
"Galang!" Shabita melihat Galang sudah berdiri di belakangnya.
"Ayo ikut gue!" Galang menarik tangan Shabita.
"Ih jangan tarik-tarik!" Shabita menghempas tangannya.
"Gak ada waktu, ayo ikut gue sekarang Shabita!" ucap Galang kesal karena Shabita tidak nurut.
"Gak mau. Buat apa aku ikut kamu?" Shabita kembali duduk.
"Ayo dong, kali ini gak usah ngebantah. Ikut ayo!" Galang kembali menarik Shabita.
"Lepasin ih!" cekalan Galang cukup kuat.
Galang semakin kesal karena Shabita tidak mau ikut. Sebenarnya cara Galang meminta Shabita buat mengikutinya itu salah. Tidak baik-baik. Coba saja dengan lembut, tidak maen tarik begitu saja.
"Please, ikut gue dulu. Nanti lu juga bakalan tau!" kali ini suara Galang terdengar seperti memohon.
Jujur saja Shabita bingung dengan dengan yang tiba-tiba mengajaknya pergi.
Shabita menatap Galang yang terlihat sendu itu. Ada apa dengan Galang? pikir Shabita.
"Oke, aku ikut kamu!" pada akhirnya Shabita setuju.
"Eh bentar dulu. Lu mau bawa Shabita kemana?" cegah Hanin.
"Udah lu gak usah ikut campur!" jawab Galang tidak suka dengan pertanyaan Hanin.
"Ayo!" Galang membawa Shabita.
Bagaimana pun Galang adalah suaminya jadi Galang berhak untuk mengajaknya pergi.
Galang membawa Shabita menuju parkiran. Sepanjang mereka berjalan banyak yang memperhatikan. Beberapa dari mereka bisik-bisik.
__ADS_1
"Eh tuh liat, kemaren sama Rio, sekarang sama Galang. Cowok ganteng semua diembat!"
"Mentang-mentang cantik ya jadi bebas mau deketin cowok mana pun!"
"Inget guys, yang good looking selalu punya privilege, kaum remahan kaya kita dilarang sirik!"
Begitu lah bisikan beberapa murid.
"Masuk!" Galang membuka pintu mobil untuk Shabita tapi ucapannya ketus. Bibir Shabita mencebik kesal seraya menghentakkan kaki.
Setelah Shabita masuk, Galang turut masuk ke mobil.
"Pasang seat belt nya!" titah Galang tanpa menoleh pada Shabita.
"Bawel!" dumel Shabita.
"Gak usah ngedumel, ini untuk keselamatan!"
"Ini untuk keselamatan!" Shabita malah meniru gaya Galang bicara yang ketus juga.
"Kita mau kemana sih?" tanya Shabita.
"Udah jangan banyak tanya, nanti juga lu tau."
"Ish gak bisa gitu dong. Kita masih jam sekolah, loh! " protes Shabita.
"Gak usah bawel, bisa gak?"
"Gak bisa. Siapa tau kan kamu mau nyulik aku gitu atau kamu mau...." Shabita melirik ke arah Galang, tangannya menutup area dada.
"Gak usah punya pikiran kotor." Galang masih fokus menyetir.
HP Galang berdering, ternyata Bagas yang nelpon.
__ADS_1
"Iya, Pa." jawab Galang.
"Kalian lagi dimana?"
"Masih di jalan, Pa."
"Ya sudah hati-hati kamu nyetirnya!"
Panggilan telpon terputus.
Sejujurnya hati Galang mulai gelisah tapi sebisa mungkin tidak ia tunjukkan pada Shabita.
Dilihatnya Shabita sedang sibuk dengan HP. Untunglah dia tidak kepo lagi. Galang belum siap mengatakan apa yang sedang terjadi saat ini. Biarlah nanti Shabita melihatnya sendiri.
Beberapa saat kemudian mobil Galang tiba disebuah tempat seperti landasan udara tapi bukan bandara besar, disana ada sebuah helikopter.
"Kita mau ngapain sih kesini?" tanya Shabita melihat ke sekeliling.
"Udah jangan banyak tanya, kita sekarang turun terus naik Heli itu!" titah Galang.
"Ish!" Kesal Shabita karena dari tadi Galang tidak menjawab maksud mereka kesini.
Galang dan Shabita pergi menggunakan Helikopter itu menuju sebuah kota.
Tak lama kemudian, Heli tersebut mendarat di sebuah helipad salah satu gedung di kota tujuan Galang.
Disana, kedatangan mereka disambut oleh orang kepercayaan Bagas. Lalu mereka dibawa ke sebuah rumah sakit.
Segudang pertanyaan muncul pada pikiran Shabita. Untuk apa mereka kesana? siapa yang sakit?
Dari kejauhan, Shabita melihat om dan tantenya duduk lemas sembari menangis di kursi dekat UGD.
"Om, tante!" Shabita berlari menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Abit, mama dan papa kamu..." tante Shabita semakin menangis sambil memeluk tubuhnya.