
"Tolong, tolong!" Tiara berteriak minta tolong sambil terus berlari menghindari 3 laki-laki yang mengejarnya.
Suara Tiara sampai serak namun tidak ada yang menolongnya. Kaki Tiara pun sudah lecet akibat berlari tanpa alas.
Hap!
Salah satu laki-laki itu berhasil menangkap tangan Tiara. Langkah Tiara sudah melemah, tenaganya juga sudah terkuras.
"Heh mau kemana lagi kamu?" laki-laki 1 mencekal kedua tangan Tiara.
"Lepasin gue!" Tiara meronta-ronta.
"Diam!" bentak laki-laki 2.
"Nyusahin saja kamu." sentak laki-laki 1.
"Ayo kita bawa ke bos. Dia pasti sudah nunggu lama." ajak laki-laki 3.
"Gak mau, Lepasin gue. Gue mohon."Tiara memohon dengan derai air mata yang berjatuhan. Penampilan Tiara sudah acak-acakan.
"Ck, percuma lo mohon-mohon gitu, gak akan mempan buat kita." ketiga laki-laki itu tertawa.
"Ayo kita bawa!" seru laki-laki 2.
Tubuh Tiara yang ramping dipanggul bak karung beras diatas pundak kokoh laki-laki 1.
Beberapa langkah mereka berjalan, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Galang gegas turun, tidak mau ketinggalan Shabita pun ikut padahal sudah dilarang oleh Galang.
"Heh, Lepasin temen gue!" seru Galang.
__ADS_1
Tiara membelalak mendengar suara Galang. Tiara yang masih dalam pundak laki-laki satu menoleh ke arah Galang dan Shabita.
"Jangan ikut campur kalian bocah kencur." ledek laki-laki 2.
"Enak saja kalian bilang gue kencur, kalian tuh kemenyan." Galang tidak mau kalah meledek.
"S*alan. Lo pikir kita makanan jurig apa?" sentak laki-laki 3, tidak terima.
"Awas, sebaiknya kalian jangan ikut campur sebelum tubuh kalian yang masih sebesar toge itu babak belur."
"Galang tolongin gue, please!" teriak Tiara.
"Diam lo!" bentak laki-laki 1.
"Kalian berdua, beresin bocah ini, gue akan segera bawa nih cewek ke bos." titah laki-laki 1.
"Siap!" jawab laki-laki 2 dan 3.
Galang baku hantam dengan 2 orang sedangkan Shabita mengejar laki-laki 1 yang membawa Tiara.
Shabita memukul pundak laki-laki 1. Meleset sedikit bisa kena muka Tiara.
"Kurang asem, lo." Laki-laki 1 membalik badannya menghadap Shabita yang sudah siap bertarung.
Tubuh Tiara dilemparnya begitu saja ke area rerumputan dipinggir jalan. Dengan penuh emosi laki-laki 1 menyerah Shabita, tidak peduli cewek atau cowok.
Akhirnya pertarungan dimenangkan oleh pasutri kencur. Ketiga laki-laki tergeletak tidak berdaya.
Shabita memapah Tiara untuk memasuki mobil.
"Sayang, aku duduk dibelakang sama Tiara ya." izin Shabita. Galang mengangguk.
__ADS_1
Tubuh Tiara masih bergetar, menangis. Shabita mengelus lengan Tiara supaya tenang.
"Nih kasih minum dulu, sayang." Galang memberikan air mineral yang sudah dibuka segelnya.
"Tiara, minum dulu ya." Shabita membantu Tiara minum.
Galang melajukan mobilnya ke alamat yang sempat Tiara sebutkan tadi.
"Tenang, ya. Kamu udah baik-baik aja!" tutur Shabita. Tangannya mengusap lembut punggung Tiara.
Isak Tiara masih terdengar namun sudah mulai tenang. Tiara mengusap air matanya dengan tisu.
"Makasih kalian udah nolong, gue." Tiara menatap Shabita dan Galang bergantian.
"Sama-sama. Kita kan teman!" Shabita mengurai senyumnya. Tiara menunduk sejenak.
"Gue gak mau kepo urusan, lo. Tapi lebih baik sekarang lo tenang dulu." ucap Galang.
"Mereka adalah anak buah om Bian, salah satu korban penipuan bokap gue." jelas Tiara tanpa diminta.
"Om Bian bilang, semua hutang bokap gue bakalan hangus kalo gue mau jadi simpanannya tapi gue gak mau." air mata Tiara lolos lagi.
"Gue sempet dibawa ke mansion nya Om Bian tadi sore tapi gue berhasil kabur makanya sampe dikerjar-kejar." tutur Tiara.
Tiara menceritakan semuanya, mulai dari papa nya masuk penjara kemudian bunuh diri, lalu mereka harus jatuh miskin karena aset keluarganya disita. Tiara bilang, papa nya hanya jadi kambing hitam dalam kasus itu dan Tiara percaya kalau papa nya tidaklah bundir melainkan dibunuh.
Hati Shabita mencelos mendengar curhatan Tiara. Tidak disangka, Tiara yang bossy dan arogan di sekolah ternyata punya kehidupan yang buruk.
Mobil Galang belok ke sebuah gang kecil yang hanya bisa dimasuki oleh satu mobil saja. Tepat di depan rumah kontrakan, mobil Galang berhenti.
Sungguh Galang tidak menyangka, seorang Tiara yang biasa hidup mewah bisa hidup di tempat seperti ini.
__ADS_1
Roda kehidupan memang berputar, jangan sekali-kali bersikap congkak ketika berada diatas karena jika yang Punya sudah menghendaki lewat jalan apapun akan diputarkan ke bawah.
Tiara yang dulu sering arogan, sombong bahkan tak segan membully orang lemah sekarang tidak punya apa-apa. Dirinya sendiri takut akan karma makanya sampai saat ini kehidupannya yang sekarang tidak diketahui oleh yang lain.