
Galang tidak memperdulikan lagi acara wisuda sekolahnya yang digelar di sebuah hotel mewah. Laki-laki itu bergegas menuju rumah sakit ketika mendapat kabar Shabita akan melahirkan. Tak hanya Galang yang panik, kedua orang tuanya pun ikutan panik sehingga mereka sama-sama pergi meninggalkan acara. Kepergian mereka menimbulkan kecurigaan pada beberapa murid namun tidak ada yang berani bergosip lagi.
Galang mengendarai mobilnya gila-gilaan, untung saja Marni tidak jadi satu mobil dengannya bisa-bisa Marni langsung melahirkan karena dibawa ngebut oleh Galang.
Hanya butuh waktu 10 menit untuk Galang sampai ke rumah sakit. Dia dengan segera mencari keberadaan istrinya yang ternyata sudah masuk ruang bersalin.
"Bu, Shabita dimana?" tanya Galang pada bu Ani yang membawa Shabita ke rumah sakit.
"Ada didalam." Galang masuk ke ruang bersalin. Dilihatnya Shabita sedang merintih menahan sakit.
"Sayang!" Galang dengan raut cemasnya menghampiri sang istri. Tangannya langsung digenggam oleh Shabita.
Ada beberapa suster yang menatap heran ke arah Galang karena laki-laki itu masih mengenakan baju wisudanya. Galang tidak peduli sama sekali. Saat ini keselamatan istri dan anaknya yang lebih utama.
"Sudah pembukaan lengkap, silakan ikuti arahan saya ya, bu." ucap sang dokter.
Shabita mengatur napasnya, mengikuti setiap arahan dari dokter. Beberapa kali dia mengejan tapi bayinya belum keluar juga. Tubuh Shabita sudah dipenuhi oleh keringat, tangannya mencengkram kuat tangan Galang.
Rintihan kesakitan dan perjuangan Shabita begitu membuat hati Galang pilu. Dia kasihan dengan istrinya yang harus berjuang sendiri. Tak terasa air mata Galang menetes mengiringi tangis bayi yang terdengar cukup nyaring di ruangan itu. Shabita berhasil melahirkan bayinya dengan sisa tenaga yang dimiliki.
"Sayang, anak kita udah lahir!" Galang menangis terharu lalu mencium kening istrinya. Galang tidak peduli dengan rambutnya yang acak-acakan dijambak Shabita, juga lengannya yang sempat di gigit oleh Shabita. Semua itu sudah terbayar mahal dengan lahirnya seorang bayi laki-laki mungil nan tampan.
Dokter meminta pada Galang untung mengadzani anaknya. Air mata Galang tidak berhenti mengalir. Dia tidak menyangka akan mempunyai anak secepat ini.
Setelah selesai, bayi tersebut diletakkan di dada Shabita untuk mencari sumber kehidupannya. Tidak beda dengan Galang, Shabita menatap penuh haru pada bayi yang sedang mereguk ASI.
"Sayang, terimakasih telah melahirkan bayi tampan ini!" ucap Galang penuh haru sambil mengecup kening istrinya. Beribu kata syukur terucap dari mulut keduanya. Pernikahan yang awalnya mereka tolak kini semakin berbuah manis. Tak akan mereka sia-siakan kesempatan untuk saling membahagiakan.
"Hidungnya mirip kamu!" kata Shabita sambil memperhatikan anaknya yang lebih banyak mirip Galang. Laki-laki itu tersenyum.
Ibu dan bayi itu sekarang sudah dipindahkan ke ruang inap. Bayinya diletakkan pada box bayi yang tidak jauh dari Shabita. Dia tidak ingin jauh dari anaknya.
"Ganteng banget sih cucu opa," puji Bagas sambil menoel pipi chubby cucunya.
"Mirip Galang banget waktu bayi," timpal Marni. Saat ini bayi tersebut sedang tertidur. Marni tadi sudah sempat menggendong.
"Iya bener, ini pasti karena Galang bucin banget sama Shabita." imbuh Bagas.
__ADS_1
"Mana ada pa, kaya gitu." protes Galang.
"Oh jadi kamu gak bucin nih sama aku?" rajuk Shabita pura-pura kesal.
"Eh bukan gitu sayang," Galang yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya.
"Aku cinta banget sama kamu!" ucap Galang, tangannya terulur memegang tangan istrinya. Tatapannya begitu tulus.
"Iya iya percaya!" kekeh Shabita.
