
18 tahun yang lalu....
"Tolong, tolong jambret!" Meysara atau biasa disapa Mey berteriak meminta tolong karena seorang pemuda menjambret tasnya.
Mey sedang berada di parkiran indoapril, bermaksud untuk membeli sesuatu tetapi ketika sudah keluar mobil tiba-tiba seorang pemuda menyambar tasnya dengan secepat kilat.
"Tolong, tolong tas saya dijambret!" Mey berusaha mengejar jambret tersebut.
Herannya kenapa tidak ada yang mengikutinya mengejar jambret itu padahal ada beberapa orang disana.
Mey masih berusaha mengejar, langkahnya mulai melemah. Dari kejauhan Mey melihat jambret itu tersungkur ke aspal. Rupanya kepala si jambret ditimpuk dengan batu oleh seseorang.
Dengan gerakan cepat orang itu merebut tas Mey. Tak lupa wanita itu mendaratkan beberapa tendangan pada si jambret. Barulah orang-orang sekota ikut menghajar si jambret.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya wanita itu, siapa lagi kalo bukan Marni.
Mereka berkenalan lalu berbincang sebentar. Marni pamit karena ada urusan mendesak.
__ADS_1
Singkat cerita, tiga hari kemudian. Mey dan Bagas melakukan staycastion di salah satu hotel mewah.
Bagas dan Mey keluar kamar akan melakukan makan malam romantis tetapi pas dilorong dia melihat seorang wanita lari kearahnya sambil meminta pertolongan dengan pakaian yang sangat berantakan. Penampilan wanita itu begitu kusut, air mata mengalir begitu derasnya bahkan pipinya terlihat seperti habis dipukul.
"Marni?" pekik Mey.
"Tolong saya bu!" mohon Marni. Karena Mey merasa pernah ditolong Marni, inilah saatnya dia membalas kebaikan Marni. Mey membawa Marni masuk ke dalam kamarnya. Disana Marni bercerita apa yang menimpa dirinya. Dia berniat menjual diri demi mendapatkan uang untuk berobat bapaknya yang punya penyakit jantung. Gajinya sebagai seorang ART tidak cukup.
Saat akan melakukan pekerjaannya Marni menolak hingga membuat kliennya murka. Dia sempat mendapat kekerasan, beruntungnya bisa kabur.
Saat terjadi perdebatan mengenai anak yang sangat diinginkan Bagas, Mey mencetuskan sebuah ide yaitu menjadikan Marni sebagai ibu pengganti atau surrogate mother. Bagas jelas menolak mentah-mentah saran itu, menurutnya sebagai muslim masih sanksi mengenai hukumnya.
"Ya udah kalo Mas gak mau seperti itu, mas nikah aja sama Marni sampai Marni punya anak." saran Mey. Bagas tertegun sejenak dengan ide tersebut.
"Kita tawarkan uang dan berobat bapaknya ke singapura asal Marni mau menikah dan mengandung anak Mas." usul Mey lagi. Bagas masih terdiam.
Gejolak hatinya yang sangat menginginkan seorang anak sangat tinggi. Pernikahan mereka sudah berjalan 7 tahun.
__ADS_1
Mey sebenarnya dahulu bisa punya anak namun karena Mey sangat mencintai dunia modelingnya dia terus-terusan minum KB, hingga sebuah insiden kecelakaan yang mengakibatkan rahimnya diangkat. Jika saja waktu itu Mey tidak minum KB mungkin Bagas sudah punya anak.
Mey sangat merasa bersalah, Bagas sudah pasti kecewa setelah 6 tahun mereka menikah dan baru tahu kalau Mey sengaja mencegah anak itu hadir. Kini bak air segar yang menyegarkan dahaga Bagas, Marni datang ke keluarga mereka. Lebih bagusnya lagi Mey yang menyuruh Bagas menikah lagi.
Ada satu rahasia yang mereka sembunyikan dari keluarga yaitu keluarga mereka tidak tahu jika rahim Mey diangkat.
Bagas setuju untuk menikah dengan Marni. Bagaimana dengan Marni? Jawabannya sudah pasti setuju karena Bagas menjanjikan kesembuhan untuk bapaknya. Marni terpaksa tapi daripada menjual diri. Lantas mereka melakukan perjanjian hitam diatas putih, ditandatangani oleh ketiganya.
Mereka bertiga pindah ke singapura. Tidak lupa bapak Marni diajak untuk berobat kesana, setelah sembuh baru dipulangkan kembali.
Bapak Marni jelas tahu pernikahan anaknya demi kesembuhan dirinya.
Sebulan setelah menikah, Marni mengandung. Bagas sangat bahagia begitu pun dengan Mey. Mereka mengabarkan pada keluarga yang di Indonesia bahwa Mey lah yang mengandung.
Bagas tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang suami setelah Marni hamil. Baginya cukup dengan memberi banyak uang dan meratukan Marni saja. Dihati Bagas sama sekali tidak ada cinta untuk Marni, hanya ingin anak saja.
Selama hamil Marni benar-benar diragukan tetapi tidak mendapat kasih sayang dari suami. Sesekali Bagas mampir ke unit apartemen Marni hanya Sekedar menyapa anaknya tanpa memperdulikan Marni.
__ADS_1