
Galang keluar dari kamar mandi setelah berpakaian lengkap. Seolah tidak terjadi apa-apa, Galang berjalan ke arah meja rias Shabita yang terdapat sisir. Istrinya masih sibuk menutup diri dengan bantal.
Bukan Galang tidak malu dengan kejadian tadi cuma ya Galang berusaha stay cool.
"Ck, lu gak laper?" tanya Galang pada Shabita. Istrinya tidak menyahut taupun membuka bantalnya.
Melihat tidak ada jawaban, Galang menghampiri Shabita di kasur.
"Lu tidur atau mati sih?" Galang menggoyang-goyangkan tubuh Shabita. Tetap tidak ada jawaban.
Kruyuk kruyuk!
Perut Galang berbunyi sangat nyaring.
"Ah laper!" Galang memegang perutnya.
"Abit, lu mau makan gak, sih? Kalo gak mau, gue makan duluan!" tanya Galang sekali lagi namun Shabita tetap bungkam.
"Ck, ya sudah gue makan duluan!" decih Galang, kesal juga lama-lama.
__ADS_1
Suara pintu kamar tertutup. Shabita yang tahu Galang pergi segera membuka bantalnya.
"Hah Hah Hah!" napas Shabita terengah-engah.
"Ish dasar Galang resek. Udah tau orang teh malu gara-gara tadi masih aja banyak nanya!" gerutu Shabita seorang diri.
"Ih!" Shabita menggidikkan bahunya kala mengingat tubuh Galang.
"Gara-gara Galang resek, mata ku jadi ternodai. Gak rela." ucap Shabita sembari menggeleng-geleng kepalanya.
Pikiran Shabita terkontaminasi hingga sulit lupa. Shabita seolah lupa kalau Galang adalah suaminya yang artinya semua yang dia lihat bukanlah dosa.
Keduanya sama-sama menanyakan keberadaan Shabita. Mereka khawatir terjadi hal buruk pada Shabita. Hanin malah menanyakan perihal hubungannya dengan Galang. Shabita membalasnya dan akan mengatakannya nanti setelah masuk sekolah kembali.
Ceklek!
Pintu kamar Shabita dibuka. Gegas Shabita menyembunyikan dirinya dibalik selimut. Galang masuk dengan membawa nampan berisi makanan.
Nampan tersebut Galang letakkan di nakas.
__ADS_1
"Abit, makan dulu!" titah Galang. Laki-laki tampan nan rupawan itu duduk di ranjang samping Shabita.
Tidak ada jawaban lagi. Galang menghembuskan napas kasar. Jengah juga lama-lama di acuhkan oleh istrinya padahal Galang sudah berbaik hati membawakan makan untuk Shabita.
Galang menatap kesal ke arah selimut yang menutupi tubuh Shabita. Lalu Galang bangkit menuju sofa panjang yang ada di kamar. Direbahkannya tubuh Galang disana, lelah dan ingin istirahat.
Galang memilih tidur di sofa karena cukup tahu diri. Di rumahnya, Galang meminta Shabita tidur di sofa dan sekarang Galang merasa malu untuk meminta tidur di ranjang.
Perlahan mata Galang mulai terpejam. Rasa ngantuk membawa Galang dengan cepat memasuki alam mimpi. Dibalik selimut pun Shabita sudah terlelap.
Sekitar pukul satu dinihari, Galang samar-samar mendengar orang merintih menggigil. Galang mengerjap-ngerjap matanya lalu duduk. Badannya terasa pegal. Galang melihat ke arah ranjang. Tubuh istrinya tampak bergetar dibalik selimut dengan suara rintihan kecil.
"Abit!" Galang berlari ke arah sang istri. Rupanya Shabita sedang menggigil. Galang mengulurkan tangannya, menempelkannya di dahi Shabita.
"Ya Allah, panas banget!" ucap Galang panik.
Shabita demam juga kedinginan. Wajahnya terlihat pucat. Galang bingung harus melakukan apa. Otaknya berpikir cepat dan keras untuk membantu Shabita. Alih-alih membawa Shabita ke dokter, Galang malah berlari menuju dapur. Panik dan khawatir yang saat ini Galang rasakan.
Galang mengambil panci kemudian mengisinya dengan air. Setelah airnya cukup hangat, Galang menuangkannya ke dalam baskom kecil. Buru-buru Galang kembali ke kamar.
__ADS_1