Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 95


__ADS_3

Kedatangan keluarga Bagas disambut oleh tabuhan rebana, petasan, kembang api sampai sorakan nyinyiran tetangga melihat jejeran mobil mewah. Iring-iringan mobil Bagas hanya 4 mobil tetapi membuat siapa saja melongo karena baru kali ini ada mobil seperti itu masuk kampung Marni.


"Widih rame juga ya," seru Amir. Dia meminta sopir untuk membuka sunroof.


Dengan penuh percaya dirinya, Amir berdiri sambil dadah dadah pada warga yang menyambut.


"Terimakasih, terimakasih, kalian luar biasa!" sesekali Amir melakukan flying kiss sampai membuat beberapa gadis salah tingkah.


"Aduh si aa teh meni ganteng pisan!" pekik salah seorang gadis. Amir memakai kacamata hitamnya supaya menambah kadar ketampanan.


"Ih meni kayak orang Arab gitu ya," timpal Gadis lain. Mereka melihat Amir bagai pangeran berkuda dari negeri dongeng. Kalau saja Amir bisa mendengar celotehan para gadis itu tentu dia akan semakin kalap tingkat percaya dirinya.


"Amir, turun. Norak lo!" Kevin menarik celana Amir.


"Ish bentar, gue lagi TP TP dulu." Amir menepis tangan Kevin. Laki-laki keturunan Arab itu terus tersenyum ramah. Kevin memutar bola matanya jengah.


"Jangan bikin Om Bagas malu, Onta." omel Kevin.


"Om Bagas gak akan malu, justru dia bakalan bangga sama gue!" tukas Amir.

__ADS_1


"Turun buruan, bentar lagi kita sampai di rumahnya tante Marni, disono lo puas-puasin dah tuh sama gadis sini. Serah lo mau ngapain juga," cerocos Kevin kesal. Amir kembali duduk bersama Kevin tapi tetep jendela mobilnya dia buka.


Bagas disambut hangat oleh bapak Marni. Mereka semua diarahkan untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


Shabita mengapit erat tangan suaminya. Disana banyak sekali gadis-gadis cantik, takut-takut ada yang godain Galang.


Acara lamaran dimulai. Marni tampil memakai kebaya berwarna nude senada dengan Bagas juga anak-mantunya. Jangan tanya gimana cantiknya dia. Cukup bayangkan saja. Satu lagi, Marni yang biasanya tidak pakai hijab, sekarang memakainya. Menambah pesona seorang Marni yang membuat hati Bagaskhara Van Smith semakin klepek-klepek. Matanya tidak berkedip sedari melihat Marni keluar. Padahal umur Marni sudah 40 lebih tapi dia masih seperti anak gadis remaja.


"Papa awas matanya lompat!" bisik Galang menggoda Bagas.


"Diem, Lang. Papa sedang mengagumi salah satu ciptaan Tuhan!" sahut Bagas tanpa menoleh.


"Euleh, eta calonnya si Marni? Ganteng gitu ya," puji ibu-ibu yang hadir dalam acara.


"Aku kira teh sudah kolot bangkotan, padahal mah masih muda." timpal ibu lain.


"Eh tapi itu saha nya? Bajunya sama gitu sama calon si Marni? Anaknya gitu?" tanya ibu lain.


"Iya anaknya mungkin, kasep geulis gitu ya anaknya!"

__ADS_1


Dimana ada pujian disitu pula ada yang sirikan. Semuanya Marni buktikan tanpa harus melawan ocehan mereka.


Sebelum dilanjut makan, mereka semua melakukan sesi foto. Kali ini Marni dikenalkan pada adik satu-satunya Bagas.


"Kenalin, ini adik, Mas!" ucap Bagas pada Marni.


"Aku Biantara Van Smith, adiknya Mas Bagas, Mbak!" Bian mengulurkan tangannya pada Marni.


"Marni!" Marni menyambutnya dengan hangat. Wajah Bian dan Bagas sangat mirip, mungkin Bian adalah Bagas versi muda. Saat ini Bian tidak mempunyai istri karena sudah bercerai.


Selesai acara, keluarga Bagas pamit pulang ke sebuah villa yang sudah dibooking olehnya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah Marni. Besok mereka akan kembali lagi untuk melangsungkan pernikahan. Sebenarnya bisa saja mereka langsung menikah tanpa acara lamaran namun Bagas ingin hal berkesan untuk ibu anaknya.


"Padahal tadi gue masih betah disana, malah balik kesini!" keluh Amir saat mobil mereka sampai dipelataran villa.


"B*ngke banget emang lo, tadi gue cariin sampe pusing tau-taunya lagi TP sama gadis-gadis." omel Kevin.


"Emang nih si Amir bisanya TP tapi gak pernah ada yang berhasil," ledek Galang.


"Kali ini gue pasti berhasil, liat aja nanti. Gue bakal boyong satu gadis, eh dua gadis deh, tiga mungkin ya, empat aja biar sesuai sunah!" cerocos Amir.

__ADS_1


"Ngomong nih lo sama batu," Kevin memungut satu kerikil lalu meletakannya pada telapak tangan Amir. Kemudian, Galang, Shabita dan Kevin meninggalkan Amir.


__ADS_2