Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 24


__ADS_3

Shabita memegang dadanya dengan napas yang tersengal. Rasanya seperti nyawa dia sudah berada ditangan malaikat maut kala dibawa ngebut oleh Galang. Saat ini mobil Galang sudah sampai dihalaman rumah mewah Bagas.


"Cih, dasar cemen!" decih Galang melihat raut Shabita masih ketakutan.


Berkali-kali Shabita menelan salivanya, mengatur napas juga dilakukan.


"Bawa mobil kaya orang kesetanan!" celetuk Shabita kesal.


Tanpa menjawab, Galang keluar mobilnya.


"Dasar Galang resek." umpat Shabita.


Gadis cantik itu bergegas ikut turun juga.


Sesampainya dikamar, Shabita hendak langsung mandi namun keduluan Galang. Oke, Shabita mengalah dan menunggu Galang selesai mandi.


Sudah cukup lama Shabita menunggu hingga gadis itu tertidur meringkuk di sofa. Rupanya Galang memang sengaja melakukan hal itu. Galang kesal dengan Shabita yang seolah-olah tidak menganggapnya ada.


Galang keluar dari kamar mandi sudah berpakaian santai. Dilihatnya Shabita terlelap dengan posisi meringkuk. Galang berjalan mendekat.


Wajah Shabita begitu tenang. Galang menatap wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Bohong jika Galang tidak terpesona dengan wajah cantik Shabita, tapi egonya masih tinggi untuk mengakui itu.


Cukup lama Galang menatap Shabita yang sedang tertidur itu. Galang berjongkok tepat di depan wajah Shabita.

__ADS_1


"Hmm!" tangan Shabita terangkat sebelah, hampir saja mengenai Galang, untung Galang segera mundur.


Dilihatnya Shabita sedang menggaruk pipi. Galang tersenyum melihat itu. Lucu sekali memang. Namun buru-buru Galang tersadar. Galang segera naik ke atas ranjang lalu menyusul Shabita ke alam mimpi.


...****************...


Di tempat lain, Rio panik karena sempat mendengar Shabita berteriak bahkan menyebut mati segala.


"Aduh, gimana kalo Shabita kenapa-napa?" Rio mondar mandir cemas di kamarnya. Berulang kali Rio menghubungi Shabita tapi tidak ada jawaban.


"Apa gue susul aja ya ke rumahnya?" ide tersebut muncul begitu saja.


"Ah tapi gue gak tau dimana rumahnya. Tadi nganterin gak sampe depan rumah!" Rio mengacak rambutnya frustasi.


"Hanin, Shabita gak apa-apa kan?" belum juga Hanin menyapa 'Halo' Rio sudah nanya duluan.


["Ish, apaan sih lo? Nelpon malam-malam begini!"] bentak Hanin.


"Nin, Shabita dalam bahaya..."


Rio menceritakan apa yang didengarnya tadi.


["mudah-mudahan Shabita gak kenapa-napa!"] Hanin ikut cemas setelah mendengar cerita Rio tapi Hanin percaya kalau Shabita pasti baik-baik saja.

__ADS_1


"Terus kita harus gimana, Nin?" tanya Rio.


["Kita tidur aja! Besok kita tanya langsung pada Shabita."]


Rio melongo mendengar ucapan Hanin. Dia kira Hanin akan ikut mencari Shabita tapi malah menyuruhnya tidur.


"Nin, kalo Shabita dalam bahaya gimana?"


["Udah lo percaya aja sama gue, Shabita pasti baik-baik aja! Dia itu strong woman."]


"Hanin, temen apaan lo? Temen sendiri dalam bahaya malah cuek." ungkap Rio kesal dengan respon Hanin.


["Dah ya, gue ngantuk! Bye."] Hanin memutuskan telponnya.


"Eeeuuuuuuuhhh dasar sepupu lucknat lo. Gebetan gue dalam bahaya malah kaya gitu responnya!" geram Rio. Tak bisa dipungkiri kalau Rio juga sudah mengantuk, lantas Rio tertidur dikasurnya. Melupakan kecemasannya pada Shabita.


...****************...


Pagi harinya, Shabita terbangun. Tubuhnya berasa pegal karena posisi tidur yang salah.


Krek! Krek! Krek!


Shabita menggerakkan beberapa persendiannya hingga menimbulkan bunyi. Shabita duduk sambil sesekali mengucek-ngucek matanya. Dilihatnya di ranjang super nyaman itu, Galang masih tertidur nyenyak. Ingin rasanya Shabita berbaring sejenak diatas kasur itu, melemaskan otot punggungnya tapi Shabita enggan.

__ADS_1


__ADS_2