
"Mana kucingnya?" tanya Gerry dengan polos.
Shabita sedikit paham dengan sindiran Galang karena di rumahnya tidak ada kucing sama sekali.
"Noh di sofa!" balas Galang seraya pergi menuju lantai atas.
Shabita menatap kepergian suaminya dengan heran.
'Dia kenapa sih?' batin Shabita.
Gerry malah celingukan mencari kucing pacaran yang dimaksud oleh Galang.
"Spy, kamu pelihara kucing ya? Dimana?" tanya Gerry karena matanya belum juga menemukan sang kucing.
"Hem udah keluar!" jawab Shabita.
"Huh padahal aku mau liat kucing pacaran!" ceplos Gerry sambil menyenderkan diri di sofa.
"Dah lah gak usah bahas kucing!" Shabita berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya, gak penting banget kan? hehehe." seringai Gerry.
"Oh iya, gimana sekolah kamu disana?" tanya Gerry.
"Sekolah ku baik-baik aja!"
"Ada yang jahatin kamu gak?"
"Mana ada yang berani jahatin aku!" Shabita menjawabnya sambil mengibas-ngibas rambut.
__ADS_1
"Hahaha dasar kamu ya!" Gerry mencubit gemas pipi Shabita.
"Nih, cuma kamu yang berani jahatin aku kaya gini!" Shabita mengusap pipinya dengan bibir cemberut.
"Plis gak usah cemberut gitu. Tambah jelek!" ledek Gerry terkekeh.
"Tapi kamu suka, kan?" Shabita menaik turunkan alisnya.
"Suka banget!" Gerry tersenyum.
"Hahah ya iyalah harus suka. Kalo enggak, aku Slepet jidat kamu!" Shabita menyelepet jidat Gerry.
"Ih kebiasaan ya dari dulu gitu terus!" rajuk Gerry mengusap jidatnya.
"Hahhaa!" Shabita tertawa terbahak-bahak seolah melepaskan semua kesedihannya.
Yang paling membuat hati Galang tambah sakit itu ketika melihat Shabita bisa tertawa dengan orang lain sedangkan bersamanya belum pernah.
Galang kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk.
Galang memutuskan untuk kembali ke jakarta sekarang. Karena Galang tidak membawa barang apapun jadi dia bebas berkemas.
"Nanti bilangin ke papa gue kalo gue pulang duluan ke Jakarta!" suara Galang menghentikan perbincangan Shabita dengan Gerry.
Shabita menoleh ke arah Galang yang berdiri memasukan tangannya ke saku.
"kenapa?" tanya Shabita bingung.
"Gak papa. Gue lagi pengen naek kereta aja!" kelit Galang.
__ADS_1
"Tapi kan nanti siang kita juga akan balik ke Jakarta, Lang. Kenapa gak bareng aja sih?" tawar Shabita.
"Gue bilang, gue pengen balik sendiri naek kereta!" bentak Galang tanpa sadar.
Shabita kaget dibentak Galang.
"Wey, selow dong gak usah bentak-bentak cewek begini!" Gerry menatap tidak suka pada Galang.
"Gak usah ikut campur!" Galang melenggang pergi tanpa menghiraukan istrinya yang sedang bingung.
"Galang!" panggil Shabita.
Shabita hendak berlari menyusul Galang tapi tangannya dicegah oleh Gerry.
"Gak usah pedulikan teman seperti itu, Spy!" ucap Gerry.
"Tapi, Ger...."
"Dia udah berani bentak kamu itu artinya dia bukan teman yang baik buat kamu!" tutur Gerry.
Shabita tampak bimbang. Raut wajahnya khawatir dengan Galang yang akan pulang sendiri ke jakarta tapi ucapan Gerry ada benarnya kalau Galang bukan teman yang baik untuknya. Namun lagi-lagi Shabita lupa jika Galang adalah suaminya.
Di halaman rumah Shabita, Galang menatap nanar ke arah pintu utama. Senyum getir Galang terbit.
"Gue bodoh kalo sampe ngarepin dia buat nyusul atau nyegah gue pergi!" gumam Galang.
Dirinya benar-benar merasa bodoh karena Galang mengira Shabita akan mencegahnya.
Galang melangkah kakinya keluar dari rumah megah Shabita dengan perasaan kecewa.
__ADS_1