
Setelah acara keluarga Galang selesai, para remaja itu kembali ke kota. Marni tentu saja ikut.
Selama di kampung Marni mereka menjajal sawah, sungai, hutan, kebun, hingga tempat wisata. Tidak lupa juga Shabita mengajak Alana kendati Alana hanya sekali saja bisa ikut saat berwisata. Katanya dia harus berjualan.
Mobil masing-masing para remaja itu penuh dengan oleh-oleh khas kampung. Segala macam mereka bawa dan beli.
Butuh beberapa jam untuk mereka sampai ke rumah dan hari sudah malam.
"Alhamdulillah, sampai juga." ucap Marni setelah turun dari mobil bersama Bagas.
"Shabita kenapa, Lang?" tanya Bagas saat melihat Galang menggendong istrinya ala bridal.
"Ngantuk katanya, Pa. Gak mau bangun," jawab Galang sambil terkekeh.
"Sayang, buruan ke kamar, aku malu!" bisik Shabita tanpa membuka mata.
"Gak usah malu, papa dan mama juga pasti ngerti kok," balas Galang dengan suara keras supaya didengar oleh orang tuanya.
"Aw!" pekik Galang. Tangan Shabita sudah mendaratkan cubitan maut di perut Galang.
"Sakit sayang, doyan banget sih cubit-cubit." protes Galang sambil berjalan menuju rumah.
__ADS_1
"lagian nyebelin banget," Shabita kembali mencubit Galang.
"Berani ya kamu!" Galang mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada pipi istrinya. Galang sama sekali tidak malu dengan orang tuanya.
"Udah kalian buruan masuk kamar!" seru Bagas sambil geleng-geleng kepala.
"Ayo kita juga istirahat!" Bagas melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Marni. Keduanya berjalan ke kamar utama.
Marni masih belum menyangka dengan takutnya sekarang. Dia bisa memberikan kasih sayangnya secara bebas pada Galang juga bisa dicintai oleh Bagas yang dulu dianggapnya tidak mungkin.
"Mas, mau mandi dulu. Tolongin siapin baju untuk Mas tidur ya!" pinta Bagas seraya berjalan ke kamar mandi.
Marni berjalan ke arah walk in closet. Memilih pakaian santai untuk suaminya.
Saat Marni keluar dari sana, matanya menangkap sebuah potret Mey yang terbungkus bingkai kaca. Marni berdiri di depan foto Mey.
"Mbak, maafkan aku karena sudah merebut Mas Bagas dari mu. Izinkan aku bahagia bersama Galang dan Mas Bagas. Maaf aku ingkar untuk tidak jatuh cinta pada Mas Bagas. Jika mbak berpikir aku terpaksa menikah dengan Mas Bagas dulu, itu salah. Aku tidak sepenuhnya terpaksa karena aku sudah cinta sama Mas Bagas cuma aku sadar kalo Mas Bagas sudah punya istri yang begitu dicintainya." tutur Marni.
"Aku sedih, sakit hati kalo melihat mbak bahagia bersama Mas Bagas tapi kenyataan selalu menamparku untuk sadar. Aku gak tau apakah Mas Bagas benar-benar mencintai ku atau enggak yang jelas aku ingin bahagia. Tolong restui kami ya, mbak!" sambung Marni, memandangi potret Mey yang begitu cantik.
"Mas mencintai kamu, Marni!" bisik Bagas sambil memeluk Marni dari belakang. Marni tertegun kaget dengan perlakuan itu kemudian bibirnya tersenyum menoleh pada Bagas yang hanya memakai handuk.
__ADS_1
Bagas masih begitu tampan walau umurnya tidak lagi muda. Tubuhnya juga tidak gempal seperti bapak-bapak kebanyakan, mungkin ini karena Bagas suka sekali olahraga.
"Terimakasih, Mas!" ucap Marni. Keduanya larut dalam suasana pengantin baru.
...****************...
"Selamat pagi istri ku yang cantik," ucap Galang dengan suara khas bangun tidurnya.
"Buruan bangun, sayang! Ini udah siang loh," Shabita memgguncang tubuh Galang kembali.
"Aku masih nagntuk sayang," Galang menutup matanya lagi.
"Ini udah jam 7, males banget sih!" omel Shabita seraya menyingkap selimut pada tubuh Galang.
"10 menit lagi ya, sayang. Aku ngantuk banget, semalam kita kan maen sampe dinihari," sahut Galang.
"Udah jangan banyak alesan. Katanya kita mau bulan madu," cerocos Shabita.
"Gak usah bulan madu lah sayang, di rumah juga bisa kan?" Galang mempererat pelukannya pada guling.
"Ih masa gak jadi sih? Aku kan mau liburan," ucap Shabita sendu. Bukan bulan madunya yang dia nantikan tapi liburannya. Bibirnya sudah cemberut. Galang tentu saja kembali ngorok tanpa peduli istrinya misuh-misuh.
__ADS_1