersama mereka.
"Cih, jelas om akan membela dia karena om juga sekongkol dengan si Yudha br*ngsek!" Hanin memancarkan sinar laser marah pada Bagas.
"Papa kamu yang udah curang. Yudha tidak pernah melakukan apapun." timpal Bagas.
"Alah, kalian semua sama aja. Sama-sama penjahat! " sergah Hanin.
"Dulu perusahaan Yudha dan Wijaya selalu bersaing buat memenangkan sebuah tender. Perusahaan Yudha selalu unggul karena mereka selalu profesional dan kompeten. Ada salah satu tender besar yang menjadi rebutan. Entah siapa yang telah membocorkan ide perusahaan Yudha pada perusahaan Wijaya hingga ide Yudha dipakai oleh Wijaya, alhasil Yudha kalah. Tapi Yudha tidak tinggal diam, dia berhasil membuktikan pada klien bahwa ide itu berasal dari perusahaan." Bagas menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Mereka semua diam menyimak. Hanin ikut mendengarkan dengan amarah yang belum reda.
__ADS_1
"Perusahaan wijaya dituntun karena menjiplak. Saat itu juga perusahaan Wijaya memang sudah berada diambang kebangkrutan, hanya kemenangan itu satu-satunya cara untuk memulihkan kembali perusahaannya. Wijaya banyak meminjam uang kesana kemari untuk menutup kerugian juga denda yang diberikan oleh perusahaan Yudha. Semua aset Wijaya dijual tapi tetap hutangnya masih menumpuk sampai pada akhirnya Wijaya melompat ke kereta yang sedang melaju, saat itu pula Wijaya dikejar oleh debt colector." pangkas Bagas.
"Enggak, papa gak seperti itu. Dia baik, dia ayah uang bertanggung jawab." sangkal Hanin sambil. menggeleng kepala tidak terima. Air matanya sudah luruh meluncur bebas.