Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 105


__ADS_3

"Sayang, kamu beneran udah mau home schooling aja?" tanya Galang sambil menatap istrinya yang sedang memasang dasi sekolah. Hari ini sekolah sudah mulai masuk.


"Iya, aku mau home schooling aja. Lagian di sekolah juga aku gak punya temen cewek kan?!" tangannya merapikan seragam Galang.


"Nanti kamu bosen di rumah terus," ucap Galang.


"Enggak, kan ada mama. Aku bisa kemana aja sama mama," Shabita tersenyum. Keputusannya sudah bulat untuk home schooling. Toh sama saja kan, bisa belajar juga.


"Ya udah, nanti biar papa aja yang urus semuanya."


"Dih ngandelin papa mulu deh," ledek Shabita.


"Ya iya, kan the power of papa. Kalo aku yang urus nanti pada curiga, sama papa mana ada yang berani." Galang tersenyum bangga.


"Iya iya terserah kalian aja, aku manut aja apa kata papa anak ku," Shabita tersenyum malu.


"Eh apa barusan?" goda Galang.


"Enggak. Udah ah kita sarapan dulu mumpung kamu belum mual-mual," kekeh Shabita.


"Tadi subuh udah keluar semua loh, sayang. Jangan sampe deh keluar lagi, bisa gak ada tenaga nanti." harap Galang.


"Iya nanti minum vitamin juga sekalian,"


"Iya bawel," Galang mencium kening istrinya.


Semua sudah berjalan dengan semestinya lagi. Shabita mulai mempersiapkan diri menerima takdirnya, dia tidak akan egois lagi.

__ADS_1


Keduanya lantas berjalan bersama sambil bersenda gurau menuju ruang makan. Disana sudah ada orang tuannya.


"Masih mual, Lang?" tanya Marni. Tangan wanita itu cekatan mempersiapkan sarapan untuk Bagas. Shabita juga tidak lupa menyiapkan sarapan untuk Galang.


"Masih, ma. Tadi subuh kayak biasa tapi sekarang lagi enggak, mudah-mudahan jangan dulu deh." harap Galang.


Harapan tak sesuai kenyataan, baru juga tiga suapan, Galang sudah merasa mual lagi dan tidak melanjutkan makannya sampai berangkat sekolah pun diantarkan oleh sopir, saking lemesnya.


Di sekolah, Galang beraktivitas seperti biasa karena mualnya sudah hilang setelah minum vitamin.


"Lang, Shabita kenapa home schooling?" tanya Amir.


Mereka bertiga saat ini sedang duduk santai di ruang OSIS.


"Kepo lo," timpal Galang.


"Iyee," sahut Galang.


"Wanjayyy si Galang sudah jadi bapack-bapack dong," heboh Amir.


"Jangan berisik onta!" tegur Kevin sambil melayangkan botol bekas minuman ke arah Amir.


"Akhirnya gue jadi uncle," ucap Amir.


"Udah diem, jangan bahas itu disini." tegur Galang.


"Iyee, mangap." sahut Amir.

__ADS_1


"Ya udah lo beliin gue batagor depan sekolah sono!" titah Galang pada Amir.


"Idih ogah banget," tolak Amir.


"Ini gue ngidam, buruan!" paksa Galang pada Amir sambil melotot.


"Apa hubungannya lo ngidam sama gue?" Amir menautkan alisnya.


"Anak gue mau dibeliin batagor sama lo, Onta!" tegas Galang.


Galang tidak berhenti merengek meminta dibelikan batagor, dengan sangat terpaksa Amir menurutinya.


...****************...


2 bulan kemudian, kebahagian keluarga Bagas bertambah dengan kabar kehamilan Marni. Galang punya adik dan anak dalam waktu yang berdekatan.


Setiap hari dua laki-laki dibuat sibuk dengan permintaan ngidam para istri. Belum lagi couvade syndrom Galang yang masih berlanjut cuma tidak separah diawal. Beruntung Bagas tidak mengalaminya hanya Marni yang berkali-kali lipat lebih manja.


Suatu malam, dua lelaki itu diminta untuk mencari buah kecapi langsung dari pohonnya. Permintaan itu bermula dari para istri yang menton acara TV terus ada scene mukbang buah-buahan langka, jadilah mereka dibuat ngiler bersamaan.


Demi istri dan anak, mereka rela keliling perkampungan warga mencari pohon kecapi yang berbuah. Sekalinya ada pohonnya tinggi banget.


Saat Bagas akan meminta tolong pada orang untuk memetik buah kecapi itu, tiba-tiba Marni menelpon. Katanya harus dipetik langsung oleh mereka. Galang dan Bagas dibuat frustasi dibawah pohon kecapi. Dengan bantuan tangga dan galah milik warga mereka berhasil memetik buah kecapi. Tidak lupa orang yang punya kecapi pun ikut membantu. Bagas memberikan uang padanya.


Galang sampai digigit semut rangrang karena salah petik akibat pencahayaan yang kurang. Dikira buah padahal sarang semut. Alhasil tangannya merah-merah.


Keduanya pulang dengan satu kresek buah kecapi. Beruntung setiap apapun yang dipinta oleh istrinya, selalu dimakan sampai habis sebagai bentuk menghargai usaha para suami.

__ADS_1


Galang dan Bagas menjadi suami siaga, kapan saja istrinya mau mereka selalu siap supaya anaknya tidak ileran.


__ADS_2