
"Turun!" titah Galang.
Shabita yang semula fokus dengan HP segera memindai sekeliling, rupanya sudah sampai di halte. Tanpa berkata lagi, Shabita segera turun. Galang tidak melihat sama sekali ke arah Shabita. Hatinya masih kesal.
Selama menjadi jomblo abadi, Galang tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Rasa yang membuat hatinya tiba-tiba nyeri padahal tidak ada jarum yang menusuk atau bahkan terkadang seperti ada yang meremas hatinya. sungguh Galang tidak paham.
Seperti biasa, Galang lebih dulu sampai di sekolah. Sebelum turun, dipikiran Galang terlintas pesan Yudha begitu saja.
"Akh!" Galang memukul kemudi frustasi. Bisa-bisanya Galang melanggar janjinya padahal baru kemarin diucapkan.
Kekesalan Galang rupanya tidak berhenti manakala melihat istrinya lagi-lagi dibonceng laki-laki lain. Ingin rasanya Galang mengamuk, melampiaskan semua kekesalannya tapi untuk apa juga.
Galang tidak langsung turun, laki-laki itu terus memperhatikan Shabita dan Rio dari dalam mobil.
Dilihatnya Rio seakan merangkul Shabita tapi terlihat juga ragu. Keduanya berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.
"****!" umpat Galang.
Setelahnya, Galang turun kemudian melanjutkan langkah menuju kelas.
Di kelas sudah ada kedua sahabatnya, tumbenan sekali mereka berangkat pagi.
"Weettt, kenapa lu?" tanya Kevin melihat wajah Galang masam.
"Pagi-pagi tuh muka udah kaya kanebo kering aja, kaku dan kusut!" timpal Amir.
Galang tidak menjawab.
"Dih nih anak kenapa sih? Ditanya diem-diem bae." imbuh Kevin.
"Kurang jajan lu?" tanya Amir.
__ADS_1
Kevin yang duduk di depan Amir dan Galang memutar tubuhnya menghadap kedua sahabatnya.
"Putus cinta bukan sih? Tapi kan lu jombi." tebak Amir, tidak sadar kalau sendirinya juga jombi.
Galang mendengkus kasar.
"Bete gue sama si Teh." Galang mencebikkan bibirnya.
"Rio? Why?" kepo Amir.
"Gak usah gitu bibirnya, eneg gue liatnya!" Kevin menggeplak bibir Galang.
"Ih bentar dulu, kita dengerin anak gadis mau curhat." Amir menarik tangan Kevin.
Belum sempat Galang curhat, seorang guru masuk pertanda pelajaran akan dimulai.
Selama pelajaran berlangsung pikiran Galang tidak fokus. Bayang-bayang Shabita dibonceng dan tertawa bersama Rio seakan terus menerus menari dalam otaknya.
"****!" tanpa sadar Galang memukul meja.
"Galang, kenapa kamu?" tegur guru.
Galang yang ditegur langsung sadar.
"A-anu, pak. Barusan ada nyamuk!" jawab Galang salah tingkah.
"Huuuuuuuuuhhhh!" sorak murid lain.
Mata Galang melotot tajam pada mereka yang menyorakinya.
"Sudah sudah, kita lanjutkan lagi!" lerai sang guru.
__ADS_1
Semuanya diam kembali mendengarkan materi yang disampaikan guru.
"Sejak kapan di sekolah elit kaya gini ada nyamuk?" bisik Amir pada Galang.
"Berisik lu!" Galang memukul dahi Amir denga pena.
'Sialan emang mereka berdua. Awas aja kalian!' gerutu Galang dalam hati.
Bel istirahat melengking berbunyi. Semua siswa berhambur keluar kelas tidak terkecuali Shabita.
"Kantin yuks!" ajak Shabita pada Hanin.
"Cus!" Hanin mengapit lengan Shabita. Kedua gadis itu gegas menuju kantin.
Di kantin sudah ada Rio yang menunggu kedatangan mereka.
"Sini!" Rio melambaikan tangannya pada Shabita.
"Mau makan apa?" tanya Rio pada kedua gadis itu ketika mereka sudah berkumpul di satu meja.
"Kaya biasa aja!" jawab Shabita.
"Gue, mau dimsum." jawab Hanin.
"Oke, tunggu gue Pesenin!" Rio yang baik hati juga tidak sombong apalagi songong lantas memesan makanan untuk kedua gadis tersebut.
"Eh, betewe semalam lu kenapa sih?" kepo Hanin.
"Kenapa apanya? Aku gak kenapa-napa, kok." jawab Shabita.
"Semalam Rio telpon gue terus cerita kalo kalian lagi VC tapi tiba-tiba lu nya ngilang terus teriak mati gitu. Emang semalam lu pergi kemana sih?" Hanin semakin penasaran.
__ADS_1
"Oh itu, aku pergi sama keponakan yang kebetulan lagi maen ke rumah!" jawab Shabita bohong. Belum saatnya dia jujur pada Hanin. Wajah Shabita tampak gugup takut Hanin tidak percaya.
"Shabita, ikut gue!" sebuah suara menghentikan perbincangan mereka.