Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 102


__ADS_3

"Selamat ya, bu. Menantunya positif hamil." ucap dokter kandungan wanita sambil tersenyum pada Marni dan Shabita setelah melihat hasil pemeriksaan.


"Alhamdulillah," sahut Marni, senang. Shabita masih bengong tidak percaya.


"Sayang, kamu hamil!" Marni memeluk Shabita yang belum memberikan respon apa pun.


"Hah?" pandangan Shabita hanya menerawang.


"Mama seneng banget, akhirnya mau punya cucu!" Marni terus saja tersenyum sambil mengguncang-guncang tangan Shabita.


"Hah aku hamil, ma?" tanya Shabita baru sadar dari keterkejutan.


"Iya, sayang. Kamu hamil cucu mama," Marni sampai menangis terharu.


"Tapi ma, aku masih kecil." sahut Shabita.


"Aku gak siap, ma. Galang udah janji gak akan hamilin aku dulu sebelum lulus, kita juga kalo maen pake pengaman kok, kenapa bisa hamil sih?" Shabita mulai panik. Dia belum siap dengan kabar kehamilan ini.


"Enggak, ma. Aku gak mau hamil!" teriak Shabita sambil memukul-mukul perutnya. Dia menangis.

__ADS_1


"Aku belum siap, ma!" Shabita meluapkan semuanya lewat tangisan.


"Tenang, sayang!" Marni memeluk Shabita yang menangis tersedu-sedu.


"Galang, jahat ma, dia udah hamilin aku. Dia pasti lupa pake pengaman," cerocos Shabita dalam pelukan Marni.


"Sttt, iya sayang, tenang ya. Nanti biar mama yang marahin Galang karena udah hamilin kamu." timpal Marni supaya Shabita tenang. Dokter yang melihat yang terkekeh. Dia paham karena umur Shabita masih dini, mentalnya juga belum stabil. Sebelumnya Marni sudah menjelaskan bahwa Shabita dan Galang sudah menikah agar tidak disangka aneh-aneh.


"Nanti bilang papa juga ya, ma, biar Galang dimarahin papa juga." Shabita masih terisak-isak.


"Iya sayang, nanti mama bilang papa juga, tenang ya. Gak boleh pukul-pukul perutnya lagi kayak tadi," tutur Marni. Shabita hanya mengangguk.


"Ma, gimana hasilnya?" tanya Bagas ketika melihat Marni dan Shabita menghampirinya di ruang tunggu UGD. Galang masih istirahat disana.


Marni hanya mengangguk sambil tersenyum. Shabita sendiri masih terlihat syok. Marni mengkode dengan gerakan bibir untuk tidak diam dulu.


"Nanti kita bahas di rumah aja ya," kata Marni. Bagas mencoba paham, terlebih melihat Shabita yang seperti tidak baik-baik saja.


"Galang, mana pa?" tanya Shabita.

__ADS_1


"Masih didalam, katanya tadi masih pusing makanya istirahat dulu sebentar." jawab Bagas.


"Mau ketemu Galang, sayang?" tanya Marni. Shabita menggeleng.


"Ya sudah biar papa aja yang ke dalam. Dokter bilang dia bisa pulang sekarang." imbuh Bagas. Dia langsung masuk menemui Galang.


Shabita duduk termenung, menerawang jauh ke depan. Apa yang akan dia lakukan setelah hamil? Bagaimana dia bisa sekolah jika hamil? Kalau perutnya besar orang-orang pasti akan curiga. Shabita belum siap dengan semua ini. Perlahan setetes air bening meluncur lagi dipipinya.


Marni beringsut memeluk Shabita, mengusap-ngusap dengan sayang.


"Ayo kita pulang!" ajak Bagas. Dia sudah bersama Galang.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Galang yang melihat istrinya diam saja. Shabita menggeleng pelan tanpa melihat Galang.


"Kamu sakit?" tanya Galang lagi. Laki-laki itu menatap istrinya dengan cemas namun Shabita tidak merespon.


"Udah ayo kita pulang dulu, nanti kita bicarakan di rumah." timpal Marni.


Galang menggenggam tangan Shabita yang terasa dingin. Perasaannya kian khawatir. Tiap ditanya Shabita tidak merespon. Ini tidak mungkin tidak ada apa-apa padahal tadi pagi Shabita begitu perhatian padanya, pikir Galang. Bahkan Shabita sampai menolak satu mobil dengan Galang yang membuat laki-laki itu tambah khawatir. Bagas berusaha menenangkan Galang dan menyuruhnya mengalah dulu. Akhirnya Galang bersama Bagas sedangkan Shabita bersama Marni.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Shabita hanya diam menatap ke arah jendela. Kabar kehamilan ini menurunkan mentalnya.


__ADS_2