
Bagas bertemu dengan Hadi setelah mengunjungi Devan.
Berkali-kali Hadi minta maaf karena yang akan dicelakai Devan adalah menantu Bagas.
"Saya benar-benar minta maaf, pak Bagas." ucap Hadi.
"Tidak usah seperti itu pak Hadi, ini semua diluar kendali anda." Bagas menepuk pundak Hadi.
Bagas dan Hadi sudah lama menjadi rekan bisnis. Perusahaan mereka kerap melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.
"Saya benar-benar tidak tau kalo Galang sudah menikah." sahut Hadi.
"Iya pak, pernikahan mereka masih dirahasiakan karena masih sekolah." aku Bagas.
Hadi semakin dibuat tercengang manakala tahu kalau Shabita adalah anak Yudha, pengusaha asal Bandung. Jalinan bisnis yang luas membuat mereka mengenal satu sama lain.
Hadi semakin dibuat tidak punya muka mengetahui fakta ini. Tetapi yang lebih menyakitkan untuknya adalah semua yang dilakukan oleh Devan mencontoh darinya. Hadi sudah pasrah dengan hukuman yang akan diterima Devan, rasanya tidak tahu diri untuk melawan Bagas juga keluarga Yudha.
Saat ini, Galang tidak berhasil menemui Devan karena Devan menolaknya. Alhasil Galang mendumel sepanjang jalan ke rumah. Shabita dan Galang memilih pulang lagi sedangkan Bagas akan mengurus semuanya.
Galang ingin membantu Bagas tapi sudah pasti dilarang, katanya Galang jaga Shabita saja.
"Udah dong sayang jangan ngedumel terus." rayu Shabita. Bibir Galang masih monyong.
"Aku masih emosi sama si Devan itu," cerocos Galang.
"Iya aku paham, sayang." Shabita merangkul lengan kokoh Galang.
Beruntung kejadian itu tidak menimbulkan trauma untuk Shabita jadi Galang bisa bernapas lega. Shabita juga cerita kalau Devan sempat menyentuh bagian tubuhnya namun bukan bagian yang sensitif. Bisa dibunuh tuh si Devan kalo menjamah Shabita terlalu jauh.
__ADS_1
"Aku harus membersihkan tubuhnya, menghilangkan bekas si Devan itu." timpal Galang.
"Sekalian pake tanah." tambah Galang.
"Dikira aku di gigit guguk, apa." cicit Shabita.
"Belaian tangan dia itu najis besar sayang," sergah Galang.
"Iya iya, lakukan apapun supaya kamu gak marah terus." Shabita mendusel di lengan Galang.
"Bener nih?" Galang tersenyum jahil.
"Ya benerlah. Apa pun untuk suamiku." ucap Shabita.
"Yes," seru Galang.
"Temen kita udah nunggu." ujar Galang. Shabita tersenyum senang karena punya teman yang solid siap membantu kasusu ini walaupun Galang tidak yakin mereka akan membantu dengan benar.
Di rumah Galang telah berkumpul tiga laki-laki mostwanted SMA Samudra. Tidak lupa juga Tiara disana. Katanya Tiara akan membantu kasus Shabita sebagai balas budi. Hanin akan datang menyusul, saat ini Hanin sedang mengantar sang mama Shopping yang tidak bisa diganggu gugat.
Mereka berlima duduk melingkar di ruang santai. Ada satu laptop dihadapan mereka yang diminta oleh Tiara.
"Untungnya gue sempat membobol HP Devan dan meng-copy film dilaptop dia sebelum polisi datang. Mudah-mudahan data ini bisa membantu kita untuk tau siapa orang yang bersama Devan." harap Tiara.
Mereka baru tahu kalau Tiara jago meretas. Kevin menatap kagum sejenak.
"Sayang, duduk sini!" dengan tidak tahu malunya Galang meminta Shabita duduk dipangkuannya.
"Ish malu ah." tolak Shabita.
__ADS_1
"Kira-kira dong lo, kalo mau mesra-mesraan sono ke kamar dulu jangan depan gue yang jombi." sewot Kevin.
"Kan udah gue tawarin kambing tetangga gue single, lo nya aja yang gak mau." balas Galang.
"Udah udah ih jangan ribut dulu, kita lagi mau serius ini." lerai Shabita.
"Tau nih lo berdua, ribut mulu, gak kalem kaya gue." timpal Amir.
"Iya lo kalem banget kaya yang suka bambang di kali." sahut Kevin.
"Diem! Gue mau konsentrasi nih." omel Tiara.
Jari lentik Tiara mengotak-atik laptopnya. Di laptopnya terpampang kode-kode yang tidak akan dipahami oleh yang lain.
Sambil menunggu Tiara selesai, Galang terus merengek bagai anak kecil meminta Shabita untuk duduk dipangkuannya.
"Sayang, ayo dong duduk sini!" rengek Galang, menepuk pahanya. Shabita menggeleng karena malu.
"Pokoknya kamu gak boleh jauh-jauh dari aku." Galang memangku paksa Shabita lalu mendudukkannya dipaha. Sungguh Shabita malu saat ini, berbeda dengan Galang yang malah acuh.
Tanpa segan Galang bahkan mendusel leher Shabita, mencium istrinya hingga memeluknya sangat erat.
"Lama-lama jengah juga liat, lo!" cibir Kevin.
Jiwa jombi Kevin dan Amir meronta-ronta menginginkan hal yang sama, sementara Tiara mencoba fokus. Hatinya sudah bisa mengikhlaskan Galang.
"What?" pekik Tiara ketika menemukan siapa orang yang selama ini bekerja sama Devan.
Mereka semua beringsut menatap tidak percaya pada foto orang yang terpampang di layar laptop.
__ADS_1