Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Epispde 67


__ADS_3

"Sekali lagi, makasih ya kalian udah nolong gue." ucap Tiara tulus. Wajah gadis itu sembab akibat menangis, rambutnya terlihat semeraut. Kesan Tiara yang selalu tampil rapi telah runtuh.


"Iya sama-sama." Shabita mengulas senyumnya.


"Gue masuk dulu. Kalian hati-hati di jalan." pesan Tiara sebelum turun dari mobil Galang.


"Eh Tiara tunggu!" cegah Shabita. Tiara urung membuka pintu mobil.


"Hem, kamu disini tinggal sama siapa?" tanya Shabita.


Galang mengerutkan alis mendengar pertanyaan istrinya. Wajah datar Galang menatap lewat mirror center.


"Gue tinggal sendiri. Mama kerja di singapura, ikut temennya." tutur Tiara.


Shabita terlihat bingung. Dihatinya muncul kekhawatiran.


"Ada apa, sayang?" Galang melihat istrinya khawatir.


"Gimana nanti kalo mereka kesini nyari Tiara, bukannya itu bahaya?" timpal Shabita. Galang mengangguk. Tiara sendiri tegang seketika saat mendengar ucapan Shabita.


"Bener juga, ya." balas Galang.


"Hem, sayang, gimana kalo Tiara kita bawa dulu aja pulang, aku kok merasa khawatir ya kalo mereka tiba-tiba kesini lagi. Terlebih Tiara juga tinggal sendiri." Shabita mengungkapkan kegelisahan hatinya.

__ADS_1


"Eh gak usah, Abit. Gue pasti bisa jaga diri, kok." tolak Tiara, merasa tidak enak. Selama ini dia sudah membenci Shabita padahal Shabita sama sekali tidak pernah berbuat jahat padanya.


"Ide bagus." Galang mengangguk. Shabita benar, suatu waktu orang suruhan om Bian bisa memaksa Tiara kembali. Demi alasan kemanusiaan dan kasihan juga dengan Tiara, Galang membawa Tiara pulang ke rumahnya.


Tiara menolak berkali-kali tapi tetap pada akhirnya dia ikut juga dengan pasutri kencur.


Sesampainya di rumah, Tiara dibantu oleh mbak Marni menuju kamar juga membawakan Tiara baju ganti.


Melihat keharmonisan yang Galang dan Shabita lakukan, hati Tiara merasa sedikit teremas. Biar bagaimana pun Tiara sempat jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Galang namun sekarang Tiara akan membuang rasa itu. Dirinya cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan cinta Galang lagi.


...****************...


Pagi hari yang cerah secerah harapan menyapa para murid SMA Samudra yang akan merayakan hari ulang tahun sekolah.


Seperti yang sudah dijelaskan bahwa tema ulang tahun sekolah tahun ini adalah budaya indonesia. Galang dan Shabita memakai batik sama. Shabita memilih kebaya khas sunda sebagai atasannya.


Rangkaian acara sudah disusun rapi oleh panitia. Siangnya akan ada pentas seni dari para siswa sedangkan malam nanti ada hiburan dari para seniman daerah.


Acara diawali dengan upacara pembukaan. Selain para siswa, ada juga petinggi sekolah termasuk Bagas. Bagi orang tua sendiri tidak ada undangan khusus tetapi diperbolehkan ikut menyaksikan bagi yang ingin.


Berbagai pentas seni telah ditampilkan oleh para siswa. Hingga waktu telah menjelang sore, acara pun break sejenak dan akan dimulai lagi nanti malam.


Pasutri kencur tidak pulang, mereka memilih istirahat saja di sekolah bersama yang lain. Baju ganti mereka diantarkan oleh sopir.

__ADS_1


Setelah malam menjelang, acara dilanjutkan kembali. Shabita duduk bersama Hanin di kursi dekat panggung. Berkali-kali Shabita memijit pelipisnya yang terasa pusing. Kepalanya berasa berat. Pandangannya mulai kabur.


"Abit, kenapa?" tanya Hanin.


"Aku agak pusing, Nin." keluh Shabita.


"Ya udah yuks, lo istirahat aja ke UKS. Siapa tau nanti mendingan." usul Hanin. Shabita menurut, mungkin nanti akan lebih baik setelah istirahat.


"Aku bilang sama Galang dulu, ya." Shabita mengedar pandang mencari Galang.


"Nanti aja. Sebaiknya lo sekarang ke UKS biar nanti gue aja yang bilang sama Galang."


"Ya udah deh,"


"Yuks gue anter." Hanin memapah Shabita.


Gedung ruang UKS tidak jauh dari lapangan tetapi Hanin meminta Shabita untuk mengantarnya dulu ke toilet. Hanin takut kalau ke toilet sendiri.


Kedua gadis itu berjalan menuju toilet yang letaknya diujung koridor lantai bawah. Kesadaran Shabita mulai berkurang, dia mengikuti langkah kaki Hanin.


"Abit, lo tunggu dulu disini ya. Gue mau buang air dulu, sebentar doang." pamit Hanin lalu masuk ke dalam toilet.


Shabita tidak menyahut. Tubuhnya tiba-tiba ambruk begitu saja pada pangkuan seorang laki-laki. Dengan sangat hati-hati, laki-laki itu menggendong Shabita lewat pintu belakang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2