
"Ha-hanin?" ucap Shabita tergugup.
"Bagaimana bisa?" Shabita belum percaya.
"Ra, ini lo gak bohongin kita, kan?" selidik Kevin.
"Buat apa gue bohongin kalian?!" tanya Tiara balik.
"Tapi selama ini dia baik sama aku." tubuh Shabita lemas bagai jelly, orang yang selama ini dia anggap sahabat ternyata menusuk.
Galang menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan.
"Kita harus segera lapor polisi!" usul Amir.
"Jangan!" cegah Tiara.
"Kenapa?" semuanya menatap heran pada Tiara.
"Lebih baik kita interogasi dia secara langsung sebelum lapor polisi." saran Tiara.
"Caranya?" Amir menautkan alis.
"Ya kita harus tangkap dia lah. Gue sih yakin banget kalo dia tuh pasti hindarin kita atau mungkin aja dia kabur." seru Tiara sambil melotot.
"Awas mata lo lompat, Ra." seloroh Kevin mengusap wajah Tiara.
"Ish, Kevin, tangan lo bau." Tiara menutup hidungnya.
"Eh iya, lupa gue. Tadi abis buang air." ceplos Kevin tanpa dosa.
__ADS_1
"Iiihhh, jorok!" teriak Tiara.
"Udah udah, jangan bercanda terus." timpal Galang dingin.
"Mon maaf suhu!" Kevin membungkukkan kepalanya.
"Jadi kita sekarang harus tau dulu di Hanin ada dimana." ujar Galang.
"Tenang, itu biar jadi urusan gue." Tiara mengibas-ngibas rambutnya yang panjang lurus.
"Deuh, gaya lo kaya hacker profesional aja!" ledek Kevin.
"Diem lo Chindo!" sentak Tiara.
"Ck, gue rasa sebentar lagi akan tumbuh bunga-bunga cinta di taman lawang." imbuh Amir.
Kevin dan Tiara mendelik ke arah Amir.
"Guys, Hanin ada di bandara!" heboh Tiara setelah berhasil menemukan lokasi Hanin.
"Tuh, kan pasti dia mau kabur." imbuh Amir.
"Eh tapi gimana kita nangkep Hanin?" tanya Shabita.
"Gampang, tinggal peluk aja dari belakang!" celetuk Amir.
"Lo kalo gak bisa kasih saran yang bagus lebih baik diem!" geram Galang.
"Tenang, brew. Serahkan sama koko Kevin yang Tamvan ini." Kevin mengelus-elus dagunya dengan bibir tersenyum penuh percaya diri bahkan sampai over. Semuanya mengangguk seakan pasrah.
__ADS_1
Kevin menghubungi papi nya, lalu menceritakan kasusnya. Papi Kevin yang punya banyak bodyguard siap membantu tanpa melakukan kekerasan.
"Beres brew, biar papi yang urus si Hanin. Kita tunggu dia disini aja." tutup Kevin.
Shabita menghembuskan napas kasar. Kenapa semuanya ini bisa terjadi tanpa diduga? Motif apa yang mendorong Hanin berbuat seperti itu.
Galang sebagai suami paham betul perasaan istrinya. Tak sedetik pun Galang melepaskan tangannya dari sang istri.
Tiara kembali mengorek lebih banyak bukti lewat data yang didapat dari laptop Devan.
Keterkejutan mereka bertambah lagi kala menemukan video tak senonoh Hanin dengan Devan, Hanin dengan laki-laki lain juga videonya papa Devan.
"Anjrot, mata gue ternodai." Amir menutup mata dengan jari dibuka lebar-lebar ketika Tiara memutar beberapa video untuk memastikan.
"Alah lebay lo!" cibir Kevin.
Semuanya masih bertanya-tanya kenapa Hanin bisa seperti itu? Selama ini di sekolah Hanin nampak baik-baik saja.
"Sayang, aku pusing." Shabita memijit pelipisnya.
"Kita istirahat aja, yuks!" ajak Galang. Shabita menggeleng.
"Kamu istirahat dulu, sayang." Galang khawatir.
"Gak mau, aku mau nya makan seblak yang pedes!" Shabita menampilkan puppy eyes.
"Sayang, kamu kan belum sehat." omel Galang.
"Aku gak papa, aku sehat. Please ya!" melas Shabita dengan wajah gemasnya.
__ADS_1
"Duh gemesnya, mana bisa aku nolak!" pasrah Galang. Tiara, Kevin dan Amir tertawa melihat Galang yang pasrah. Bukan dirinya banget.
Shabita akan memasak seblaknya sendiri. Dibantu mbak Marni juga sih. Sambil menunggu Hanin datang lebih baik isi tenaga dulu biar strong menghadapi fakta.