
Shabita mengerjap-ngerjap matanya. Mencoba memulihkan kesadarannya. Dilihatnya sekeliling ruangan yang nampak seperti kamar. Shabita mencoba bangun tapi badannya serasa kaku, sulit untuk digerakan.
"Aku dimana?" lirih Shabita. Ruangan itu benar-benar tidak ia kenali.
Kamarnya cukup mewah, mungkin seperti hotel atau apartemen, pikir Shabita.
Di kamar itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya yang terbaring kaku di ranjang king size.
"Kenapa aku ada disini? Apa Galang yang bawa aku kesini? Tapi kemana dia?" berbagai pertanyaan bercongkol dibenak Shabita. Dan juga kenapa tubuhnya terasa kaku sekali. Hanya mata dan mulut yang bisa digunakan.
Ceklek!
Suara pintu dibuka. Shabita segera melihatnya.
"Halo, sayang. Kamu udah bangun ternyata?!" seorang laki-laki mendekat ke arah ranjang.
"Kamu? Ngapain kamu disini?" Shabita heran kenapa ada Devan disini.
"Kenapa emangnya kalo aku disini?" Devan mengelus lembut pipi Shabita dengan senyum manis namun menakutkan.
"Aku tanya ngapain kamu disini?" Shabita ingin menepis tangan Devan yang tidak berhenti mengelus seluruh wajahnya tetapi tangannya benar-benar susah digerakkan.
__ADS_1
"Stttt, jangan banyak tanya, malam ini kita akan bersenang-senang." seru Devan. Jempolnya mengusap lembut bibir Shabita.
Bukan Shabita namanya kalau hanya diam saja. Jempol Devan digigit sangat kencang oleh Shabita.
"Aw!" ringis Devan berusaha menarik jempolnya dari mulut Shabita.
Laki-laki itu yang tampilannya jauh berbeda saat sekolah terlihat mengibas-ngibas tangannya, kesakitan.
"Calm, baby. Gak usah ganas gini." senyum smirk Devan terbitkan.
Pikiran Shabita sudah bisa mencerna maksud Devan yang tidak baik. Sebisa mungkin Shabita meronta tetapi nihil. Badannya tetap tidak bisa digerakkan. Apa yang sudah terjadi? Apakah Devan memberikan suatu obat yang membuat tubuhnya kaku?
Ya, Devan melakukan itu untuk melancarkan aksinya. Jika Shabita sadar maka sudah dapat dipastikan akan melawan. Makanya Devan memakai cara licik dengan mencampurnya ke dalam air yang tadi sempat di minum oleh Shabita di sekolah.
"Diam, sayang. Aku tidak akan menyakiti mu." senyuman Devan justru semakin menakutkan.
Devan terlihat sedang memasang kamera di berbagai sisi ranjang. Mengatur arah yang pas supaya hasilnya bagus.
"Baiklah, kamera sudah selesai terpasang. Saatnya kita bermain!" Devan menepuk-nepuk tangannya.
"Heh mau ngapain kamu?" bentak Shabita manakala Devan memberikan belaian lembut pada kaki Shabita.
__ADS_1
"Jangan berisik, sayang. Nikmatilah permainan kita." dengan kurang asemnya Devan merangkak mendekati tubuh Shabita.
"Jangan! Heh kamu jangan macem-macem ya!" ancam Shabita.
"Kamu bawel juga ya. Tapi gak papa, aku semakin menggilai mu." Devan kembali mengusap-usap wajah Shabita. Tatapan pria itu sangat menakutkan. Kesannya yang cupu di sekolah sangatlah berbeda.
"Jangan! Stop, atau aku laporin kamu sama polisi." ancam Shabita. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Ketakutan menguasai dirinya.
Devan tertawa begitu mendengar ancaman Shabita.
"Aku tidak takut karena setelah ini kamu yang bakalan memohon pada ku." ucap Devan penuh percaya diri.
"Tidak. Jangan!" teriak Shabita karena tangan Devan kembali beraksi.
Kamera yang dipasang Devan sudah mereka semua adegan yang ada di ranjang itu.
"Galang, tolong!" rintih Shabita.
"Cih, dalam. keadaan seperti ini pu kamu masih meminta tolong sama pecundang itu?" cibir Devan tidak suka mendengar nama Galang.
"Galang, tolongin aku!" Shabita tidak menghiraukan ucapan Devan.
__ADS_1
"Silahkan kamu teriak sekencang-kencangnya karena si pecundang itu gak mungkin datang." tawa Devan sangat menggelegar diseantero ruangan.
"Mama, papa, tolong aku." rintih Shabita putus asa dengan air mata yang mengalir dipipi mulusnya.