"Dasar bucin!" ledek Bagas.
"Kalian bertiga itu mirip tau," tukas Marni.
"Mas, versi tua, Galang versi remaja, dan cucu oma yang ganteng ini versi bayinya." sambung Marni.
"Galang mirip papa Bagas, ma?" kepo Shabita.
"Ya miriplah, kan papa yang naroh benihnya!" timpal Bagas.
"Bukannya waktu itu papa katanya gak cinta sama mama, kok Galang bisa mirip sama papa?" tanya Shabita dengan polosnya.
"Tadi katanya kalo mirip gitu pertanda bucin," kekeh Shabita. Bagas jadi serba salah lalu mereka tertawa.
"Aduh, udah ah jangan bahas masa-masa itu!" Marni menghentikan tawanya.
"Eh udah ada nama belum? Kalo belum papa yang kasih nama," usul Bagas.
"Enak aja, ini anak aku ya bukan anak papa jadi aku yang harus kasih nama." protes Galang.
"Dih awas ya, bentar lagi papa juga punya anak sendiri!" balas Bagas tidak mau kalah, tangannya terulur mengusap perut Marni.
"Udah udah. Siapa namanya, Lang?" tanya Marni.
"Namanya Arion Shaga Smith." ucap Galang sambil tersenyum menatap anaknya yang sedang damai tertidur.
"Wah bagus banget namanya!" puji Marni.
__ADS_1
"Bagus banget sayang namanya," puji Shabita juga.
"Padahal waktu itu kita sempat memilih nama tapi tak ada satu pun yang dipake karena banyak banget," sambung Shabita.
"Aku kepikiran pas pertama kali melihat anak kita sayang yang begitu mempesona, makanya aku kasih nama Arion biar kelak dia bisa memikat hati para wanita dengan pesonanya!" kata Galang.
"Tapi awas saja kalo jadi playboy." sahut Shabita.
"Gak akan, sayang." harap Galang.
Kesunyian ruangan itu berubah jadi ramai manakala kedatangan Kevin dan Amir. Para jombi diberi tahu oleh Galang bahwa anaknya sudah lahir. Amir dan Kevin berebut untuk menggendong Arion.
"Woy, jangan rebutan. Awas loh, bayi gue lecet!" peringat Galang pada kedua sahabatnya.
"Yaelah posesif banget lo, bentar lagi gue ajak dia main bola!" timpal Kevin yang sedang menggendong Arion dengan kaku.
"Arion tampan banget sih, mirip uncle Amir." kata Amir dengan percaya diri sambil menoel pipi Arion.
"Sekate-sekate lo ya kalo ngomong! Gue yang nagdon malah dikata mirip onta kayak lo," protes Galang.
"Ck, gini nih kalo pas pelajar bahasa indonesia molor terus. Pahami omongan gue, kata gue tampannya bukan berarti bentuknya!" jelas Amir.
"Wanjay tumben ngomong lo bener!" seru Kevin.
"Eits gak boleh ngomong kasar, nanti Arion ngikutin!" omel Amir.
"Si bege, bayi baru brojol mana ngerti!" tukas Kevin.
Arion berpindah tangan ke gendongan Amir. Bayi tersebut begitu nyaman digendong oleh mereka.
Kehadiran Arion menjadi pelengkap dalam pernikahan Galang dan Shabita. Sekali lagi Galang dan Shabita masih belum percaya, diusia mereka yang masih belia sudah dikaruniai seoarang anak yang sangat tampan.
Pernikahan yang awalnya terpaksa sudah membuahkan hasil yang manis. Kini tinggal bagaimana mereka mempertahankan semuanya agar tidak ada keretakan dalam rumah tangganya.
Kehadiran Arion menjadi anugerah terbesar dalam hidup Galang dan Shabita. Arion menjadi segalanya bagi mereka.
"Terimakasih, sayang, telah lahir kedunia ini!" Shabita mengecup pipi Arion yang tertidur dalam pangkuannya. Galang ikut memeluk keluarga kecilnya dengan rasa bahagia yang tak terhingga.
__ADS_1
*SEKIAN*
(Terimakasih teman-teman telah mengikuti novel pertamaku 🥺 like dan komennya menjadi mood booster ku dalam menulis ☺ mohon maaf jika masih banyak kekurangan, sekali lagi hatur nuhun dan jangan lupa ikuti juga sequel cerita ini, see u ❤)