
"Sini ma, duduk!" Yudha menepuk sofa disampingnya. Sandra juga Shabita ikut bergabung disana. Galang lantas beralih ke sofa lain, memberi ruang untuk mertuanya.
"Abit, duduknya disana sama suami mu!" titah Yudha.
Shabita yang sudah siap mendaratkan bokongnya jadi urung. Terpaksa Shabita beralih ke sofa Galang dengan bibir mencebik tidak suka.
"Jangan cemberut, nanti bibirnya tambah monyong!" ledek Sandra sembari terkekeh.
Galang melirik sekilas ke arah istrinya yang masih cemberut itu.
"Besok, mama dan papa pulang ke Bandung. Kalian yang akur ya disini." pesan Yudha.
"Pa, aku ikut!" rengek Shabita, tangannya memohon dengan puppy eyes nya.
"Ya gak bisa gitu dong, kalo kamu ikut ke Bandung lagi, kasian suami mu." ujar Yudha.
"Kenapa harus kasian?" tanya Shabita mendelik ke arah Galang.
"Sayang, tadi kan udah mama jelasin waktu dikamar, jadi jangan berusaha buat ngerengek lagi ya!" tutur Sandra penuh kelembutan.
Bibir Shabita makin-makin cemberut, matanya sedikit berembun.
"Ya udah gini aja, kalian makan malam disini aja sembari kangen-kangenan, gimana?" usul Yudha.
Shabita seketika mengangguk antusias, Galang pun mengangguk. Biarlah saat ini Shabita bersama kedua orang tuanya dulu sebelum mereka pergi jauh.
__ADS_1
"Papa sama Galang disini aja, atau maen apa dulu gitu sambil nunggu masakan matang!" jelas Sandra. Kedua laki-laki tersebut tentu saja tidak menolak. Sandra juga Shabita pergi ke dapur untuk memasak.
Matahari yang terang sudah meredup bahkan sudah berganti dengan bulan.
Di meja makan, mereka sedang menikmati makan malamnya.
"Shabita ini jago masak loh, Lang. Cuma dia kadang-kadangan aja masaknya tapi sekalinya masak, beeuuuhh kamu pasti ketagihan!" puji Yudha.
Galang tersenyum menanggapi perkataan mertuanya, sedang Shabita bersikap acuh.
Setelah menikmati makan malamnya, Galang berpamitan untuk pulang bersama Shabita ke rumah Bagas.
"Ma, pengen ikut!" Shabita memeluk erat Sandra.
"Tapi kan itu beda, ma!" Shabita mendongakkan kepalanya menatap Sandra.
"Gak ada bedanya sayang. Udah ya, jangan cengeng dan manja kaya gini!" Sandra mencubit hidung mancung Shabita. Hati Sandra berat untuk meninggalkan Shabita tapi ini sudah menjadi risiko dari keputusan yang mereka ambil.
"Yuks kita pulang!" ajak Galang. Mata Shabita melotot ke arah Galang.
Drama perpisahan Shabita sangatlah panjang sampai akhirnya Shabita lelah merengek.
"Kita pamit pulang dulu ya, ma, Pa!" Galang mencium tangan mertuanya, diikuti oleh Shabita.
"Mama dan papa hati-hati ya pulangnya, langsung kabarin kalo udah sampe rumah!" pesan Shabita.
__ADS_1
"Iya sayang. Kalian hati-hati juga ya dijalan!" Sandra berusaha supaya tidak melow padahal hatinya sangatlah sedih.
"Galang, papa titip Shabita. Jaga dia baik-baik!" Yudha memegang kedua bahu Galang.
"Iya Pa." Galang mengangguk.
Keduanya kemudian pergi meninggalkan rumah Yudha.
Di dalam mobil yang dikemudikan Galang, tidak ada percakapan. Shabita sibuk dengan HP nya sedang Galang fokus menyetir.
Tiba-tiba HP Shabita masuk panggilan video.
"Rio!" Shabita tersenyum melihat nama yang terpampang di layar HP nya, gegas Shabita menggeser tombol hijau.
"Hallo, Rio!" sapa Shabita.
Shabita seakan tidak peduli dengan keberadaan Galang. Mungkin Galang hanya dianggapnya sebagai sopir. Tanpa merasa sungkan Shabita berbincang kesana kemari dengan Rio melalui sambungan telpon. Tangan Galang meremas kuat kemudi, kakinya menginjak pedal gas sangat dalam hingga mobil itu melaju sangat kencang.
Shabita tersentak kaget, kedua tangannya berpegangan pada hand grip. Hp nya terjatuh begitu saja.
"Galang ih jangan kenceng-kenceng!" ucap Shabita takut. Bukannya memelan, Galang malah semakin melaju.
"Aaaaaaahhhhhh, aku gak mau mati!" teriak Shabita.
Sementara Rio panik sendiri mendengar teriakan Shabita.
__ADS_1