
"Sayang, apa kamu bahagia ternyata mama kamu masih ada?" pasutri kencur itu sedang bermanja ria dibawah selimut.
"Aku bahagia. Sangat sangat bahagia!" Galang memainkan poni Shabita yang ada dalam dekapannya.
"Tapi aku kasian sama mama Marni, sayang. Selama ini dia tersiksa karena tidak bisa menyentuh mu secara bebas." tutur Shabita.
"Iya, tapi aku juga gak bisa salahin papa sepenuhnya. Mereka melakukan itu tanpa paksaan." timpa Galang.
"Aku harap kalian akan selalu bahagia dan tidak terpisah satu sama lain."
"Kamu juga termasuk sayang, kita harus bahagia bersama." ucap Galang.
"I love you, suami!"
"I love you too, istri!"
Keduanya tersenyum bahagia. Mereka berharap pernikahannya kekal sampai hanya maut yang memisahkan.
...****************...
Jam istirahat SMA Samudra, Shabita dan Tiara duduk santai di taman. Keduanya sedang belajar bersama karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Para cowok sedang ada rapat OSIS mengenai acara ulang tahun sekolah yang sudah lalu.
Semenjak Tiara di jauhin oleh gengnya, dia bergabung dengan Shabita. Lebih tepatnya diajak. Shabita dan Tiara sama-sama tidak punya teman jadi merasa mereka senasib.
"Abit, itu Rio!" Tiara menunjuk Rio yang sedang duduk juga di taman.
__ADS_1
"Udah biarin aja," ucap Shabita acuh.
Galang benar-benar melarang Shabita dekat dengan Rio lagi, dan anehnya Rio juga menjauhi Shabita. Justru itu semakin bagus karena Shabita tidak usah repot-repot.
"Sebentar lagi kita kelas 12, gak kerasa banget!" tutur Tiara. Mata keduanya masih fokus membaca buku pelajaran.
"Iya, rasanya baru kemaren kesini." timpal Shabita.
"Ck, kan lo emang baru pindah kesini!" decak Tiara.
"Hehe iya, makanya masih baru!" Shabita terkekeh.
"Liburan sekolah nanti lo sama Galang mau kemana?" kepo Tiara.
"Mau ke kampungnya mama Galang, sekalian lamaran dan nikahan." jelas Shabita.
"Emang dimana kampungnya mertua lo?"
"Di Ciamis!"
"Loh, bukannya tante Mey orang sini asli ya?" Tiara heran.
Shabita menutup bukunya sebelum menjawab. "Bukan ke kampungnya mama Mey tapi ke kampungnya mama kandung Galang!" jelas Shabita.
"Maksudnya?" Tiara masih belum paham. Gadis itu beringsut mendekat merapatkan tubuhnya dengan Shabita.
__ADS_1
"Aku ceritain tapi kamu jangan ember ya, awas aja kalo ember!" ancam Shabita. Tiara mengangguk antusias. Dia yang dulu bukan dia yang sekarang.
"Jadi Galang itu bukan anak kandungnya mama Mey tapi anak wanita lain yang dinikahi papa Bagas. Galang aja baru tau kemaren. Nah rencananya papa mau nikah lagi sama mama, begitu!" ungkap Shabita.
"Oh, pantesan Galang gak mirip sama tante Mey, ternyata bukan anaknya. Tapi kok bisa?" kepo Tiara.
"Ah pokoknya begitu lah. Nanti aku akan liburan di kampung, Yeeaayyy!" sorak Shabita.
"Em ikut bahagia deh." ucap Tiara tersenyum.
"Kalo kamu mau ikut, ayo. Galang juga berencana mengajak Kevin dan Amir biar bisa liburan bareng!" ajak Shabita.
"Gimana nanti aja deh,"
"Loh, kok gitu? Gak usah merasa gak enak, kita kan udah bestie!" Shabita mengedip-ngedipkan matanya.
"Ih lo kaya yang cacingan tau kayak gitu!" ledek Tiara. Keduanya tertawa.
"Tapi kamu mau kemana libur nanti kalo gak ikut sama kita?" selidik Shabita. Tiara diam sejenak.
"Gue disini aja deh, kalo gak ikut kalian." kata Tiara.
Ada satu hal yang ingin Tiara sampaikan tetapi nanti saja kalau waktunya sudah dekat.
"Hem, aku sih berharap kamu ikut, biar makin seru!" harap Shabita.
__ADS_1
'Maafin gue, Abit!' batin Tiara.