
Di kelas, Tiara menghampiri bangku Rachel bermaksud untung memberikan uang ganti rugi hp.
"Hel, ini duit buat ganti HP lo!" Tiara menaruh amplop coklat yang berisi uang.
"Dapet duit darimana lo?" selidik Rachel. Ketiga gadis yang dulu berteman akrab dengan Tiara berbalik jadi musuhnya sekarang.
"Jangan terima, Hel. Kayaknya itu duit hasil nyolong deh." timpal Vanya dengan gaya angkuhnya.
"Hem, Oh iya baru inget, guys. Semalam kan dia jadi bunga balapan, mungkin ini duit hasil jual diri." ucap Rachel dengan nada tinggi supaya seisi kelas tahu.
Tiara sudah mengepalkan tangannya namun mencoba untuk tidak meladeni mereka.
"Terserah apa kata lo yang penting gue udah ganti rugi. Mudah-mudahan duitnya cukup!" Tiara akan kembali ke bangkunya bersama Shabita. Perempuan itu sedang mogok bersama suaminya di bangku paling belakang. Kendati masih menyimak apa yang dilakukan para gadis yang dulu bestian paket banget.
"Idih, gue gak mau ya. Ini duit haram, gue takut kebawa dosanya kalo pake duit dari lo!" tolak Rachel dengan wajah jijik. Atensi murid yang ada di kelas tertuju pada bangku Rachel.
"Mending lo pake aja sendiri duitnya, lo kan miskin jadi pasti lebih butuh." ledek Gadis. Ketiga gadis itu melakukan tos.
Tiara masih sabar. "Terserah, niat gue udah baik mau ganti HP lo." ucap Tiara berusaha acuh. Hatinya begitu kesal dengan mulut-mulut mantan sahabatnya.
"Tanpa lo ganti pun gue mampu beli yang baru. Uang bokap gue halal lagi, bukan hasil nyuri duit rakyat! Ups!" delik Rachel.
Tiara menarik napas, mencoba bersabar walau sadar kesabarannya hanya setipis kulit bawang.
"Ya udah terserah lo, mau dipake atau enggak duitnya." Tiara kembali melangkah ke arah bangkunya. Tanpa diduga, Rachel menghamburkan uangnya dikepalanya Tiara.
__ADS_1
"Ambil balik duitnya, gue gak butuh duit hasil jual diri. Haram bagi gue!" ucap Rachel angkuh.
"Jadi Ra, lo sekarang Open BO?" tanya salah satu murid laki-laki.
Tiara masih menunduk dengan tangan mengepal.
"Boleh dong, Ra!" goda murid laki-laki lainnya.
Tiara sudah tidak bisa lagi menahan gunung yang akan meletus.
"Diem lo!" bentak Tiara. Tangannya terulur mengumpulkan uang yang berserakan.
"Iya pungut aja gitu, Ra. Kasian kan hasil kerja keras semalaman sama abang gue." timpal Rachel.
"Cih, abang lo kalah ya." decih Tiara. Matanya menatap tajam pada Rachel. Sungguh Tiada tidak ingin jadi makhluk menyek-menyek yang ketika dibully diam saja. Walaupun dia tidak punya kekuasaan tapi tetap harus melawan kalau tidak harga dirinya akan selalu direndahkan.
"Woy berisik lo pada, kalo mau gelut disana aja di lapangan, jangan ganggu ketenangan orang!" teriak Kevin.
Tiara kembali ke bangkunya. Perdebatan mantan sahabat pun berhenti.
...****************...
"Aku gak mau ninggalin, Galang!" ucap Marni sendu.
"Tapi kamu juga harus menikah dan punya kehidupan sendiri, Marni." sergah Bagas.
__ADS_1
"Begini saja sudah cukup bagiku asal aku selalu dekat dengan Galang." mata Marni sudah berkaca-kaca. Rasanya dia tidak akan sanggup berpisah dengan Galang yang sedari kecil sudah dia rawat apalagi setelah mama Galang meninggal, semua kebutuhan, kasih sayang seorang ibu sudah Marni berikan pada Galang.
"Aku yang selalu merasa bersalah jika kamu seperti ini terus, Marni." ungkap Bagas.
"Kenapa bapak yang harus merasa bersalah sedangkan ini adalah pilihan ku?" Marni mengusap air matanya.
Saat ini Bagas dan Marni sedang berdebat di dapur. Setelah Galang dan Shabita berangkat sekolah, Bagas mengajak Marni berbincang.
"Bapak terus saja menyuruh aku menikah sedangkan bapak sendiri tidak menikah." tambah Marni.
"Ya karena saya tidak mau." jawab Bagas ragu.
"Kenapa tidak mau? Di luaran sana pasti banyak sekali wanita yang ingin jadi istri bapak." tukas Marni.
"Begitu pun dengan kamu, kan?" goda Bagas.
Mata Marni melotot, membuang muka ke arah lain supaya tidak bersitatap dengan Bagas.
"Kenapa Marni?" Bagas mencondongkan wajahnya ke arah Marni.
"Aku tidak seperti itu!" Marni menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar lagi berdekatan seperti ini dengan Bagas.
"Bagaimana kalo saya menikah lagi?" Bagas menyenderkan kepalanya ke kursi makan.
"Ya bagus!" balas Marni cepat.
__ADS_1
"Tapi sama kamu." celetuk Bagas.