
Hari ini Shabita berkunjung ke Bandung. Sebelum menuju rumah utama, Shabita mengunjungi makam orang tuanya dulu.
Shabita menangis di pusara orang tuanya setelah memanjatkan doa.
"sayang, tenang!" Galang mengusap lembut pipi istrinya dengan jempol.
Usai berziarah, Shabita pulang ke rumah orang tuanya yang megah bak istana tetapi sekarang tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa pegawai saja yang bertugas menjaga juga membersihkan rumah itu.
Disana pula sudah datang Yunita, tanten Shabita yang sebelumnya sudah tahu keponakan akan berkunjung.
"Ayo sayang, kamu pasti capek." Yunita merangkul sayang keponakannya menuju ruang keluarga.
"Kakak!" pekik seorang anak perempuan kecil yang bersuara cempreng sambil berlari ke arah Shabita
"Hey sayang!" Shabita merentangkan tangannya menyambut Tania, nama anak kecil itu.
"Aku kangen banget sama kakak!" Tania nemplok dipelukan Shabita.
"Kakak juga kangen banget sama Tania!" Shabita memeluk erat Tania. Mereka larut dalam pelukannya sampai ketika mata Tania menangkap seseorang laki-laki ganteng.
"Wah siapa cowok ganteng itu, kak?" tanya Tania melihat Galang penuh damba.
"Siapa?" Shabita melihat ke belakang yang ada hanya suaminya.
"Itu, kak!" Tania menunjuk Galang dengan dagunya.
"Oh itu," Shabita terkekeh sedang Galang hanya mesem-mesem dipuji ganteng.
__ADS_1
"Dah Tania jangan genit-genit sama pacarnya Kakak." peringat Yunita.
"Ish mama, Tania kan pengen tau dari mana datangnya malaikat itu." Tania mencebikkan bibirnya, Posisinya masih nemplok dalam pelukan Shabita.
"Gak usah genit. Ayo turun, kasih kakak capek!" Yunita menurunkan Tania. Bukannya menjauh Tania malah mendekati Galang.
"Hay kakak ganteng, kenalin aku Tania!" Tania mengulurkan tangannya.
Galang berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Tania.
"Hay Tania cantik, nama kakak Galang." Galang menjabat tangan Tania dengan senyum mengembang. Tania tidak melepaskan tangannya.
"Eh, lepas ya tangannya, ini punya kakak!" Shabita melepas paksa tangan Tania lalu memeluk Galang.
"Kakak gak boleh peluk-peluk, bukan mukhrim!" sewot Tania kesal. Bibirnya cemberut.
"Abit!" tegur Yunita melotot.
"Mama, kakak cium kakak ganteng itu." adu Tania sambil merengek.
"Aduh kamu ini! Baru juga akur udah bertengkar lagi." omel Yunita. Tania sudah menangis iri melihat Shabita bergelayut manja pada Galang. Kalau Galang sih anteng-anteng bae, kedemenannya.
"Udah ah, kamu istirahat dulu sana!" titah Yunita. Shabita melanjutkan ke kamarnya tapi sebelumnya Shabita meledek Tania dengan menjulurkan lidahnya. Bahkan Shabita sampai minta di gendong oleh Galang. Si Tania nangis kejer.
"Sayang, kamu jahil banget sih!" Galang menurunkan istrinya di ranjang.
"abisnya Tania itu gemesin sayang, gampang banget nangis." ungkap Shabita.
__ADS_1
"Ya kan kasian juga, sayang."
"Alah, tapi kamu suka kan aku gituin tadi?" tanya Shabita menggoda Galang.
"Suka banget, yuks lanjut!" ajak Galang semangat.
"No!" tolak Shabita.
Galang menggelitiki istrinya sampai tertawa, tanpa sengaja tangan Shabita menyenggol sesuatu yang ada dibawah bantal. Kotak itu jatuh ke lantai.
"Apa itu sayang?" Galang memungut kotaknya.
Di bagian atasnya ada surat, bawahnya lagi masih ada beberapa kertas. Shabita membuka dan membaca surat itu yang ternyata dari orang tuanya.
"Dear, Shabita Putri Yudha, anak kami tersayang.
Kalo kamu baca surat ini berarti mama dan papa udah gak ada di dunia.
Papa dan mama minta maaf karena gagal. menjaga kamu, membahagiakan kamu bahkan papa dan mama dengan egois merebut masa remaja kamu. Papa gak punya pilihan lain selain menitipkan mu pada Bagas. Papa yakin Bagas akan menjaga, menyayangi mu seperti putrinya sendiri. Tadinya papa dan Bagas sepakat untuk menikahkan mu dengan Galang setelah kalian dewasa tapi papa didesak keadaan. Mama yang kian hari sakitnya kian parah takut tidak bisa melihat mu menikah dan papa yang merasa harus melindungi mu melalui Bagas kemudian memutuskan untuk segera menikahkan kalian. Papa tau ini sangat menyakitkan buat kamu, tapi percayalah kebahagiaan telah menanti mu bersama Galang.
Kamu tau, sayang, alasan untuk melindungi mu itu apa? Papa selama ini menerima teror ancaman mengenai keselamatan mu. Papa gak tau siapa itu dan papa juga tidak percaya dengan bodyguard. Yang papa percaya hanya Bagas makanya papa memindahkan mu ke Jakarta.
Janga menangis anak papa yang cantik, berbahagialah bersama Galang! Kami sayang kamu, Shabita."
Shabita menangis membaca suratnya. Tidak menyangka dengan apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya Semata-mata untuk keselamatannya.
Lalu Shabita membuka satu per satu lembaran kertas disana yang ternyata berisi ancaman pembunuhan terhadap kelauraga yang sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah ulah Hanin.
__ADS_1