
Di rumah mewah milik keluarga Galang. Hari ini Bagas tidak masuk kantor dikarenakan sakit.
"Pak, kalo butuh apa-apa panggil saya aja, ya." ucap Marni seraya menyelimuti Bagas.
"Iya, Marni." sahut Bagas dengan suara lemah.
Bagas menolak untuk dibawa ke rumah sakit, hanya dokter pribadi saja yang dipanggil ke rumah. Kondisi Bagas hanya kecapean dan butuh istirahat.
"Marni!" panggil Bagas lirih.
Marni yang akan melangkah keluar kamar menghentikan langkahnya.
"Iya, pak." sahut Marni sopan.
"Kenapa kamu belum menikah?" tanya Bagas.
"Em gak papa, pak. Saya hanya belum siap." Marni menunduk.
"Belum siap kenapa Marni?" selidik Bagas.
"Gak, papa, pak. Saya permisi dulu." pamit Marni.
"Apa kamu belum siap meninggalkan, Galang?"
Deg!
Jantung Marni berdebar begitu kencang. Kakinya mendadak kaku untuk digerakkan. Bibirnya kelu hanya sekedar menjawab pertanyaan Bagas. Marni tidak tahu harus menjawab apa.
...****************...
"Lang, emang lo gak kasian apa sama kita yang jomblo?" tanya Kevin yang melihat Galang disuapi oleh Shabita.
"Enggak. Gue malah suka manas-manasin lo berdua." timpal Galang acuh.
__ADS_1
Entah sedari kapan Galang sangat suka sekali disuapi dan manja pada istrinya.
"Vin, yuks kita cari pacar." ajak Amir.
"Nyari kemana, geblek?" sahut Kevin.
"Ya kemana kek, yang penting kita gak jomblo lagi." ungkap Amir seperti yang putus asa.
"Ogah gue, apalagi sembarang comot. Tapi gue punya ingetan satu. Anak kelas 10." tukas Kevin.
"Serius, lo?" tanya Galang dan Amir.
"Serius. Tapi sayang gue sama dia cuma se-amin tidak se-iman." sendu Kevin.
"Kok, lo baru cerita sih sama kita?" sewot Galang.
"Lo nya sibuk bucin-bucinan sedangkan si anak Onta ini sibuk meratapi nasib." timpal Kevin.
"Anjrot, bakso gue." teriak Kevin.
"Sorry sorry gue gak sengaja." Amir menahan ketawanya.
"Sayang, aaaa lagi." pinta Galang yang acuh dengan pertengkaran kedua sahabatnya perihal bakso.
"Makan yang banyak ya, biar kamu kuat." Shabita kembali memasukkan nasi goreng ke mulut Galang. Shabita sendiri makan batagor.
Hari yang lumayan melelahkan itu sudah Galang lalui. Kini Galang sedang berada di kamar Bagas.
"Papa udah makan?" tanya Galang, menghampiri Bagas yang sedang duduk santai di sofa kamar. Kesehatan Bagas sudah membaik.
"Sudah. Kamu dan Shabita sudah makan malam?" Bagas balik bertanya.
"Sudah, Pa. Shabita malah sekarang lagi nyemil lagi sambil nonton tv." jelas Galang. Kedua laki-laki beda generasi dan sama-sama tampan itu duduk sebelahan di sofa.
__ADS_1
"Syukurlah, Shabita tidak berlarut-larut dengan orang tuanya." tukas Bagas.
"Oh iya, aku juga kesini mau menanyakan perihal kecelakaan papa Yudha. Apa sudah ada kemajuan kasusnya?"
"Polisi belum menemukan bukti apa-apa selain remnya blong tapi katanya itu mencurigakan. Seoerti sabotase, sejauh ini papa masih pantau terus. Tapi kamu jangan bicara apa-apa dulu ya sama Shabita sebelum kita menemukan faktanya." pesan Bagas.
"Baik, Pa." Galang mengangguk.
"Papa sebaiknya istirahat, kondisi papa juga belum stabil." imbuh Galang lagi.
"Papa udah sehat, Lang." sergah Bagas.
"Papa masih sakit. Wajah papa juga masih pucat." Galang menempelkan punggung tangannya pada dahi Bagas.
"Nanti papa minum obat lagi sebelum tidur." sahut Bagas.
"Baiklah. Papa harus sehat terus sampai Galang lulus dan bisa gantiin papa kerja. Galang gak mau papa sampai lupa waktu. Pokoknya papa harus membatasi waktu kerja." cerocos Galang.
"Iya, bawel." Bagas terkekeh mendengar anaknya seperti sekarang.
"Oh iya, kalo bisa lebih baik papa nikah lagi saja. Sekalian biar kalo tidur ada yang ngelonin." goda Galang.
"Hahaha, ada-ada saja kamu." Bagas tertawa.
"Galang, serius, Pa. Pokoknya Galang dan Shabita akan mencarikan papa istri baru." ucap Galang mantap dengan usul istrinya.
"Eh enggak." tolak Bagas.
"Gak boleh nolak, titik." tegas Galang kemudian pergi meninggalkan Bagas yang misuh-misuh.
"Oh iya, kan biar Galang punya adik, Pa." Galang menongolkan kepalanya lagi di pintu kamar Bagas sambil cengengesan.
Bagas mengusap wajahnya. Dalam benak Bagas muncul orang yang pernah ada dimasa lalu.
__ADS_1