
Dah lah, Shabita memutuskan mandi saja. Sudah pagi juga kan.
Selesai mandi, Shabita melihat Galang masih tertidur nyenyak dibawah selimut.
"Dasar kebo, udah pagi masih aja molor!" cibir Shabita.
Tidak ada niat sama sekali untuk Shabita membangunkan Galang. Shabita memilih menyiapkan buku yang akan dibawanya hari ini lalu setelah semuanya selesai Shabita pergi ke dapur. Niatnya pagi ini, Shabita akan membuat nasi goreng untuk sarapan. Tadi ketika mandi, tiba-tiba saja Shabita ingin nasi goreng.
"Pagi Mbak Marni." sapa hangat Shabita pada Marni.
"Pagi juga non geulis." Marni yang sedang mencuci piring menyapa balik Shabita.
"Mbak, aku mau nasi goreng." ucap Shabita sembari menelisik apa saja yang ada didalam kulkas.
"Ya udah biar mbak bikin kan." Marni menyudahi kegiatannya.
"Gak usah, mbak. Aku mau buat sendiri aja." Shabita mengeluarkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk. membuat nasi goreng dari dalam kulkas.
"Jangan, non. Non, kan udah rapi jadi jangan kotor-kotoran lagi." cegah Marni.
Bukannya berhenti, Shabita malah mengambil apron dan mengenakannya.
Di kamar, Galang bangun tersentak kaget karena jam sudah menunjukkan pukul 6.15. Gegas Galang berlari ke kamar mandi. Jurus ular nyebrang digunakan oleh Galang, yang penting tetep ganteng, pikirnya.
Tak sampai 5 menit, Galang keluar dari kamar mandinya. Semua Galang lakukan secepat kilat.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan, Galang tampak engap-engapan. Berasa habis marathon.
"Kenapa sih?" tanya Bagas heran karena Galang terlihat buru-buru.
"Kesiangan, Pa." jawab Galang singkat.
"Masih pagi loh, ini. Santai saja!" ucap Bagas.
"Kalo udah lewat jam 7 suka macet Pa, males aku tuh." jelas Galang.
Biar pun Galang badung tapi Galang tidak pernah telat datang ke sekolah.
"Udah santai saja, lebih baik kamu sarapan dulu. Itu nasi goreng istri mu yang buat, enak banget." puji Bagas.
"Enggak, Pa. Aku sarapan roti aja." tolak Galang.
Sebenernya Galang ingin cuma gengsi juga ragu dengan masakan Shabita. Galang tidak tahu saja kalau yang dia makan waktu di rumah Yudha sebagian masakan Shabita.
"Loh kenapa? Ini enak banget." Bagas menyuap nasi gorengnya. Kepalanya manggut-manggut menikmati setiap rasanya.
"Gak mau aja, Pa. Gak yakin juga sama rasanya." celetuk Galang.
"Kamu mana tau rasanya kalo gak cicip, Lang. Papa kayanya bakalan ketagihan ini." Bagas lagi-lagi melahap sarapannya dengan ekspresi riang gembira.
"Gak minat sama sekali buat nyicip, Pa." Galang memilih makan roti.
__ADS_1
"Udah, Pa. Yang gak mau jangan dipaksa!" sahut Shabita cuek.
Galang tersenyum smirk.
Pukul 6.50, Galang gegas mengajak Shabita berangkat sekolah.
"Nanti pulang sama gue, jangan sama si Teh!" tegas Galang ketika mereka sudah dalam mobil.
"Teh? Siapa?" Shabita mengerutkan dahinya.
"Si Rio!"
Mendengar nama Rio, Shabita baru ingat kalo semalam mereka VC. Seketika itu pula Shabita ingat dengan HP.
Shabita menunduk mencari keberadaan HP nya yang terjatuh semalam. Tak butuh waktu lama HP Shabita ketemu karena memang ada di bawah.
"Wah banyak banget panggilan masuk dari Rio!" gumam Shabita mengecek HP nya.
Gumaman tersebut rupanya di dengar oleh Galang. Laki-laki itu berubah kesal. Ini masih pagi tapi hatinya sudah gondok gara-gara Rio.
Shabita tersenyum membaca deretan pesan yang dikirim Rio.
"Duh, Rio jadi cowok perhatian banget sih!" puji Shabita dengan wajah sumringah.
Ambyar sudah Galang dibuatnya. Hatinya mendadak terbakar manakala istrinya memuji-muji cowok lain. Cengkeraman tangannya di kemudi semakin kuat. Kali ini Galang tidak bisa ngebut karena jalanan sudah padat.
__ADS_1