
Mobil Galang terparkir di sekolah. Galang segera merangkul istrinya yang masih menangis dengan mata terpejam.
"Maaf!" Galang mengusap punggung Shabita dengan sayang.
Kebodohan apa yang telah dirinya lakukan sampai membuat istrinya ketakutan.
Isak tangis Shabita masih terdengar sesegukan. Galang merasakan sakit karena telah membuat istrinya menangis.
"Maaf aku udah buat kamu nangis. Aku kelepasan!" tutur Galang lembut. Shabita belum merespon, hanya terdengar suara ingus yang diseka.
"Aku gak akan seperti ini lagi, aku janji!" Galang mengecup puncak kepala istrinya.
"Ke-kenapa kamu seperti itu?" tanya Shabita. Wanita itu mendongak menatap suaminya. Matanya masih terlihat berair. Ada ketakutan yang masih tersisa.
Galang menangkup kedua pipi istrinya. Ditatap balik wanita yang sangat ia sayangi ini.
"Aku gak mau kamu acuhkan terus, aku cemburu." ungkap Galang.
"Cemburu?" Shabita menaut alis.
"Iya. Kamu tadi ngasih love ke postingan si Rio di ige. Aku kira kamu udah unfollow dia." Galang cemberut.
"Aku sedari tadi nanya 'kamu kenapa' tapi kamu jawabnya 'gak papa' terus. Kalo kamu kesal sama aku perihal anak, aku gak maksa kamu kok. Aku nunggu kamu siapnya aja. Kamu jangan merasa masa muda mu hancur hanya karena anak. Tanpa anak sekarang pun masa muda kita udah tak sebebas dulu. Kita udah bukan pacaran lagi tapi menikah, segala sesuatu harus kita diskusikan baik-baik. Mana mungkin aku paham kalo kamu sendiri bungkam. Pernikahan bukan tentang aku atau kamu saja tapi kita." jelas Galang.
__ADS_1
Shabita menunduk merasa bersama. Sifatnya yang masih belum dewasa dengan keadaan membuat semuanya lepas kendali.
"Maaf, aku masih belum dewasa!" sahut Shabita.
"Kita sama-sama belum dewasa, tapi ayo kita sama-sama menuju kesana. Kita pahami sifat masing-masing dan kalo ada apa-apa kita diskusikan bersama supaya pernikahan kita langgeng. Memang tak ada pernikahan yang tak ada cobaannya, ingat satu hal sebesar apapun cobaan itu kalo kita sama-sama pasti bisa menghadapinya." tutur Galang.
"Iya, sekali lagi Maafin aku yang udah acuh sama kamu. Aku bukan gak ingin punya anak tapi belum siap sekarang." ucap Shabita sendu.
"Iya gak papa, sayang. Kita nikmati aja masa pacaran setelah menikah ini." Galang mengusap lembut pipi istrinya bekas air mata.
"Iya, makasih udah ngerti!" Shabita tersenyum kembali.
"Tadi aku inget kejadian kecelakaan papa makanya aku ketakutan pas kamu ngebut, aku bisa ngebayangin gimana ketakutannya mama saat mobil melaju kencang." adu Shabita.
Tanpa menjawab, Shabita meng-unfollow Rio dari semua sosmednya bahkan nomornya Rio diblokir.
"Udah aku hapus semua!" Shabita memperlihatkan HP nya.
"Terimakasih sayang ku!"
Pasutri kencur itu kembali akur. Mereka saling memeluk sayang.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Woy, jangan mesum di sekolah." Kevin menempelkan mukanya di jendela mobil Galang.
"Anjay si Kevin kalo ngomong gak pake filter!" umpat Galang. Si pelaku hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi.
Galang beringsut membuka pintu mobil, Kevin segera berlari karena tahu Galang akan menghajarnya.
"Wooy Chindo, jangan kabur lo!" Galang mengejar Kevin. Shabita cekikikan melihat keduanya saling kejar ditengah lapang.
"Ketahuan sekali kalo masa kecil mereka kurang bahagia. Ck Ck Ck!" celetuk Amir yang membuat Shabita kaget. Laki-laki keturunan timur tengah itu sudah berdiri di belakangnya sambil makan chiki.
"Amir, ngagetin aja!" Shabita mengelus dadanya.
"Gak usah kaget gitu, Abit. Gue tau kalo gue Tamvan!" ucap Amir dengan kepercayaan diri penuh. Memang tidak menampik, cyrcle pertemanan Galang berisi laki-laki tamvan.
"Percuma Tamvan kalo sampai sekarang masih jomblo!" ledek Shabita.
"Anjrot si Shabita kalo ngomong suka bener!" Amir memasukkan semua Chiki ke dalam mulutnya.
(Kira-kira kamu dibuat sequel tentang Kevin-Tiara, mau pada baca gak ya? hehe.
__ADS_1
Hatur Nuhun temen-temen udah setia nunggu up nya cerita ini, juga like nya makasih pisan 🥰)